Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Menghadapi Kritik dari Orang Lain tanpa Terbawa Perasaan

5 min read
5 Cara Menghadapi Kritik dari Orang Lain tanpa Terbawa Perasaan
Ilustrasi mendengarkan komentar (magnific.com/pressfoto)
  • Saat menerima kritik, ambil jeda untuk menenangkan diri agar tidak bereaksi emosional dan bisa menilai masukan dengan lebih sadar.
  • Pisahkan kritik terhadap tindakan atau hasil kerja dari identitas pribadi, lalu ambil masukan yang jelas, masuk akal, dan dapat diperbaiki.
  • Jangan berasumsi soal niat pemberi kritik; minta penjelasan bila perlu dan tetapkan batasan terhadap komentar yang merendahkan atau mempermalukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendapat kritik terkadang bisa mengubah suasana hati dalam sekejap. Apalagi kalau komentar tersebut datang saat kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik. Ada kalanya, satu kalimat dari orang lain terus terngiang di kepala hingga membuatmu meragukan kemampuan diri sendiri.

Merasa kecewa atau tersinggung saat menerima kritik sebenarnya wajar. Kamu mungkin merasa usaha yang sudah dilakukan kurang dihargai atau menganggap komentar tersebut sebagai tanda bahwa kamu belum cukup baik. Kalau terus larut dalam perasaan itu, kamu bisa kesulitan memahami inti masukan dan melewatkan hal-hal yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.

Belajar menghadapi kritik dengan lebih tenang memang membutuhkan proses. Kamu perlu mengenali perasaan sendiri, menilai masukan secara objektif, dan menentukan respons yang tepat sebelum bereaksi. Dengan begitu, kamu bisa menyikapi kritik secara lebih bijak tanpa terus memikirkan perkataan orang lain. Berikut lima cara menghadapi kritik tanpa terbawa perasaan yang bisa kamu coba.

  1. 1. Beri waktu untuk menenangkan diri

    Ilustrasi seseorang menenangkan diri dengan mengambil waktu sejenak untuk bernapas dalam suasana tenang.
    Ilustrasi menenangkan diri (pexels.com/Thirdman)

    Ketika menerima kritik yang terasa menyakitkan, jangan terburu-buru memberikan respons. Kamu mungkin ingin langsung membela diri, menjelaskan alasan di balik tindakanmu, atau membalas perkataan orang tersebut. Padahal, merespons saat emosi sedang tinggi bisa membuat situasi semakin rumit.

    Coba ambil jeda sejenak untuk mengatur napas dan memahami apa yang sedang kamu rasakan. Kalau kritik disampaikan melalui pesan, kamu bisa membacanya kembali setelah pikiran lebih tenang. Sementara itu, jika kritik disampaikan secara langsung, gak ada salahnya meminta waktu untuk memikirkan masukan tersebut.

    Memberi jeda bukan berarti kamu menghindari masalah. Justru, cara ini membantumu merespons dengan lebih sadar daripada sekadar mengikuti emosi sesaat. Setelah perasaan lebih stabil, kamu bisa menilai kritik tersebut tanpa terlalu terpengaruh oleh rasa kecewa atau tersinggung.

  2. 2. Bedakan kritik terhadap tindakan dan dirimu sebagai pribadi

    Perempuan muda duduk di depan komputer sambil memegang kepala, mengilustrasikan stres saat memikirkan kritikan.
    Ilustrasi berpikir tentang kritikan (magnific.com/tirachardz)

    Salah satu alasan kritik terasa menyakitkan adalah karena kamu menganggapnya sebagai penilaian terhadap seluruh dirimu. Ketika seseorang mengatakan hasil pekerjaanmu kurang rapi, misalnya, kamu langsung merasa gak kompeten. Padahal, komentar tersebut mungkin hanya merujuk pada satu hasil pekerjaan yang masih perlu diperbaiki.

    Coba perhatikan bagian spesifik yang sedang dikritik. Apakah orang tersebut membahas tindakan, hasil kerja, atau kebiasaan tertentu? Memisahkan hal-hal tersebut dari identitas diri bisa membantumu melihat masalah secara lebih objektif tanpa langsung menyimpulkan bahwa kamu gak cukup baik.

    Ingat bahwa setiap orang masih punya ruang untuk belajar dan berkembang. Satu kesalahan gak otomatis menghapus kemampuan atau usaha yang sudah kamu lakukan. Kamu bisa menerima masukan tentang sesuatu yang perlu diperbaiki tanpa harus merendahkan diri sendiri.

  3. 3. Ambil bagian yang memang bisa kamu pelajari

    Ilustrasi tentang seseorang yang mendengarkan kritik dalam sebuah percakapan serius dan penuh perhatian.
    Ilustrasi mendengarkan kritik (pexels.com/AI25.Studio AI GENERATIVE)

    Gak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Ada masukan yang disampaikan dengan baik dan disertai alasan jelas, tetapi ada juga komentar yang terlalu subjektif atau gak didukung fakta. Karena itu, penting untuk menilai isi kritik sebelum memutuskan apa yang akan kamu lakukan.

    Kalau masukan tersebut masuk akal, coba pikirkan langkah konkret yang bisa kamu ambil. Misalnya, jika rekan kerja mengatakan kamu sering terlambat memberikan kabar tentang progres tugas, kamu bisa mulai membuat pembaruan rutin agar komunikasi lebih jelas. Fokus pada tindakan yang bisa diperbaiki akan membuat kritik terasa lebih berguna.

    Sebaliknya, kalau kritik hanya berisi penilaian tanpa penjelasan yang jelas, kamu boleh meminta contoh atau alasan yang lebih spesifik. Kamu juga gak harus menyetujui komentar yang merendahkan atau tidak adil. Bersikap terbuka terhadap masukan tetap bisa berjalan beriringan dengan kemampuan menilai mana yang layak dipertimbangkan.

  4. 4. Jangan langsung berasumsi tentang niat orang lain

    Ilustrasi perempuan pebisnis berjaket hitam dan kemeja biru tampak cemas saat duduk di meja kantor
    Ilustrasi mengambil kesimpulan (magnific.com/KamranAydinov)

    Ketika mendengar komentar yang kurang menyenangkan, kamu mungkin langsung berpikir bahwa orang tersebut sengaja ingin menjatuhkanmu. Apalagi jika cara penyampaiannya terdengar ketus atau dilakukan di depan orang lain. Pikiran seperti ini bisa membuatmu semakin sulit menerima inti masukan yang disampaikan.

    Sebelum mengambil kesimpulan, coba pisahkan antara isi kritik dan cara penyampaiannya. Bisa jadi, orang tersebut memang ingin membantu tetapi kurang pandai memilih kata. Namun, jika komentarnya disertai penghinaan atau dilakukan berulang kali untuk mempermalukanmu, kamu juga berhak menilai bahwa perilaku tersebut perlu ditanggapi secara berbeda.

    Kalau maksud kritiknya masih belum jelas, kamu bisa bertanya secara langsung dengan nada tenang. Misalnya, tanyakan bagian mana yang perlu diperbaiki atau hasil seperti apa yang diharapkan. Dengan begitu, kamu gak perlu terus menebak-nebak maksud orang lain berdasarkan asumsi sendiri.

  5. 5. Tetapkan batasan jika kritik disampaikan secara tidak sehat

    Ilustrasi seseorang belajar menerima kritik sebagai bagian dari proses pengembangan diri dan pembelajaran.
    Ilustrasi belajar menerima kritik (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Belajar menerima kritik bukan berarti kamu harus diam ketika seseorang berbicara dengan cara yang merendahkan. Masukan yang membangun seharusnya membantu kamu memahami masalah dan menemukan solusi. Kalau seseorang terus menggunakan hinaan, sindiran personal, atau mempermalukanmu di depan orang lain, situasinya perlu ditangani dengan lebih tegas.

    Kamu bisa menyampaikan keberatan tanpa harus membalas dengan perkataan yang sama menyakitkannya. Misalnya, jelaskan bahwa kamu terbuka terhadap masukan, tetapi berharap pembicaraan tetap berfokus pada masalah yang perlu diperbaiki. Jika situasi terjadi di tempat kerja dan berulang, pertimbangkan untuk mencatat kejadian serta mencari bantuan dari pihak yang berwenang.

    Menjaga batasan seperti ini bukan berarti kamu antikritik. Kamu tetap bisa belajar dari kesalahan sekaligus menjaga harga diri dan kenyamananmu. Pada akhirnya, kemampuan menghadapi kritik bukan tentang selalu terlihat tenang, melainkan tentang memahami masukan secara bijak tanpa membiarkan perkataan orang lain menentukan cara kamu memandang diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More