Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Terlalu Banyak Bukber Bisa Memicu Social Burnout?
ilustrasi bukber (pexels.com/David Tumpal)
  • Jadwal bukber yang terlalu padat bisa menguras energi fisik dan mental.

  • Rasa sungkan menolak undangan membuat orang hadir meski sudah lelah.

  • Pengeluaran dan percakapan berulang dapat menambah beban hingga memicu social burnout.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buka bersama (bukber) sering dianggap momen menyenangkan karena menjadi kesempatan bertemu teman lama, memperluas pergaulan, sekaligus menikmati suasana Ramadan yang hangat. Namun, ketika jadwal bukber terlalu padat hingga hampir setiap hari terisi undangan, sebagian orang mulai merasakan kelelahan yang bukan sekadar fisik, melainkan juga mental. Kondisi ini kerap disebut social burnout.

Social burnout berarti rasa lelah akibat terlalu banyak menghadiri kegiatan pertemuan dalam waktu berdekatan sehingga energi terkuras tanpa disadari. Berikut beberapa hal yang menjelaskan bagaimana hal tersebut bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Simak sampai akhir!

1. Jadwal bukber yang padat mengurangi waktu istirahat pribadi

ilustrasi bukber (pexels.com/PNW Production)

Undangan bukber yang datang bertubi-tubi sering membuat waktu sore hingga malam hampir selalu terisi. Padahal, waktu tersebut biasanya dipakai untuk beristirahat setelah bekerja. Ketika kegiatan berlangsung terus-menerus tanpa jeda sehingga tubuh dan pikiran tidak memiliki kesempatan untuk pulih secara optimal. Akibatnya, rasa lelah menumpuk dan mulai terasa, bahkan sebelum acara dimulai. Situasi ini berbeda dengan kelelahan biasa karena pemicunya bukan aktivitas fisik berat, melainkan frekuensi pertemuan yang terlalu sering.

Selain itu, bukber sering berlangsung hingga larut karena dilanjutkan dengan mengobrol panjang atau berpindah tempat. Pulang dalam kondisi terlalu malam membuat waktu tidur berkurang, sementara keesokan harinya tetap harus menjalani rutinitas kerja. Dalam jangka pendek mungkin masih terasa wajar. Namun, jika terjadi berulang, kondisi ini dapat memicu rasa jenuh yang sulit dijelaskan. Tidak sedikit orang akhirnya hadir sekadar formalitas tanpa benar-benar menikmati suasana.

2. Ekspektasi membuat orang sulit menolak undangan

ilustrasi bukber (pexels.com/fauxels)

Banyak orang merasa tidak enak hati menolak ajakan bukber karena khawatir dianggap tidak peduli terhadap pertemanan. Perasaan sungkan ini sering membuat seseorang menerima undangan meski sebenarnya sudah merasa lelah. Akibatnya, keputusan hadir bukan lagi karena keinginan pribadi, melainkan tekanan situasi. Dalam kondisi seperti ini, energi emosional terkuras lebih cepat dibandingkan ketika datang dengan perasaan antusias.

Di sisi lain, media sosial turut memperkuat ekspektasi tersebut karena unggahan foto bukber sering menjadi simbol kedekatan kelompok. Tidak sedikit orang merasa harus ikut hadir agar tidak tertinggal dari lingkaran pertemanan. Situasi ini menciptakan dorongan tidak langsung yang membuat jadwal bukber semakin padat. Ketika kehadiran lebih didorong rasa kewajiban daripada kebutuhan, rasa lelah dapat muncul lebih cepat.

3. Biaya bukber yang berulang memicu beban tersendiri

ilustrasi uang (unsplash.com/Muhammad Daudy)

Setiap undangan bukber biasanya diikuti pengeluaran, mulai dari biaya makan, transportasi, hingga kontribusi patungan. Jika frekuensinya tinggi, pengeluaran tersebut dapat terasa cukup besar dalam waktu singkat. Beban finansial ini sering tidak disadari sebagai penyebab kelelahan, padahal bisa menimbulkan stres tersendiri. Situasi menjadi semakin berat ketika seseorang merasa harus mengikuti gaya tempat makan tertentu agar tidak terlihat berbeda.

Selain itu, perencanaan keuangan bulanan bisa terganggu karena pengeluaran tidak terduga. Rasa khawatir terhadap kondisi finansial sering muncul bersamaan dengan kelelahan menghadiri acara. Kombinasi keduanya membuat bukber yang seharusnya menyenangkan justru terasa membebani. Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa enggan menerima undangan meski masih memiliki waktu luang.

4. Percakapan berulang menimbulkan rasa jenuh

ilustrasi buka bersama (unsplash.com/Jay Gajjar)

Bukber dengan kelompok berbeda sering menghadirkan topik pembicaraan yang mirip, seperti pekerjaan, status hubungan, atau rencana masa depan. Ketika topik tersebut muncul berulang dalam waktu dekat, sebagian orang mulai merasakan kejenuhan. Rasa lelah ini bukan karena percakapannya berat, melainkan karena repetisi yang terus terjadi. Situasi tersebut membuat seseorang merasa seperti mengulang skenario yang sama berkali-kali.

Selain itu, tidak semua pertemuan memiliki kedekatan emosional yang kuat. Ada kalanya, seseorang harus mengikuti obrolan yang kurang relevan dengan kehidupannya. Kondisi ini membuat energi terkuras karena harus tetap terlihat terlibat dalam percakapan. Jika terjadi terus-menerus, rasa jenuh dapat berkembang menjadi kelelahan.

Buka bersama tetap menjadi tradisi yang hangat dan bermakna, terutama sebagai ajang mempererat pertemanan. Namun, frekuensi yang terlalu padat dapat memicu social burnout karena energi dan pikiran terkuras tanpa jeda. Menentukan prioritas undangan dan menjaga waktu pribadi menjadi langkah penting agar momen bukber tetap terasa menyenangkan. Di tengah banyaknya ajakan yang datang, apakah sudah memilih mana yang benar-benar ingin dihadiri dan mana yang sebaiknya dilewatkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎