Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sahabat Lawan Jenis Setelah Menikah, Boleh atau Tidak? Ini 5 Batasannya

Sahabat Lawan Jenis Setelah Menikah, Boleh atau Tidak? Ini 5 Batasannya
ilustrasi teman (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Pernikahan tidak mengharuskan pertemanan lawan jenis berakhir, tetapi pasangan perlu menyepakati batas komunikasi, pertemuan berdua, dan curhat agar menghindari salah paham.
  • Kedekatan dengan sahabat lawan jenis perlu dijaga agar tidak menjadi ketergantungan emosional atau menggantikan peran pasangan, terutama saat menghadapi konflik dan keputusan penting.
  • Transparansi, interaksi yang tetap wajar, serta melibatkan pasangan dalam lingkaran pertemanan membantu menjaga persahabatan tetap sehat tanpa mengorbankan privasi dan kepercayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menikah bukan berarti seluruh pertemanan yang kamu punya sebelum menikah harus berakhir. Kamu tetap bisa punya sahabat lawan jenis untuk bertukar cerita, bekerja sama, atau sesekali nongkrong bareng. Pernikahan merupakan komitmen baru, tapi bukan berarti kehidupan sosialmu otomatis berhenti.

Yang berubah adalah cara kamu menjaga hubungan tersebut agar tak mengganggu kepercayaan dan kenyamanan pasangan. Masalahnya, batas antara persahabatan dan kedekatan yang mulai terlalu jauh kadang gak terlihat jelas. Situasi seperti ini bisa menjadi rumit karena ada batas yang tidak pernah dibicarakan. Jadi, boleh atau tidak punya sahabat lawan jenis setelah menikah? Ini batasan yang harus disepakati dulu.

  1. 1. Sepakati dulu arti "batas" dalam pernikahan

    Pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Katerina Holmes)

    Setiap pasangan bisa memiliki pandangan berbeda tentang batas pertemanan. Ada pasangan yang merasa chat dengan teman lawan jenis masih wajar. Ada juga yang menganggap hal tersebut sudah melewati batas kenyamanan. Karena itu, jangan mengandalkan asumsi bahwa pasangan pasti memiliki pemikiran yang sama denganmu.

    Hal yang menurutmu biasa belum tentu sama bagi pasangan. Kamu dan pasangan perlu membicarakan seberapa sering berkomunikasi dengan sahabat lawan jenis, apakah boleh pergi berdua, bagaimana dengan curhat soal masalah rumah tangga, atau apakah ada topik tertentu yang sebaiknya tidak dibicarakan dengan teman. Semakin jelas batasnya, semakin kecil kemungkinan muncul salah paham di kemudian hari.

  2. 2. Jangan menjadikan sahabat sebagai "pasangan cadangan"

    Berbicara
    ilustrasi berbicara (pexels.com/ SHVETS production)

    Sahabat memang bisa menjadi tempat bercerita. Namun, setelah menikah, kamu perlu memperhatikan jenis kedekatan emosional yang dibangun dengan sahabat lawan jenis. Ada perbedaan antara bercerita kepada teman dan menjadikan seseorang sebagai tempat bergantung secara emosional.

    Misalnya, setiap kali bertengkar dengan pasangan, kamu selalu menghubungi sahabat. Saat sedang sedih, kecewa, atau membutuhkan keputusan penting, pendapat sahabat justru lebih kamu cari daripada pasangan. Lama-kelamaan, hubungan tersebut bisa berubah menjadi ketergantungan emosional yang harus diwaspadai.

  3. 3. Hindari hal yang sengaja disembunyikan dari pasangan

    Pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Salah satu indikator untuk mengetahui apakah sebuah pertemanan sudah melewati batas adalah melihat apakah kamu merasa perlu menyembunyikannya. Misalnya, kamu menghapus chat agar pasangan gak lihat, menggunakan nama samaran, berbohong ketika ditanya sedang bersama siapa. Bisa jadi ada hal-hal lain yang kamu lakukan demi tidak diketahui pasangan.

    Kalau sebuah hubungan memang sehat, seharusnya tidak membuatnya terlihat seperti sesuatu yang rahasia. Transparansi bukan berarti pasangan harus memiliki akses ke seluruh isi ponselmu. Privasi tetap penting dalam pernikahan. Namun, privasi berbeda dengan kerahasiaan yang sengaja dibuat untuk menyembunyikan sesuatu.

  4. 4. Perhatikan bentuk interaksi, bukan sekadar status teman

    Teman
    ilustrasi teman (unsplash.com/abstralofficial)

    Kadang seseorang merasa aman karena selalu mengatakan, "Kami cuma teman." Padahal, status tersebut tidak otomatis membuat semua bentuk interaksi menjadi aman. Coba perhatikan bagaimana kamu dan sahabat berkomunikasi. Apakah ada panggilan khusus yang romantis? Apakah sering saling menggoda dengan konteks seksual?

    Apakah sering mengatakan rindu? Apakah ada sentuhan fisik yang sebenarnya tidak diperlukan? Hal-hal kecil seperti ini bisa menjadi masalah ketika intensitasnya mulai menyerupai hubungan romantis. Bukan berarti kamu harus menghindari semua interaksi dengan lawan jenis. Fokusnya adalah menjaga agar pola hubungan tersebut tetap berada dalam koridor persahabatan.

  5. 5. Libatkan pasangan dalam kehidupan pertemananmu

    Teman
    ilustrasi nongkrong bareng teman (pexels.com/wildlittlethingsphoto)

    Cara membuat persahabatan lawan jenis tetap sehat setelah menikah adalah tidak menciptakan dua dunia yang terpisah. Kamu bisa memperkenalkan sahabat kepada pasangan dan sesekali mengajak pasangan ketika sedang berkumpul bersama teman. Dengan begitu, hubungan tersebut gak terasa seperti sesuatu yang eksklusif dan tersembunyi.

    Bukan berarti pasangan harus selalu ikut setiap kali kamu bertemu sahabat. Kamu tetap berhak memiliki ruang sosial sendiri. Namun, keterbukaan bisa membuat pasangan merasa lebih aman karena mereka tahu siapa orang yang cukup dekat denganmu. Begitu juga sebaliknya, kamu perlu memberi pasangan ruang untuk memiliki teman dan kehidupan sosialnya sendiri.

    Punya sahabat lawan jenis setelah menikah sebenarnya sah-sah saja. Kamu tetap bisa mempertahankan pertemanan selama hubungan tersebut tidak menggeser posisi pasangan, tidak melibatkan kebohongan, dan tidak melanggar batas yang sudah disepakati bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More