When it comes to love, even the smartest people become dumb.
Cinta Bisa Membuat Seseorang Menjadi Bodoh, Tak Peduli Secerdas Apapun Dia

Ini bukan tentang aku. Ini tentang temanku. Teman paling cerdas dari semua teman yang kupunya. Belasan tahun aku mengenalnya sebagai teman yang tidak pernah lepas tangan dari buku-buku dan tugas-tugasnya, karena hobi utamanya memang belajar. Berkat hobinya yang tidak biasa bagi aku yang pemalas ini, dia tidak pernah gagal mendapat nilai memuaskan di pendidikannya.
Dia berbeda dengan gadis-gadis seusia kami. Ketika aku dan gadis-gadis lainnya mudah tertarik dengan cinta dan tidak pernah sulit untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, dia justru menjaga jarak dari semua lawan jenis yang mendekatinya. Percayalah, meski termasuk gadis cerdas, dia tidak seculun yang kalian bayangkan, hanya saja wajah cantiknya tertutupi oleh kacamata tebalnya. Ada banyak lelaki yang memberanikan diri mendekatinya, namun tidak satupun dari mereka berhasil memenangkan hati temanku ini. Temanku bilang, dia belum tertarik memikirkan cinta dan pacaran.
Tetapi kemudian ada perubahan total dalam dirinya. Di usia 20 tahun ketika kami mengenyam pendidikan kuliah di Universitas yang sama, temanku ini jatuh cinta untuk pertama kalinya. Berbulan-bulan dekat dengan lelaki itu, dia akhirnya mantap memutuskan untuk berpacaran dengannya.
"Ya ampun, ternyata kalau pacaran itu gini ya. aku deg-degan terus setiap dia megang tanganku".
"Dia bilang sayang sama aku. Aku gak pernah merasa sesenang ini dengar ada orang bilang sayang ke aku".
"Ajarin aku ciuman dong! Biar aku gak canggung kalau suatu saat nanti dia cium aku".
Aku merinding mendengar setiap pernyataan atau pertanyaan konyol diatas keluar dari mulut temanku yang selama ini hanya sering membicarakan hal-hal berbau pelajaran atau obrolan mendidik lainnya. Aku senang melihat dia bahagia merasakan cinta untuk pertama kalinya, tetapi semakin aku melihat kebersamaannya dengan pacarnya, semakin aku merasa dia 'sedikit aneh', maksudku dia hanya berbeda dari yang selama ini aku kenal. Semakin aku melihatnya, aku merasa dia terlalu tergila-gila dengan pacarnya. Wajar sih, cinta pertama.
Sayangnya, kisah cinta pertama temanku ini tidak berlangsung lama, hanya 10 bulan, parahnya lagi, temanku dicampakkan begitu saja setelah dia memergoki pacarnya mempunyai gadis lain. Teman yang selalu kukagumi ini akhirnya menghadapi patah hati pertamanya, dan dia benar-benar payah menghadapinya.
Genap satu bulan aku melihat temanku dalam kondisi terpuruk meratapi nasibnya. Hobi utamanya sekarang bukanlah belajar atau membaca buku lagi, melainkan melamun, dan aku semakin tidak tahan melihatnya.
"Sudahlah, sampai kapan kamu mau kayak gini. Dia memang bukan yang terbaik buat kamu. Lupain aja! Suatu saat orang yang tepat juga datang ke kamu".
"Tapi aku gak yakin aku bisa sayang ke orang lain selain dia".
Jawaban diatas adalah sebuah pernyataan terbodoh yang pernah kudengar keluar dari mulut teman baikku ini. Bagaimana bisa? Belasan tahun sudah aku mengenalnya, dia yang dulu selalu berbicara tegas, bijak, dan hanya membicarakan hal-hal yang menurutnya bermanfaat (seperti tentang pelajaran atau isu masalah sosial), kenapa pikirannya sekarang begitu pendek, dengan cepat itu berpikir tidak mungkin lagi mampu mencintai orang lain? Dia semakin terlihat bodoh. Apa yang membuatnya menjadi sebodoh ini? Cinta? Oh cinta, apa yang kau lakukan dengan otak temanku sampai ia menjadi seperti ini?



















