Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Bukber Sekarang Lebih Banyak Bikin Konten daripada Ngobrol?
ilustrasi foto bersama (pexels.com/ RDNE Stock project)
  • Kebiasaan memotret dan membuat konten sering lebih didahulukan sebelum mulai makan serta mengobrol.

  • Bukber dianggap momen yang perlu didokumentasikan agar terasa lengkap dan layak dibagikan.

  • Tempat yang Instagrammable dan jadwal padat membuat sesi foto terasa lebih praktis daripada percakapan panjang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buka bersama (bukber) selalu punya suasana khas karena menjadi salah satu momen langka ketika banyak orang bisa duduk di meja yang sama setelah lama tidak bertemu. Setiap tahun, cara orang menikmati bukber perlahan ikut berubah seiring kebiasaan sehari-hari yang juga bergeser. Ada yang datang dengan tujuan utama melepas rindu, ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan mengabadikan pertemuan.

Perbedaan cara menikmati inilah yang membuat suasana bukber sekarang terasa tidak selalu sama seperti dulu. Fenomena tersebut menarik karena menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil dapat mengubah suasana pertemuan tanpa menghilangkan maknanya. Simak penjelasan berikut!

1. Gawai langsung diangkat sebelum sendok menyentuh piring

ilustrasi memotret makanan (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Begitu makanan datang, meja biasanya tidak langsung riuh oleh suara sendok dan gelas, melainkan oleh kalimat, “Tunggu, jangan dimakan dulu.” Satu orang mulai menggeser piring ke tengah, yang lain menarik minuman agar labelnya menghadap kamera. Ada yang berdiri sebentar demi sudut foto lebih pas, ada juga yang mengecek hasilnya sambil sedikit mengernyit karena pencahayaan kurang terang.

Setelah beberapa jepretan dan pilihan foto diputuskan, barulah buka puasa benar-benar dimulai. Tidak ada yang secara resmi mengatur, tetapi kebiasaan itu terasa seperti kebiasaan. Sebagian orang mungkin hanya ikut-ikutan agar tidak terlihat berbeda, sebagian lain memang menikmati prosesnya.

2. Bukber sering dianggap momen yang perlu diabadikan

ilustrasi bukber (pexels.com/PNW Production)

Banyak orang melihat bukber sebagai peristiwa yang sayang dilewatkan begitu saja. Pertemuan dengan teman lama, suasana meja penuh makanan, hingga momen tertawa bersama terasa ingin disimpan dalam bentuk foto. Tidak sedikit yang sudah membayangkan takarir, bahkan sebelum sampai di lokasi. Tujuannya sederhana: ingin punya catatan tentang kebersamaan tersebut.

Karena itu, beberapa menit awal sering dipakai untuk memastikan foto terasa pas. Ada yang mengulang pengambilan gambar karena ekspresi belum kompak, ada juga yang menunggu semua orang siap sebelum mengunggah. Setelah urusan dokumentasi selesai, barulah obrolan berjalan lebih lepas. Bukber tetap berlangsung hangat, hanya saja ada jeda singkat untuk mengabadikan momen lebih dulu.

3. Tempat makan kini banyak dirancang agar terlihat Instagrammable

ilustrasi tempat makan (pexels.com/Wendy Wei)

Sekarang, cukup banyak tempat makan yang memang disiapkan supaya menarik dilihat di kamera. Lampu dibuat lebih hangat, dinding diberi mural, bahkan posisi meja diatur agar tampak rapi saat difoto. Tanpa disuruh, orang biasanya langsung sadar kalau sudut ruangan terlihat cocok dijadikan latar foto. Situasi seperti ini membuat kegiatan memotret terasa wajar sejak awal datang.

Akibatnya, memilih lokasi bukber sering tidak lagi hanya soal rasa makanan atau harga, tetapi juga tampilan tempatnya. Ada yang sengaja datang lebih cepat agar sempat berkeliling mencari spot yang dianggap paling bagus. Obrolan tetap berjalan, hanya sering terpotong karena ada yang berdiri untuk mengambil foto. Bukber akhirnya terasa seperti makan bersama yang diselingi sesi foto ringan, bukan sepenuhnya fokus pada percakapan.

4. Hadir rasanya belum lengkap kalau belum masuk foto

ilustrasi foto bersama (pexels.com/ELEVATE)

Di beberapa kelompok pertemanan, ada momen ketika semua sudah bersiap pulang, tetapi satu orang tiba-tiba berkata, “Eh, foto dulu.” Semua kembali duduk, merapat, lalu tersenyum ke arah kamera. Setelah itu, biasanya masing-masing langsung mengecek hasilnya dan memastikan wajah mereka tidak terpejam atau terpotong. Ada yang langsung mengunggah, ada juga yang menunggu giliran ditandai.

Situasi seperti ini membuat dokumentasi terasa seperti penutup wajib. Kadang, obrolan belum benar-benar tuntas, tetapi sesi foto sudah dianggap cukup mewakili pertemuan malam itu. Beberapa orang bahkan lebih sibuk memikirkan takarir daripada melanjutkan cerita yang tadi sempat terputus. Bukber tetap berjalan hangat, hanya saja penanda “sudah kumpul” kini sering ditentukan oleh foto bersama, bukan oleh panjangnya percakapan.

5. Jadwal yang saling bertabrakan membuat bukber terasa singkat

ilustrasi bukber (pexels.com/fauxels)

Banyak orang datang ke bukber setelah pulang kerja dalam kondisi sudah lelah. Ada yang masih membuka laptop sebelum berangkat, ada yang sejak siang sudah menghitung waktu agar tidak terlambat. Begitu azan selesai dan makanan habis, sebagian mulai melihat jam karena esok pagi tetap harus bangun lebih awal. Tidak sedikit yang sudah pamit, bahkan sebelum suasana benar-benar cair.

Dalam situasi seperti itu, sesi foto terasa seperti jalan tengah yang paling mudah. Cukup berdiri sebentar, ambil gambar, unggah dengan takarir singkat, lalu pertemuan dianggap lengkap. Obrolan panjang sering tertunda karena waktu tidak memberi ruang. Bukber tetap menyenangkan, hanya durasinya singkat di tengah minggu yang padat.

Buka bersama pada akhirnya bukan soal siapa yang paling banyak ngobrol atau paling cepat mengunggah konten. Kebiasaan mendokumentasikan momen tidak selalu mengurangi makna pertemuan, tetapi bisa menggeser fokus tanpa disadari. Kalau bukber kamu seperti apa?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎