Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mankeeping, Saat Pasangan Lebih Sering Diurus daripada Mengurus

5 min read
Mankeeping, Saat Pasangan Lebih Sering Diurus daripada Mengurus
ilustrasi bergantung pada pasangan (pexels.com/Anete Lusina)
  • Mankeeping terjadi ketika seseorang mengambil peran pengasuh emosional pasangan, dari menenangkan masalah hingga menjaga suasana hati, sementara kebutuhan pribadinya kerap terabaikan.
  • Peran ini juga dapat meluas ke kehidupan sosial pasangan, seperti mengingatkan pertemanan, membantu konflik, dan menjadi satu-satunya tempat berbagi masalah pribadi.
  • Rasa lelah dan bersalah muncul saat ingin beristirahat; komunikasi kebutuhan diri diperlukan agar pasangan turut bertanggung jawab atas emosi dan kehidupannya sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pukul sebelas malam, percakapan dengan pasanganmu belum juga usai. Besok dia ada pekerjaan penting, tetapi pikirannya masih dipenuhi masalah yang terjadi di kantor hari itu. Kamu mendengarkan, mencoba menenangkan, lalu membantu menyusun kata-kata yang sebaiknya dia sampaikan kepada atasannya. Setelah percakapan panjang itu berakhir, kamu baru tersadar bahwa sejak tadi kamu bahkan belum sempat menceritakan tentang harimu sendiri.

Awalnya, kamu merasa gak ada yang salah dengan hal itu. “Bukankah salah satu cara mencintai seseorang adalah menyediakan ruang ketika dunia terasa terlalu bising baginya?”, gumammu sebelum memejamkan mata. Namun semakin lama, kamu mulai menyadari sesuatu. Kamu bukan saja hanya menjadi tempatnya pulang, tetapi juga orang yang mengingatkan jadwalnya, menjaga perasaannya, bahkan memastikan hubungan pertemanannya tetap berjalan baik. Perlahan, kamu mengambil peran yang lebih besar daripada sekadar pasangannya saja.

  1. 1. Ketika kamu selalu menjadi orang yang menenangkannya

    ilustrasi menenangkan pasangan
    ilustrasi menenangkan pasangan (pexels.com/Emma Bauso)

    Keesokan harinya, ternyata hari yang buruk kembali menimpanya dan kamulah orang pertama yang dicari. Kamu mendengarkan keluhannya tentang rekan kerja, membiarkannya mengulang cerita yang sama, bahkan ikut memikirkan jalan keluar ketika dia merasa tidak sanggup menghadapi masalahnya. Kamu sebenarnya senang bisa membuatnya merasa lebih baik. Ada perasaan menyenangkan ketika seseorang yang kamu sayangi akhirnya bisa tersenyum setelah menghabiskan waktu bersamamu. 

    Namun, lama-kelamaan kamu mulai mengenali pola yang sama. Ketika dia sedang kesal, kamu harus berhati-hati memilih kata. Ketika dia merasa tidak percaya diri, kamu perlu meyakinkannya berulang kali. Bahkan saat kamu sendiri sedang sedih, kamu terkadang memilih diam karena gak ingin menambah beban pikirannya. Sebagaimana yang disampaikan seorang psikolog dan ahli kesejahteraan mental, Mansi Kothari,

    “Namun, seiring hubungan semakin dekat, perempuan sering kali tanpa sadar mengambil peran sebagai pengasuh, mulai dari memperhatikan perasaan pasangan, menenangkannya, hingga meredakan konflik. Lama-kelamaan, rasanya seperti kamu harus menanggung beban emosional untuk dirimu sendiri sekaligus pasangan,” dikutip dari Cosmopolitan India.

    Perlahan, dalam percakapan kalian selalu ada tempat untuk perasaannya, tetapi belum tentu untuk perasaanmu. Kamu mulai menyadari untuk mendukungnya bukan berarti kamu harus selalu menjadi orang yang bertugas memperbaiki suasana hatinya. Kamu kemudian membiarkannya belajar mengenali perasaannya sendiri, menghadapi kekecewaan, dan mencari jalan keluar tanpa sepenuhnya bergantung kepadamu.

  2. 2. Kamu ikut memikirkan kehidupan sosialnya

    ilustrasi bicara dengan pasangan
    ilustrasi bicara dengan pasangan (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Suatu hari, pasanganmu mengeluh karena sudah lama tidak bertemu teman-temannya. Dia sebenarnya ingin menghubungi mereka, tetapi selalu ada alasan untuk menundanya. Akhirnya, kamu yang menyarankan agar dia mengirim pesan lebih dulu, mengingatkan ulang tahun sahabatnya, bahkan membantu memikirkan hadiah apa yang perlu diberikan ketika temannya ulang tahun.

    Sesekali, kamu gak merasa keberatan akan hal-hal kecil itu. Kamu melakukannya karena peduli dan ingin melihatnya bahagia. Namun ketika diingat kembali, kamu adalah orang yang biasanya menyadari ketika dia mulai menjauh dari teman-temannya. Kamu yang selalu mengingatkan untuk menjaga pertemanannya. Ada tanggung jawab yang diam-diam sudah berpindah tangan.

    Situasinya semakin terasa ketika pasanganmu mulai menjadikanmu satu-satunya tempat untuk membicarakan masalah pribadi. Setiap kali ada konflik dengan teman, kamu yang mendengarkan. Ketika dia merasa kesepian, kamu yang harus hadir. Tanpa disadari, kehidupan sosialnya pun ikut menjadi sesuatu yang perlu kamu kelola.

    Kali ini, bantuanmu bukan dengan mengatur apa yang harus ia lakukan, tetapi dengan memberikan ruang untuk dia mengelola sendiri hubungan pertemanannya. Kamu tetap membantu pasanganmu menjaga pertemanannya, namun bukan dengan bertanggung jawab atas semua hubungan sosial yang dia miliki.

  3. 3. Kamu ingin istirahat, tetapi merasa bersalah

    ilustrasi merasa bersalah
    ilustrasi merasa bersalah (pexels.com/Alex Green)

    Ada malam ketika kamu sebenarnya ingin tidur lebih awal. Pekerjaanmu belum selesai, tubuhmu sudah lelah, dan kamu hanya ingin menikmati sedikit waktu tanpa memikirkan apa pun. Namun tepat ketika hendak meletakkan ponsel, pesan dari pasangan masuk. Dia sedang menghadapi masalah dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

    Kamu kembali membalas. Kamu menunda pekerjaanmu, mengesampingkan rasa kantuk, lalu mencoba membantunya merasa lebih baik. Kamu mungkin tidak mengatakannya secara langsung, tetapi ada bagian dari dirimu yang mulai berharap dia bisa menyadari bahwa kamu juga sedang berjuang menghadapi harimu sendiri.

    Anehnya, ketika rasa lelah itu berubah menjadi keinginan untuk menjaga jarak sejenak, kamu justru merasa bersalah. Kamu takut dianggap tidak peduli. Kamu khawatir pasanganmu merasa tidak lagi dicintai. Akhirnya, kamu kembali melakukan hal yang sama, meskipun sebenarnya sudah kehabisan tenaga.

    Menurut Varinderr Manchanda, seorang life and relationship coach, “Ketika perempuan terus-menerus menjalani peran ini, mereka perlahan bisa kehilangan jati dirinya. Mereka menggambarkannya sebagai perasaan ‘lelah, tetapi dihantui rasa bersalah’. Lelah karena harus menanggung beban emosional pasangan, sekaligus merasa bersalah karena menganggap keinginan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri sebagai bentuk keegoisan,” dikutip dari Cosmopolitan India.

    Esok hari ketika kamu bertemu dengannya, kamu mencoba untuk membicarakan hal-hal yang selama ini hanya disimpan sendiri. Kamu menyampaikan apa yang sebenarnya sedang kamu alami dan dukungan apa yang sedang kamu butuhkan. Mungkin dengan pengakuanmu ini, ia akan lebih mengerti bahwa ada beberapa saat, ia harus bertanggung jawab atas dirinya.

    Malam berikutnya, ponselmu kembali bergetar, membawa cerita baru tentang hari pasanganmu yang melelahkan. Kamu masih ingin mendengarkan, tetapi kali ini kamu juga ingin menceritakan harimu sendiri. Kamu ingin tahu bagaimana rasanya didengarkan tanpa harus lebih dulu memastikan orang lain baik-baik saja. Tidak hanya memberi, kamu juga ingin diberi perhatian tanpa harus meminta berkali-kali.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More