Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tanda Kamu Berkorban Terlalu Banyak buat Pasangan

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/SERHAT TUĞ)
Intinya sih...
  • Cinta tanpa pengorbanan tidak mungkin, tapi harus seimbang
  • Jangan sampai pengorbanan merugikan diri sendiri dan masa depan
  • Pengorbanan yang berlebihan bisa membawa pada hubungan yang tidak sehat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cinta tanpa pengorbanan sama sekali rasanya memang tidak mungkin. Di setiap negosiasi dan kompromi pasti ada sesuatu yang dikorbankan. Namun, seharusnya pengorbanan itu datang dari dua orang. Bukan cuma kamu saja yang terus berkorban demi pasangan dan hubungan kalian.

Pengorbanan tersebut juga mesti masih dalam batas yang dapat ditanggung tiap orang secara sehat. Bukan pengorbanan yang sebenarnya merugikan diri sendiri. Bahkan sampai membahayakan masa depanmu seandainya terjadi sesuatu yang gak diharapkan.

Hidup ini panjang. Maka setiap permintaan pasangan agar dirimu berkorban perlu disikapi secara kritis. Begitu pula kamu tak usah seakan-akan menjadi pribadi yang paling tulus mencintai dengan berkorban sebanyak mungkin. Bila kamu melakukan lima hal berikut ini, seperti kamu berkorban terlalu banyak buat pasangan dan berpotensi membawamu dalam hubungan yang tidak sehat.

1. Habis-habisan mengeluarkan uang demi mendapatkan cintanya

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Fernanda Pereira)

Cinta tanpa modal duit sedikit pun rasanya memang mustahil. Kamu mau mengajak seseorang makan saja butuh duit. Dirimu ingin memberikan hadiah ulang tahun juga pakai uang.

Bahkan sesimpel untuk diri sendiri. Gak mungkin kamu mau terlihat dekil di depan orang yang dicintai. Dirimu bakal meningkatkan penampilan dengan memakai baju yang cukup baru, beli wewangian yang lebih tahan lama, menambah produk perawatan tubuh, dan sebagainya.

Semua itu masih normal. Akan tetapi, kalau pengorbananmu sudah sampai meludeskan tabungan maka berlebihan. Seandainya nanti terjadi sesuatu yang darurat, dirimu tak punya uang sepeser pun buat membiayainya. Apalagi semua uang yang dibelanjakan cuma buat memenuhi kesenangannya. Jangan sampai sehabis kamu begitu royal justru ditinggal.

2. Terpaksa resign dan sama sekali gak bekerja atas permintaan pasangan

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Gabii Fernandez)

Sering kali ini dialami oleh perempuan. Atas permintaan bahkan larangan suami, seorang istri terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya. Disebut terpaksa karena sebetulnya kamu menyukai pekerjaanmu dan berpikir istri sekaligus ibu juga tak masalah bekerja di luar rumah.

Namun, desakan pasangan membuatmu mengorbankan keinginan buat tetap bekerja. Celakanya, larangan suami tidak berhenti sampai di situ. Dirimu juga tak diperbolehkan menjadi freelancer atau bekerja dari rumah.

Ini pengorbanan yang terlalu besar. Ibaratnya, alat gerakmu telah dipotong habis. Sulit sekali untukmu dapat melanjutkan hidup dengan layak seandainya terjadi sesuatu pada suami sebagai satu-satunya pencari nafkah. Bahkan bila ada tabungan pemberian suami, cepat atau lambat akan ludes juga. Sementara kemampuanmu mencari uang sendiri sudah lama tak diasah.

3. Membatalkan impian pribadi demi impian pasangan

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Mihaela Claudia Puscas)

Seandainya sesuatu tidak terasa benar-benar penting bagimu tentu kamu gak bakal memimpikannya. Bahkan sejauh ini dirimu sudah berjuang. Mungkin tidak lama lagi impian itu seharusnya tergapai.

Sayangnya, di tengah jalan kamu bertemu pasangan yang gak suportif terhadap mimpimu. Dia barangkali tidak mengatakannya secara langsung. Namun, pada akhirnya tetap dirimu yang mesti mengorbankan impian pribadi.

Impian pasangan pun diperhalus menjadi impian kalian supaya kamu mendukungnya 100 persen. Cinta sih, cinta. Namun, bila impian yang selama ini diperjuangkan mesti kandas demi impian orang lain pasti nyesek.

Walaupun kamu terus belajar ikhlas, suatu saat nanti dapat muncul penyesalan yang kuat. Menjadi sepasang kekasih bahkan suami istri seharusnya tetap membolehkan adanya dua mimpi yang berbeda. Kalian bisa saling support dan bersama-sama merayakan keberhasilan.

4. Harus selalu kamu yang minta maaf tiap ada masalah

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Moisés Fonseca)

Padahal, bukan kamu yang menjadi biangnya. Dirimu cuma terpaksa minta maaf daripada suasana terus menegangkan. 1 atau 2 kali begini mungkin masih oke. Apalagi kamu tahu karakter pasangan agak manja.

Sejak awal, dirimu sudah siap untuk lebih mengemongnya. Namun, bila hal yang sama terus terjadi, pasti capek buatmu. Kamu seperti harus senantiasa menyuapi egonya. Dirimu yang gak bersalah mesti minta maaf dan mengaku salah.

Pasangan bukannya mau menurunkan egonya, justru tambah merasa selalu paling benar. Cobalah untuk berhenti meminta maaf atas hal-hal yang bukan kesalahanmu. Malah kamu kudu berani mengatakan kesalahannya supaya dia belajar menyadari dan memahami.

5. Berprinsip gak apa-apa kamu menderita asal pasangan bahagia

cemburu
ilustrasi cemburu (pexels.com/Israyosoy S.)

Kalaupun ada kisah fiksi dengan tokoh yang berprinsip seperti di atas, jangan ditiru. Itu sama sekali bukan contoh yang inspiratif. Pengorbanan di luar akal sehat tak pantas dipandang romantis, apalagi cinta sejati.

Bersedia menderita asalkan pasangan bahagia adalah cinta yang konyol. Hubungan asmara bukan cuma tentang satu orang. Kedua belah pihak semestinya sama-sama merasakan kebahagiaan.

Bukan malah kamu menderita sendirian. Sampai kapan pun, dirimu berhak memperjuangkan kebahagiaan diri selama tidak melanggar komitmen bersama pasangan. Jangan pula berharap suatu saat pasangan lebih mengerti dirimu sehingga lebih membahagiakanmu. Jika kamu terlalu mengalah, pasangan tambah gak peka terhadap kebutuhanmu untuk bahagia juga.

Sebesar apa pun cintamu pada pasangan, soal pengorbanan mesti dihitung-hitung. Jika kamu sudah berkorban terlalu banyak buat pasangan, coba perbaiki hal tersebut. Jangan terlalu yakin pengorbanan yang begitu besar bakal membuat rumah tangga lebih bahagia. Di awal saja kamu sudah merasa menderita. Bagaimana mungkin dirimu dapat mengharapkan kebahagiaan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Cara Shio Kambing Mengatasi Nervous Sebelum Presentasi

16 Feb 2026, 10:27 WIBLife