Tidak sedikit yang merasa sedang membantu ketika melontarkan kritik tersebut. Mereka menganggap masukan harus disampaikan secepat mungkin sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Masalahnya, tidak semua orang sedang membutuhkan evaluasi setiap saat. Pada akhirnya, niat memberi masukan justru diterima sebagai sikap suka mencari-cari kesalahan.
Kenapa Ada Orang yang Gemar Menemukan Kesalahan Orang Lain?

Kebiasaan dan pengalaman hidup dapat membuat seseorang lebih fokus pada kekurangan orang lain.
Lingkungan pergaulan dapat membuat sikap gemar mengkritik terasa wajar.
Menilai orang lain sering kali lebih mudah daripada mengevaluasi diri sendiri.
Bertemu dengan orang menyebalkan yang selalu siap mengoreksi hal kecil memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Di meja makan, grup keluarga, tempat kerja, bahkan saat sedang bersantai, ada saja komentar yang mengarah pada kekurangan orang lain. Menariknya, kebiasaan ini tidak selalu lahir dari niat buruk atau rasa tidak suka secara pribadi. Ada banyak alasan yang membuat seseorang lebih mudah melihat cela dibanding melihat hal baik. Berikut beberapa alasan yang jarang dibahas.
1. Kebiasaan mengkritik membuat mereka terasa paling paham situasi

Sebagian orang terbiasa berada di lingkungan yang menghargai komentar dibanding apresiasi. Akibatnya, mereka tumbuh dengan anggapan bahwa kemampuan menemukan kesalahan merupakan tanda kecerdasan. Saat melihat teman memasak, bekerja, atau mengambil keputusan, perhatian mereka langsung tertuju pada bagian yang dianggap kurang tepat. Hal yang sebenarnya sudah berjalan baik sering luput dari perhatian.
2. Pengalaman hidup membuat mereka sulit merasa puas

Ada orang yang sejak kecil lebih sering mendengar koreksi daripada pujian. Nilai 9 dipertanyakan karena tidak mendapat 10, sedangkan hasil yang baik dianggap hal biasa. Cara pandang seperti ini sering terbawa hingga dewasa tanpa disadari. Mereka terbiasa menilai sesuatu berdasarkan kekurangan terlebih dahulu.
Ketika melihat orang lain, cara berpikir tersebut otomatis muncul kembali. Rekan kerja yang rajin tetap dianggap kurang karena pernah terlambat sekali. Tetangga yang ramah tetap dikomentari karena rumah mereka terlihat berantakan. Bukan karena sengaja mencari masalah, melainkan karena mata mereka sudah terbiasa fokus pada hal yang belum sempurna.
3. Lingkungan pertemanan membuat kebiasaan itu terlihat wajar

Di beberapa sirkel pergaulan, membicarakan kekurangan orang lain dianggap bahan obrolan yang menarik. Percakapan sering berputar pada siapa yang salah, gagal, atau membuat keputusan buruk. Semakin tajam komentarnya, semakin besar perhatian yang diperoleh. Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut dianggap normal.
Saat pola itu terus berulang, seseorang bisa kesulitan menikmati percakapan tanpa mengomentari orang lain. Ada dorongan untuk terus memiliki penilaian terhadap setiap kejadian. Padahal, tidak semua hal membutuhkan pendapat. Kadang, sebuah cerita cukup didengarkan tanpa harus diubah menjadi sesi penilaian.
4. Mereka lebih mudah menilai orang lain daripada menilai diri sendiri

Mengomentari kehidupan orang lain sering kali jauh lebih mudah dibandingkan mengevaluasi diri sendiri. Kesalahan teman terlihat jelas karena terjadi di depan mata. Sebaliknya, kekurangan pribadi membutuhkan kejujuran yang tidak selalu nyaman untuk dilakukan. Karena itulah, sebagian orang lebih sibuk melihat keluar daripada melihat ke dalam.
Kamu bisa melihat contohnya dalam banyak situasi sederhana. Seseorang rajin mengkritik pilihan karier orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar memikirkan perkembangan karier sendiri. Ada pula yang sering menyoroti cara orang mengatur keuangan, sementara kondisi finansial sendiri tidak jauh berbeda. Fokus pada kehidupan orang lain kadang menjadi cara paling mudah untuk menghindari evaluasi diri.
5. Kritik sering dipakai untuk mencari posisi dalam percakapan

Tidak semua orang nyaman menjadi pendengar. Sebagian merasa harus mengatakan sesuatu agar terlihat memiliki peran dalam sebuah obrolan. Salah satu cara tercepat ialah menunjukkan apa yang dianggap salah dari sebuah situasi. Komentar seperti ini biasanya langsung menarik perhatian karena memancing reaksi dari orang lain.
Fenomena tersebut sering terlihat saat membahas tren, gaya hidup, atau keputusan seseorang yang sedang ramai diperbincangkan. Alih-alih memahami keseluruhan cerita, fokus pembicaraan langsung diarahkan pada kekurangan yang paling mudah terlihat. Akibatnya, diskusi menjadi sempit dan hanya berputar pada kesalahan. Padahal, sebuah situasi sering kali memiliki latar belakang yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
Tidak semua orang menyebalkan yang gemar menemukan kesalahan orang lain memiliki alasan yang sama. Ada yang terbentuk karena kebiasaan, pengaruh lingkungan, atau tidak sadar sedang melakukannya. Setelah melihat beberapa sudut pandang tersebut, pernahkah bertemu seseorang yang membuatmu berpikir, "Kenapa hampir semua hal selalu dianggap salah di mata dia, ya?"





















