“Ini sangat normal dan mungkin gak ada hubungannya dengan kebahagiaan dalam hubungan secara keseluruhan. Crush membuat orang merasa menarik dan hidup, dan orang sering mengalaminya bahkan ketika mereka sangat berkomitmen pada pasangannya, tetapi hubungan tersebut sudah gak lagi berada dalam fase bulan madu yang penuh gairah,” ujar Samantha Rodman, seorang psikolog, dikutip dari HuffPost.
Punya Pasangan tapi Diam-diam Naksir Orang Lain? Ini Cara Menyikapinya

Punya pasangan bukan berarti kamu otomatis berhenti merasa tertarik pada orang lain. Sesekali mengagumi atau merasa naksir seseorang bisa terjadi, bahkan ketika hubunganmu dengan pasangan sedang baik-baik saja. Namun, perasaan tersebut perlu disikapi dengan bijak agar gak berkembang menjadi masalah dalam hubungan.
Rasa suka pada orang lain juga gak selalu berarti kamu sudah gak mencintai pasangan. Yang perlu diperhatikan justru bagaimana kamu memperlakukan perasaan tersebut setelah menyadarinya. Kalau mulai mengganggu kedekatan dengan pasangan, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Yuk, simak cara menyikapinya lewat artikel berikut ini!
1. Sadari bahwa rasa tertarik pada orang lain bisa terjadi

ilustrasi pasangan sedang berkonsultasi (pexels.com/gustavo-fring) Ketertarikan pada orang lain merupakan sesuatu yang gak selalu bisa kamu kendalikan. Ketika menjalani hubungan dalam waktu lama, kamu tetap bisa menemukan orang yang menarik secara fisik, menyenangkan diajak bicara, atau memiliki karakter yang kamu kagumi. Karena itu, munculnya rasa naksir sesekali gak otomatis berarti ada yang salah dengan hubunganmu.
Psikolog Samantha Rodman menjelaskan bahwa seseorang bisa memiliki crush meski tetap berkomitmen pada pasangannya. Perasaan tersebut juga dapat membuat seseorang merasa menarik dan bersemangat, terutama ketika hubungan sudah melewati fase bulan madu.
2. Cari tahu apa yang sebenarnya membuatmu tertarik

ilustrasi pasangan sedang berkonsultasi (pexels.com/ai25studioai) Setelah mengakui adanya rasa suka, coba tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang tersebut begitu menarik bagimu. Bisa jadi kamu menyukai sifat tertentu yang jarang kamu temukan dalam hubungan sekarang, seperti komunikasi yang menyenangkan, perhatian, humor, atau spontanitas. Perasaan itu juga mungkin muncul karena kamu sedang merasa bosan atau membutuhkan sesuatu yang belum terpenuhi dalam hubungan.
Crush terkadang terasa menarik karena memberikan sesuatu yang sedang kamu rindukan dalam hubungan. Karena itu, keberadaan orang ketiga bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali kebutuhan yang belum terpenuhi tanpa langsung menganggap crush sebagai pasangan yang lebih cocok.
“Orang sering membicarakan bahwa crush memenuhi kebutuhan yang gak terpenuhi dalam hubungan yang sudah mereka Jalani,” ujar Ryan Howes, seorang psikolog, dikutip dari HuffPost.
3. Perhatikan apakah crush mulai mengganggu hubungan

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/olly) Rasa suka perlu diperhatikan ketika kamu mulai memberi ruang agar perasaan tersebut berkembang. Misalnya, sengaja mencari kesempatan bertemu, sering memeriksa media sosialnya, membayangkan hubungan dengannya, atau menyembunyikan interaksi dari pasangan. Jika perhatian dan energimu lebih banyak tercurah kepada crush daripada pasangan, situasinya perlu dievaluasi.
Salah satu tanda lainnya adalah ketika kamu mulai lebih ingin menceritakan kabar baik maupun buruk kepada crush daripada pasangan. Kamu mungkin gak bisa mengontrol munculnya rasa tertarik, tetapi tetap bisa menentukan apakah akan terus memupuk perasaan tersebut melalui pikiran, komunikasi, atau tindakan.
“Jika crush mulai mengganggu keintiman fisik atau emosional yang kamu miliki dalam hubungan utama, atau kamu mulai memupuk fantasi tentang hal itu terjadi, kamu sudah berada dalam situasi yang berbahaya,” ujar Ryan Howes.
4. Buat batasan dengan crush dan diri sendiri

ilustrasi pasangan sedang membaca (pexels.com/rdne) Kalau ingin mempertahankan hubungan, membuat batasan dengan crush bisa membantu agar perasaan tersebut gak semakin kuat. Kamu bisa mengurangi komunikasi yang gak perlu, berhenti mencari alasan untuk berduaan, dan menghindari situasi yang berpotensi membuat hubungan semakin intim. Batasan ini bukan berarti harus bersikap kasar kepada crush, melainkan menjaga agar kedekatan kalian tetap sesuai.
Afton Turner, LPCA, seorang konselor kesehatan mental, dikutip dari Verywell Mind, menyarankan agar seseorang membuat batasan dengan pasangan, crush, dan dirinya sendiri ketika menghadapi situasi seperti ini. Jika energi dan perhatianmu banyak diberikan kepada crush, coba alihkan kembali sebagian energi tersebut kepada pasangan dengan menciptakan lebih banyak momen menyenangkan bersama.
“Tetapkan batasan dengan pasangan, crush, dan dirimu sendiri,” ujar Afton Turner.
5. Gunakan perasaan itu untuk mengevaluasi hubungan

ilustrasi pasangan sedang berdiskusi (pexels.com/pavel-danilyuk) Crush gak selalu harus dianggap sebagai ancaman karena perasaan tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk memahami hubunganmu dengan lebih jujur. Coba perhatikan apakah kamu sebenarnya sedang merindukan perhatian, komunikasi yang lebih hangat, waktu berkualitas, atau sisi menyenangkan yang mulai hilang dari hubungan. Setelah mengetahuinya, kamu bisa membicarakan kebutuhan tersebut dengan pasangan.
Kalau menemukan masalah yang lebih mendasar, fokuslah pada masalah tersebut dan cari cara untuk memperbaikinya bersama. Namun, jika hubungan memang sudah gak bisa dijalani dengan sehat, selesaikan hubungan tersebut secara jujur sebelum memulai hubungan dengan orang lain.
Punya crush saat sudah berpasangan bukan hal utama yang perlu dipermasalahkan, melainkan bagaimana kamu menyikapi perasaan tersebut. Jangan sampai rasa suka sesaat justru membuatmu mengabaikan hubungan yang sedang dijalani.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















