Tam Kaur, seorang pembicara dan kreator konten di bidang pengembangan diri, menyebutkan “Cinta segitiga menyentuh kebutuhan alami manusia untuk mendapatkan pengakuan. Sebagian besar dari kita ingin dicintai, dan kita mudah mengukur nilai diri berdasarkan apakah seseorang menginginkan atau mencintai kita,” dikutip dari The Handbook.
Love Triangle, Hubungan Rumit yang Justru Menarik Ditonton

- Trope love triangle menarik karena menghadirkan dua pilihan cinta yang memberi rasa berbeda, sekaligus menyentuh kebutuhan manusia untuk merasa diinginkan dan dihargai.
- Penonton ikut gelisah menentukan pasangan yang tepat bagi tokoh utama, karena konflik ini menyederhanakan emosi cinta rumit menjadi pilihan antara dua calon pasangan.
- Kerumitan love triangle terasa menghibur saat dinikmati dari layar, karena penonton dapat mengikuti konflik dan patah hati tanpa mengalami langsung risiko luka dalam kehidupan nyata.
Sebuah serial romantis memperlihatkan adegan di mana tokoh utamanya mulai dekat dengan seseorang yang baru. Padahal, sejak awal cerita kamu sudah mendukung hubungannya dengan karakter yang lain. Menurutmu, karakter mereka punya banyak kenangan, saling memahami kebiasaan masing-masing, dan terlihat seperti pasangan yang tinggal menunggu akhir bahagia.
Namun, kehadiran karakter ketiga perlahan mengubah semuanya. Serial menjadi berputar di situasi love triangle, trope cerita romantis yang melibatkan tiga orang dalam jalinan perasaan yang saling bertautan.
Tiba-tiba, kamu jadi ikut menimbang siapa yang lebih cocok, siapa yang lebih tulus, dan siapa yang seharusnya mendapatkan hati tokoh utama. Satu episode berakhir, tetapi pikiranmu masih tertinggal pada adegan terakhir. Kamu membuka media sosial, mencari pendapat penonton lain, lalu menemukan orang-orang yang ternyata punya pilihan yang berbeda denganmu. Hubungannya mungkin rumit, tetapi justru kerumitan itu yang membuat kamu sebagai penonton makin betah mengikuti ceritanya.
1. Dua orang yang menginginkan kita membuat kita merasa lebih berharga

Ilustrasi cinta segitiga. (pexels.com/@elletakesphotos) Layar TV di depanmu menampilkan sosok tokoh utama yang sedang duduk di antara dua orang yang sama-sama memiliki tempat di hatinya. Di sebelah kiri, ada seseorang yang sudah mengenalnya bertahun-tahun. Orang yang tahu kapan ia sedang menyembunyikan kesedihan, hafal kebiasaannya memesan kopi, dan tidak perlu bertanya dua kali untuk memahami perubahan suasana hatinya. Di sebelah kanan, ada seseorang yang baru hadir beberapa bulan, tetapi entah bagaimana mampu membuat hal-hal sederhana terasa seperti first experience.
Bersama orang pertama, ia menemukan ketenangan. Bersama orang kedua, ia merasakan perasaan berdebar yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Keduanya menawarkan sesuatu perasaan yang berbeda, dan justru karena itulah keputusan menjadi sulit.
Kamu menonton sembari ikut menimbang kedua kemungkinan itu. Kamu mengingat siapa yang datang lebih dulu, siapa yang paling memahami tokoh utama, dan siapa yang membuatnya tersenyum tanpa perlu berpura-pura. Kamu ingin percaya bahwa orang yang paling tuluslah yang akan dipilih si tokoh utama, meskipun diam-diam kamu tahu bahwa cinta gak selalu bekerja sesederhana itu.
2. Takut salah memilih membuat penonton ikut gelisah

Ilustrasi cinta segitiga. (pexels.com/@dinhvanlanh76) Adegan kembali memperlihatkan tokoh utama yang tidak bisa terus-menerus berdiri di antara dua pilihan. Kamu melihat tokoh utama yang harus menentukan apakah salah satu tangan harus dilepaskan, salah satu pesan tidak lagi dibalas seperti biasanya, dan sebuah hubungan harus menerima kenyataan bahwa perasaannya tidak berbalas. Kamu berharap tokoh utama bisa menemukan cara agar tidak ada siapa pun yang terluka.
Tanpa sadar, drama cinta segitiga ini membuat kamu ikut terlibat dalam cerita. Kamu ikut mendukung salah satu karakter dan merasakan kegelisahan tokoh utama dalam memilih keputusannya, sebagaimana seorang peneliti sastra remaja, Stephanie Lyttle, menyebutkan,
“Pengalaman cinta pertama yang begitu rumit dan sulit dijelaskan, beserta segala emosi yang menyertainya, disederhanakan menjadi pilihan antara dua orang yang berpotensi menjadi pasangan. Menariknya, pembaca seolah-olah ikut merasakan sendiri bagaimana rasanya menentukan pilihan hati tersebut,” dikutip dari Journal of Popular Romance Studies.
Kegelisahan yang kamu rasakan membuat konflik love triangle ini terasa dekat dengan kehidupan kamu sendiri. Kamu teringat berada di situasi yang sama dengan tokoh utama ketika kamu perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk memikirkan sebuah keputusan, atau membayangkan berbagai kemungkinan. Bedanya, dalam film kamu bisa menyaksikan semua kemungkinan itu melalui perjalanan tokoh utama. Kamu bisa ikut menebak dan berharap sampai akhirnya cerita memaksa kamu menerima sebuah jawaban.
3. Drama cinta segitiga lebih aman dinikmati dari layar

ilustrasi cinta segitiga (pexels.com/cottonbro studio) Pukul sebelas malam, satu episode sudah selesai. Seharusnya kamu tidur karena besok masih ada banyak hal yang harus dikerjakan. Namun, tokoh utama baru saja bertengkar dengan pilihan karakter favoritmu, sementara orang ketiga tiba-tiba muncul membawa pengakuan yang mengubah arah cerita. Kamu pun menekan tombol episode berikutnya. Lima menit kemudian, kamu kesal lagi. Aneh memang, sesuatu yang membuatmu begitu frustrasi justru menjadi alasan untuk terus menonton.
Mungkin, karena kamu merasakan ada perbedaan besar antara menyaksikan kekacauan dan hidup di dalamnya. Dalam kehidupan nyata, mencintai dua orang sekaligus atau terjebak di antara perasaan yang tidak pasti bisa menyisakan luka panjang. Tidak ada musik latar yang memberi tahu kapan harus menangis atau adegan berikutnya yang menjanjikan semuanya akan baik-baik saja.
Menurut Tam Kaur, seorang pembicara dan kreator konten di bidang pengembangan diri, “Ada rasa aman tersendiri dalam drama ketika kita bukan orang yang mengalaminya. Cerita itu menghibur karena kita berada di luar situasi tersebut,” dikutip dari The Handbook.
Layar akhirnya menggelap, meninggalkan satu hati yang bahagia dan satu hati lain yang harus belajar merelakan. Kita mungkin kecewa karena tokoh favorit tidak mendapatkan akhir yang diharapkan. Namun jauh setelah cerita usai, kita masih memikirkan pilihan yang mereka ambil dan kemungkinan yang terpaksa ditinggalkan. Barangkali, itu yang membuat love triangle begitu membekas. Di balik rumitnya kisah cinta mereka, ada perasaan yang diam-diam kamu kenali. Setidaknya, kali ini kamu tinggal menutup layar dan meninggalkan patah hati itu di sana.






















