Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Bullying di Tempat Kerja Tidak Selalu Terlihat Jelas?
ilustrasi bullying tersembunyi (pexels.com/Anna Shvets)
  • Bullying di tempat kerja bisa tersamar melalui tindakan yang terlihat sepele, tetapi dilakukan berulang kali.

  • Candaan, kritik, atau perlakuan berbeda bisa menjadi masalah ketika terus merendahkan atau menyudutkan seseorang.

  • Bullying juga sulit dikenali karena dapat terjadi secara pribadi dan tidak selalu dilakukan oleh orang yang terlihat kasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perundungan atau bullying di tempat kerja kerap dibayangkan sebagai tindakan yang terang-terangan, seperti membentak, mempermalukan, atau mengancam seseorang di depan banyak orang. Padahal, perilaku yang membuat seseorang merasa tertekan di lingkungan kerja tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Ada juga perlakuan yang terlihat sepele, tetapi dilakukan berulang kali hingga membuat seseorang merasa tidak nyaman atau kehilangan kepercayaan diri.

Hal inilah yang membuat bullying di tempat kerja terkadang sulit disadari, baik oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya. Pelakunya juga bisa menggunakan cara yang lebih halus, bahkan terlihat seperti bagian dari dinamika pekerjaan sehari-hari. Lalu, kenapa bullying di tempat kerja tidak selalu terlihat jelas?

1. Bentuknya bisa berupa tindakan yang terlihat biasa

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Tidak semua bullying dilakukan dengan kata-kata kasar atau tindakan agresif. Dalam lingkungan kerja, perilaku tersebut bisa muncul dalam bentuk yang sekilas terlihat biasa. Misalnya, sengaja tidak mengajak komunikasi saat mengerjakan proyek bersama, terus-menerus memotong pembicaraan, atau memberikan informasi pekerjaan yang tidak lengkap.

Kalau hanya terjadi sekali, perilaku seperti ini mungkin memang belum tentu bisa disebut bullying. Namun, situasinya berbeda jika dilakukan berulang kali dan secara konsisten kepada orang yang sama. Korban akhirnya bisa kesulitan menjalankan pekerjaan atau merasa dirinya sengaja dibuat tersisih.

2. Pelaku kadang membungkusnya sebagai candaan

ilustrasi melakukan prank pada teman (pexels.com/Ron Lach)

Candaan juga bisa menjadi salah satu cara bullying terlihat samar di tempat kerja. Seseorang mungkin sering menjadikan rekan kerjanya sebagai bahan lelucon, mengomentari penampilan, kemampuan, kehidupan pribadi, atau kesalahan di masa lalu. Ketika korban merasa tersinggung, pelaku bisa saja mengatakan bahwa itu hanya bercanda. Padahal, candaan yang terus diarahkan kepada orang yang sama dan membuatnya merasa dipermalukan tentu berbeda dengan humor biasa.

Masalahnya, orang lain yang melihat kejadian tersebut belum tentu mengetahui bagaimana perasaan korban. Mereka mungkin hanya melihatnya sebagai obrolan santai antarpegawai. Padahal, di dalam hati korban merasa tertekan dan sangat tidak nyaman.

3. Sulit membedakan bullying dengan kritik pekerjaan

ilustrasi bullying di tempat kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Lingkungan kerja memang tidak lepas dari kritik dan evaluasi. Atasan berhak memberikan masukan ketika pekerjaan seorang karyawan tidak sesuai standar. Rekan kerja juga bisa mengingatkan jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki.

Yang menjadi persoalan adalah cara dan pola perlakuannya. Kritik yang berkaitan dengan pekerjaan seharusnya berfokus pada hal yang perlu diperbaiki, bukan menyerang harga diri seseorang secara terus-menerus. Misalnya, mengatakan bahwa sebuah tugas masih harus direvisi berbeda dengan mengatakan bahwa orang tersebut memang tidak becus bekerja. Sekilas keduanya sama-sama berupa teguran, tetapi dampaknya bisa sangat berbeda.

4. Terjadi di ruang yang tidak banyak diketahui orang

ilustrasi bullying tersembunyi (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Sebagian perilaku bullying justru terjadi ketika tidak ada banyak orang yang melihat. Misalnya, seseorang mendapat pesan pribadi yang merendahkan, sering dimarahi ketika hanya berdua dengan atasannya, atau sengaja diberi perlakuan berbeda dalam pembagian pekerjaan. Karena tidak terjadi di ruang publik, rekan kerja lain mungkin tidak mengetahui apa yang sebenarnya dialami korban. Ketika korban kemudian bercerita, orang-orang di sekitarnya bahkan bisa merasa kaget karena selama ini tidak pernah melihat kejadian tersebut secara langsung. Kondisi ini juga bisa membuat korban ragu untuk berbicara. Ia mungkin khawatir tidak ada orang yang bisa menguatkan ceritanya karena tidak ada saksi.

5. Pelaku tidak selalu terlihat seperti orang yang kasar

ilustrasi bullying tersembunyi (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Ada anggapan bahwa pelaku bullying pasti memiliki sifat kasar atau mudah marah. Kenyataannya, perilaku merundung bisa dilakukan oleh siapa saja dan tidak selalu ditunjukkan secara terbuka. Seseorang bisa terlihat ramah di depan banyak orang, tetapi memperlakukan satu rekan kerja secara berbeda ketika tidak ada orang lain. Karena itulah, menilai situasi hanya berdasarkan kepribadian atau penampilan seseorang bisa membuat perilaku bullying justru terlewatkan.

Pada akhirnya, bullying di tempat kerja memang tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis. Perilaku seperti mengucilkan, mempermalukan, meremehkan, atau sengaja menghambat pekerjaan bisa terlihat kecil jika hanya dilihat satu per satu. Namun, pola yang terus berulang dan berdampak pada kondisi seseorang patut diperhatikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article