Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

10 Kalimat yang Sebaiknya Gak Kamu Ucapkan ke Teman Autistik

10 Kalimat yang Sebaiknya Gak Kamu Ucapkan ke Teman Autistik
ilustrasi orang berpose (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Artikel menjelaskan pentingnya memahami cara komunikasi yang tepat dengan individu autistik karena mereka memproses informasi secara literal dan bisa merasa cemas jika menerima ucapan ambigu.
  • Dijabarkan sepuluh contoh kalimat yang sebaiknya dihindari, disertai alternatif komunikasi yang lebih jelas, spesifik, dan mudah dipahami oleh individu autistik.
  • Pesan utama artikel menekankan pentingnya kejelasan, kesederhanaan bahasa, serta sikap saling menghargai untuk menciptakan komunikasi yang inklusif bagi semua pihak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Autisme merupakan gangguan perilaku maupun interaksi sosial akibat kelainan pada perkembangan saraf otak. Oleh karena itu, individu autistik cenderung mengalami tantangan dalam membangun komunikasi maupun interaksi sosial dengan lingkungannya. Kita perlu memperhatikan sejumlah hal ketika berkomunikasi dengan individu autistik, baik itu komunikasi verbal maupun nonverbal.

Terkait komunikasi verbal, ada sejumlah kata-kata yang sebaiknya gak diucapkan kepada mereka. Mengapa harus dihindari? Sebab, kata-kata yang terasa biasa saja untuk kita bisa jadi punya makna yang berbeda bagi mereka. Hal ini lantas dapat memunculkan kecemasan dan membuat mereka merasa diremehkan. Ketidaknyamanan ini sering kali datang karena adanya perbedaan cara otak memproses suatu informasi. Dikatakan bahwa individu autistik cenderung menyerap kata-kata secara literal. Berikut kalimat yang sebaiknya gak diucapkan kepada individu autistik!

1. Alih-alih menanyakan pertanyaan umum “kamu apa kabar?”, tanyakan pertanyaan spesifik seperti “kamu menikmati sarapan pagi ini gak?”

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

2. Kalau kamu ingin menolak, alih-alih bilang “gak”, coba pakai kata yang lebih deskriptif seperti “kita coba lagi besok, ya”

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/fauxels)
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/fauxels)

3. Hindari penggunaan bahasa kiasan, ganti dengan bahasa lugas (komunikasi low-context), misalnya bilang “aku lagi sedih” buat menunjukkan perasaan

ilustrasi orang menatap kamera
ilustrasi orang menatap kamera (pexels.com/SHVETS production)

4. Hindari memberikan instruksi yang abstrak seperti “cepat sedikit”, ganti dengan yang pasti seperti “kita akan pergi sepuluh menit lagi, ya"

ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi orang mengobrol (pexels.com/Mikhail Nilov)

5. Hindari juga memberikan instruksi yang panjang seperti “ganti baju, ambil tas kamu, dan pakai sepatu". Kamu bisa memberikan instruksi satu-satu

ilustrasi orang menutup telinga (pexels.com/Alena Shekhovtcova)
ilustrasi orang menutup telinga (pexels.com/Alena Shekhovtcova)

6. Jangan berikan pertanyaan terbuka seperti “kamu mau makan apa hari ini?”, coba deh kasih pertanyaan pilihan seperti “kamu mau makan nasi atau mi?"

ilustrasi makan bersama
ilustrasi makan bersama (pexels.com/Julia M Cameron)

7. Jangan bilang “coba tatap mataku kalau lagi ngomong”. Biar dia fokus, bilang aja “aku mau ngomong sesuatu, kamu bisa dengerin aku gak?”

ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Antonius Ferret)
ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Antonius Ferret)

8. Hindari mengucapkan kalimat berkesan negatif seperti “kamu gak kelihatan kayak orang autistik”, ganti dengan "kasih tahu kalau butuh bantuan, ya"

ilustrasi orang tertawa
ilustrasi orang tertawa (pexels.com/Julio Lopez)

9. Hindari menanggapi yang kesannya meremehkan seperti “jangan kayak anak kecil”, coba ganti dengan “mau pindah ke tempat yang lebih tenang?”

ilustrasi orang tersenyum
ilustrasi orang tersenyum (pexels.com/RDNE Stock project)

10. Hindari juga kalimat yang menghakimi seperti “kok diam saja?” Beri mereka waktu dan ucapkan “aku di sini kalau kamu mau cerita, santai aja, ya”

ilustrasi dua orang yang tertawa (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi dua orang yang tertawa (pexels.com/Pixabay)

Dari poin-poin tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa yang dibutuhkan ketika berkomunikasi dengan individu autistik adalah kejelasan dan ketepatan. Penyederhanaan kalimat itu perlu agar individu autistik bisa dengan mudah menangkap maksud dari apa yang kita ucapkan.

Kemudian, hal yang gak kalah pentingnya ialah sikap menghargai dalam berkomunikasi. Ingat, sikap menghargai dalam berkomunikasi bukan berarti kita memaksakan standar komunikasi kita di depan mereka, ya. Ini berarti kita menyadari bahwa perbedaan cara berpikir dan merespons informasi merupakan bagian dari keragaman manusia. Yuk, bangun komunikasi yang inklusif!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us