Pasangan yang baik menjadi impian semua orang. Gak ada orang yang bercita-cita menikah dengan seseorang yang suka berbuat buruk padanya. Ikatan pernikahan yang seharusnya bahagia berubah menjadi siksaan sampai masa tua jika terus dipertahankan.
Kenapa Pasangan yang Baik Malah Disia-siakan di Percintaan?

- Pasangan baik bisa disia-siakan ketika cinta berjalan satu arah, sementara pihak lain hanya menikmati perhatian tanpa kesiapan membalas kasih sayang secara sepadan.
- Sikap mudah memaafkan dan memenuhi semua permintaan dapat dimanfaatkan pasangan, memicu rasa terlalu percaya diri, perselingkuhan, atau perilaku semena-mena.
- Kebiasaan menerima kebaikan dapat membuat seseorang bosan atau tidak menghargai pasangan; karena itu, kebaikan perlu diimbangi ketegasan dan perhatian pada karakter pasangan.
Akan tetapi, kebaikan seseorang ternyata tidak selalu disyukuri oleh pasangannya. Bukan pasangannya berterima kasih dan membalasnya dengan sikap yang baik pula, malah menyia-nyiakan. Ada pasangan baik yang diselingkuhi, menjadi korban KDRT, dan sebagainya.
Mengapa ada pasangan yang baik malah disia-siakan di percintaan? Cari tahu jawabannya supaya kamu lebih berhati-hati dalam mencari pasangan. Juga supaya setelah dirimu memperoleh pasangan berhati malaikat, tahu cara membalas kebaikannya dengan tepat.
1. Cinta satu arah

ilustrasi pasangan (pexels.com/Eman Genatilan) Orang yang sedang sangat jatuh cinta bisa hanya fokus pada perasaannya. Dia bersikap seperti matahari, memberikan cahaya kepada bumi tanpa mengharapkan balasan apa pun. Semuanya serba gratis asalkan orang yang dicintai merasa nyaman.
Sikap begini menciptakan jurang untuk diri sendiri. Dia tidak sadar jatuh dalam hubungan asmara yang semu. Hanya ia yang jatuh cinta sampai level tergila-gila, sedangkan pasangan sebenarnya cuma suka memperoleh perhatiannya.
Sama sekali bukan tanda bahwa dia siap membalas curahan kasih sayang tersebut secara sepadan. Masalahnya, manusia tetap butuh balasan emosi yang sesuai. Ini yang lama-kelamaan membuat pihak yang mencintai sepenuh hati merasa lelah dan terluka.
2. Pasangannya sangat yakin akan selalu dimaafkan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Tùng Sơn) Salah satu ciri orang baik adalah mudah memaafkan. Apalagi, orang yang melakukan kesalahan masih orang terdekatnya. Pasti ada rasa gak enak untuk tidak memaafkan. Memaafkan kesalahannya terasa sebagai kewajiban.
Tidak ada pilihan lain untuknya. Memaafkan tetap merupakan tindakan yang baik. Namun, pasangan yang tahu dirinya akan selalu dimaafkan kadang justru memanfaatkannya. Dia tanpa beban moral melakukan berbagai kesalahan.
Sekalipun ia sebenarnya mengerti bahwa tindakannya terbilang fatal. Seandainya dia yang menjadi korban pun, pasti gak bisa merasa baik-baik saja. Ini sebabnya penting untuk tetap mengimbangi niat tulus untuk memaafkan siapa pun dengan ketegasan.
3. Merasa dirinya sangat memesona

ilustrasi pasangan (pexels.com/Daniel Diaz) Bentuk kebaikan pasangan sangat bermacam-macam. Tidak hanya dia gampang memaafkan kesalahan pasangannya dan bersikap seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa. Ia juga mencurahkan perhatiannya pada orang yang dicintai.
Termasuk dia memenuhi segala permintaan pasangan. Sikap-sikap di atas, jika dilakukan secara berlebihan, dapat terkesan seperti seseorang sedang menghambakan dirinya. Pasangannya menjadi merasa memiliki pesona yang luar biasa sampai dicintai secara ugal-ugalan begini.
Kepercayaan dirinya melonjak hingga batas yang tidak sehat. Akibatnya, di luar dia mulai berani tebar pesona. Ia yakin bahwa lawan jenis di luar sana juga akan dengan mudah terpikat olehnya dan memperlakukannya seperti raja atau ratu.
4. Gak sadar kalau orang lain belum tentu bisa sebaik pasangan saat ini

ilustrasi perselingkuhan (pexels.com/Israyosoy S.) Ketika seseorang sekian tahun didampingi oleh pasangan yang selalu bersikap baik padanya, ia bisa seperti hidup dalam gelembung. Dia tidak mampu melihat hal-hal lain di luar gelembung itu. Ia berpikir semua orang, apalagi lawan jenis yang jatuh cinta padanya, juga akan bersikap sebaik pasangannya sekarang.
Dia pun mulai berselingkuh, bahkan sampai menikah lagi tanpa sepengetahuan pasangan sahnya. Setelah masa bulan madu habis, baru dia pelan-pelan menyadari satu hal. Orang lain tidak pernah sebaik pasangan resminya.
Pasangannya gak pernah membentaknya. Kekasih gelapnya bahkan dapat memakinya dengan kata yang paling kasar saat mereka bertengkar tentang hal paling sepele sekalipun. Kesadaran dan penyesalan sekuat apa pun tak lagi berguna.
5. Kebaikan bertubi-tubi menciptakan kejenuhan dalam hubungan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Gera Cejas) Saking pasangan selalu bersikap baik tanpa cela, beberapa orang bukannya menikmati dan mensyukurinya, malah merasa bosan. Hubungan menjadi terasa kurang menantang. Rumah tangga terlalu aman serta kehilangan daya tariknya.
Ia dapat terdorong untuk mulai menciptakan riak-riak dalam perkawinannya. Caranya dengan sengaja melakukan hal-hal yang akan memancing emosi pasangan. Dia tidak sadar bahwa perilaku seperti di atas dapat sukar dihentikan.
Ia seakan-akan ketagihan melihat pasangan yang selama ini baik sekali mulai emosional. Dia meningkatkan ulahnya menjadi kian menjengkelkan. Riak yang awalnya diciptakan hanya untuk membuat hubungan lebih berwarna malah dapat memunculkan gelombang besar yang menelan dan menenggelamkan pernikahan mereka.
6. Tipe orang tak tahu diri dan sulit menghargai

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RODNAE Productions) Pribadi yang tidak tahu diri dan sulit menghargai kebaikan orang lain akan terus menyia-nyiakannya. Sikapnya tak hanya berlaku pada pasangan. Dalam lingkungan pertemanan, persaudaraan, pekerjaan, dan pergaulan dengan tetangga pun konsisten seperti itu.
Dia diuntungkan oleh kebaikan orang-orang di sekitarnya, termasuk pasangan, tapi kerap menyangkalnya. Ia tak pernah mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang padanya. Cara berpikirnya selalu bahwa dirinya gak butuh semua kebaikan itu.
Padahal seandainya pasangan atau siapa pun berhenti total bersikap baik padanya, pasti dia tak sanggup bertahan dalam kerasnya hidup. Maka dari itu, kalau kamu lagi mencari pasangan sehidup semati, waspadai sikap-sikap yang mengarah pada karakter tak tahu diri dan sulit menghargai kebaikanmu. Misalnya, dia pernah mencela pemberian atau bentuk perhatianmu.
Gak jarang pasangan yang baik malah disia-siakan di percintaan. Meski begitu, tidak berarti kamu perlu ketakutan dan gak mau lagi menjadi suami atau istri yang baik. Kebaikan hatimu hanya perlu dibarengi dengan kemampuan untuk tegas pada saat yang tepat. Ini menghindarkanmu dari sikap semena-mena pasangan.






















