Sudah bertahun-tahun aku menjalin sebuah hubungan, saat itu semuanya terasa sangat berbeda. Pelangi seakan muncul di langit yang mendung, dan sebuah harapan liar mulai muncul di otakku, sebuh harapan agar waktu akan berhenti saat aku sedang bersamamu saat itu. Bertahun-tahun kulalui sebuah jalan terjal berliku, berharap sebuah hubungan yang selalu kujaga akan tetap mekar dan indah.
Suatu waktu aku ingin bersamamu, mengingat kenangan kita tentang masa lalu. Suatu waktu aku mengenangmu, berharap sebuah senyuman yang dulu selalu kau berikan untukku. Suatu waktu aku meneteskan air mataku, berharap kamulah yang akan menghapus jejak air mata di pipiku, namun nyatanya kaulah alasan dari semua kesedihanku. Suatu waktu aku merindukanmu, kupanjatkan doa untuk keberuntunganmu, namun yang kuterima hanya diammu.
Bertahun-tahun lamanya aku menjalin sebuah hubungan, memohon belas kasihmu atas diriku. Namun, hanya luka yang kuterima dari dirimu yang mulai mengabaikanku. Suatu hari aku mulai bangkit dari luka yang sekian lama menyelimutiku, aku mulai melakukan semuanya meski tanpamu disisiku. Suatu hari aku menyadari sesuatu, bahwa semua ini bukanlah sebuah perubahan atas semua yang ada didalammu. Namun semua ini adalah sebuah proses, proses menuju kedewasaan agar kau mampu membimbingku. Suatu hari aku mendengarmu sakit, dan aku tetap menjadi perempuan yang selalu ada untukmu, akulah orang kedua yang selalu mendoakanmu setelah orang tuamu.
Di suatu senja aku berdoa kepada semesta, aku tak pernah menginginkan dirimu yang dulu jika itu yang kau mau. Tapi sebuah doa agar kau mau melihatku, mendengarku, dan menggenggam tanganku saat aku terluka. Di suatu malam aku membuat permohonan kepada jutaan bintang, agar alam selalu menguatkan diriku yang berjalan tertatih sendirian. Di suatu tempat tergelap dalam diriku, aku berharap kau datang sebagai lentera. Menghangatkanku mungkin adalah satu hal yang mustahil, namun kau mampu menjadi cahaya untuk menuntunku yang sedang berjuang untukmu.
