ilustrasi tarik ulur perasaan (pexels.com/cottonbro)
Awalnya kamu hanya ingin dia mencarimu. Namun, beberapa hari berlalu dan kamu mulai menyadari bahwa dia juga semakin jarang menghubungi. Saat itu kamu pikir, “Mungkin dia memang gak peduli”. Karena merasa tidak dicari, kamu memilih untuk diam. Di sisi lain, dia justru melihat sikapmu sebagai tanda bahwa kamu sedang tidak ingin diganggu, sehingga dia ikut menjaga jarak. Keinginan sederhana untuk mendapatkan perhatian berubah menjadi saling menunggu. Kamu menunggu dia mendekat, sementara dia menunggu kamu kembali seperti biasanya.
Seperti yang dijelaskan oleh Psikolog Tasha Seiter, M.S., Ph.D., LMFT, dalam laman Psychology Today, bahwa di balik perilaku menarik diri, ada rasa takut untuk mengungkapkan perasaan dan meminta orang lain memenuhi kebutuhan kita. Pola saling menarik diri dapat membuat seseorang merasa kesepian dalam hubungan. Hal ini kemudian menjadi bagian dari sebuah siklus karena semakin kesepian yang dirasakan pasangan, semakin mereka menarik diri ke dalam diri sendiri dan menjauh dari hubungan tersebut. Jika dibiarkan, pola ini dapat menciptakan siklus yang semakin buruk dan sulit dihentikan.
Tadinya kamu hanya ingin diyakinkan bahwa hubungan tersebut masih penting. Namun, kamu tidak juga mengungkapkan arti dari sikapmu. Lama-kelamaan hubungan menjadi semakin jauh karena dia tidak memahami pesan yang sebenarnya ingin kamu sampaikan.
Keputusanmu untuk menjauh tidak berarti ingin pergi. Kamu hanya ingin diyakinkan, diperhatikan, atau sekadar ingin tahu apakah dia akan melakukan effort yang sama denganmu atau tidak. Namun, menjauh bukan sebuah solusi. Menyampaikan apa yang kamu inginkan secara langsung tetap lebih efektif daripada membuat dia menebak-nebak kode yang kamu berikan.