"Perselingkuhan emosional adalah tindakan menjalin ikatan yang bermakna dengan orang lain selain pasanganmu, dengan cara yang menghalangi pasanganmu untuk memiliki kedekatan emosional yang mendalam dengan kamu. Perselingkuhan emosional merusak hubungan karena hal ini berkaitan dengan 'koneksi'-sesuatu yang memang didambakan setiap orang," kata psikolog klinis Dr. Dale Atkins dalam wawancaranya bersama TODAY.
Apakah Punya Teman Dekat Lawan Jenis Bisa Jadi Bentuk Selingkuh?

Punya teman dekat lawan jenis saat sedang menjalin hubungan bukanlah hal yang otomatis salah. Pertemanan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang, termasuk untuk berbagi cerita, mendapatkan dukungan, atau menikmati hobi bersama. Namun, kedekatan tersebut bisa menimbulkan pertanyaan ketika mulai melibatkan rahasia, keintiman emosional, atau perilaku yang membuat pasangan merasa dikesampingkan.
Lalu, kapan kedekatan dengan teman bisa dianggap sudah melewati batas? Jawabannya tidak sesederhana seberapa sering mereka bertemu.
1. Teman dekat lawan jenis tidak otomatis berarti selingkuh

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Trinity Kubassek) Pertemanan dengan lawan jenis bisa tetap sehat meskipun seseorang sudah memiliki pasangan. Teman dekat dapat menjadi tempat bertukar pikiran, berdiskusi soal pekerjaan, atau mendapatkan perspektif yang berbeda. Kedekatan emosional sendiri bukan bukti bahwa seseorang sedang berselingkuh.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hubungan tersebut mulai menggeser komitmen yang sudah dibangun bersama pasangan. Misalnya, seseorang lebih memilih mencurahkan seluruh masalah intim kepada temannya, menyembunyikan interaksi tertentu, atau mulai membangun hubungan yang secara emosional menyerupai hubungan romantis.
2. Kenali perbedaan pertemanan dan perselingkuhan emosional

ilustrasi selingkuh (vecteezy.com/bestyy38105321) Perselingkuhan tidak selalu melibatkan kontak fisik. Dalam hubungan tertentu, pelanggaran kepercayaan juga dapat muncul ketika seseorang membangun kedekatan emosional yang intens dengan orang lain, terutama jika hubungan itu mulai mengambil ruang yang seharusnya menjadi bagian dari komitmen bersama pasangan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain adanya ketertarikan romantis, fantasi tentang teman tersebut, komunikasi yang sengaja dirahasiakan, atau keinginan untuk lebih dekat secara eksklusif. Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk langsung menyimpulkan bahwa seseorang berselingkuh. Konteks dan kesepakatan hubungan tetap penting.
"Perselingkuhan emosional melampaui batas persahabatan ketika kamu menyadari adanya chemistry dengan orang tersebut, adanya ketertarikan fisik, serta saat kamu terus-menerus memikirkan atau berfantasi tentang orang itu secara romantis maupun seksual. Saat itulah hubungan tersebut melewati batas persahabatan dan masuk ke ranah perselingkuhan emosional," jelas Dr. Nabilah Childs, psikiater yang diwawancarai Cleveland Clinic.
3. Rahasia dan kebohongan bisa menjadi sinyal batas yang bermasalah

ilustrasi selingkuh (unsplash.com/Vitaly Gariev) Salah satu hal yang membedakan pertemanan sehat dengan kedekatan yang berpotensi mengganggu hubungan adalah tingkat keterbukaan. Jika seseorang merasa harus menghapus chat, menyembunyikan pertemuan, berbohong soal intensitas komunikasi, atau sengaja tidak memberi tahu pasangan tentang kedekatan tertentu, masalahnya bukan lagi sekadar punya teman lawan jenis.
Meski begitu, keterbukaan bukan berarti pasangan berhak mengakses seluruh akun, membaca semua pesan, atau mengawasi setiap interaksi. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan privasi individual. Yang perlu dibangun adalah kejujuran dan kesepakatan, bukan kontrol berlebihan.
"Jangan menyembunyikan aktivitasmu bersama teman dari pasangan. Menyembunyikan informasi penting sama saja dengan berbohong; ketika kamu mulai merahasiakan perilaku kamu dari pasangan, kamu sedang melakukan tindakan tipu daya yang bertujuan untuk mengendalikan persepsi pasangan kamu," kata psikolog klinis Jennice Vilhauer, PhD, dalam Psychology Today.
4. Batasan hubungan harus dibicarakan, bukan diasumsikan

ilustrasi selingkuh (vecteezy.com/nuttawan jayawan) Setiap pasangan bisa memiliki pandangan berbeda tentang kedekatan dengan lawan jenis. Ada yang nyaman jika pasangannya memiliki sahabat dekat, termasuk tempat berbagi cerita pribadi. Ada pula yang merasa tidak nyaman dengan komunikasi intens pada malam hari, pertemuan berdua yang terlalu sering, atau candaan bernuansa romantis.
Perbedaan ini tidak selalu berarti salah satu pihak terlalu cemburu atau pihak lainnya pasti tidak setia. Bisa jadi, keduanya memang memiliki definisi berbeda tentang batas hubungan. Karena itu, penting untuk membicarakan hal-hal yang dianggap wajar, tidak nyaman, dan berpotensi melukai kepercayaan.
5. Cara menjaga pertemanan tanpa mengorbankan hubungan

ilustrasi selingkuh emosional lebih menyakitkan dibandingkan selingkuh fisik (pexels.com/cottonbro studio) Memiliki teman dekat lawan jenis tetap bisa berjalan beriringan dengan hubungan romantis, selama ada rasa hormat terhadap pasangan dan batasan yang disepakati. Misalnya, memperkenalkan teman kepada pasangan jika situasinya memungkinkan, tidak menjadikan teman sebagai 'pasangan cadangan', serta menghindari perilaku yang sengaja memicu kecemburuan atau menyamarkan ketertarikan romantis sebagai pertemanan.
Jika pasangan merasa tidak nyaman, respons yang membantu bukan langsung menyebutnya posesif, atau sebaliknya menuntut pemutusan pertemanan tanpa pembicaraan. Cobalah mencari tahu perilaku apa yang memicu rasa tidak aman, apakah ada pengalaman masa lalu yang memengaruhi kekhawatiran, dan batasan seperti apa yang bisa diterima kedua pihak.
"Ketika pasangan kamu keberatan dengan adanya persahabatan dengan lawan jenis, adalah suatu kekeliruan jika menganggap hal itu semata-mata sebagai kecemburuan akibat rasa tidak percaya diri. Pasangan yang memiliki harga diri tinggi tidak akan menoleransi persahabatan dengan lawan jenis yang tidak dikelola dengan baik. Hal ini biasanya mencerminkan kecerdasan emosional serta pemahaman mereka mengenai apa yang diperlukan untuk menjaga keutuhan hubungan yang intim," jelas Dr. Jennice.
Jadi, punya teman dekat lawan jenis tidak otomatis dapat disebut selingkuh. Yang lebih menentukan adalah apakah kedekatan itu tetap menghormati komitmen, dijalani secara jujur, dan tidak menggantikan atau merusak hubungan utama secara diam-diam.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























