Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Situationship: Kenapa Hubungan Makin Abu-abu dan Disukai Sebagian Gen ?
Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)
  • Situationship menggambarkan hubungan tanpa label dan komitmen jelas, populer di kalangan muda karena menawarkan kedekatan emosional tanpa beban hubungan formal.
  • Aplikasi kencan dan budaya digital mendorong munculnya situationship, memberi fleksibilitas namun juga menimbulkan kebingungan serta kecemasan akibat ketidakpastian status.
  • Psikolog menilai komunikasi jujur dan evaluasi diri penting agar hubungan tetap sehat, sebab situationship bisa memicu stres bila harapan kedua pihak tidak sejalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era aplikasi kencan dan media sosial, istilah situationship semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Situationship menggambarkan hubungan yang terasa seperti pacaran, tetapi tidak memiliki status, komitmen, atau kejelasan arah. Dua orang bisa saling menghabiskan waktu, menunjukkan perhatian, bahkan memiliki kedekatan emosional, namun tidak pernah benar-benar mendefinisikan hubungan mereka.

Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa semakin banyak orang memilih hubungan tanpa label? Apakah situationship merupakan bentuk hubungan modern yang sehat atau justru menciptakan kebingungan emosional?

1. Apa itu situationship dan mengapa semakin populer?

Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Egor Ivlev)

Situationship adalah hubungan romantis yang tidak memiliki definisi atau komitmen yang jelas. Berbeda dengan hubungan pacaran yang umumnya memiliki ekspektasi bersama, situationship berada di wilayah abu-abu sehingga kedua pihak sering kali memiliki pemahaman yang berbeda mengenai status mereka.

"Situationship ditandai dengan kurangnya kewajiban atau eksklusivitas, tetapi ciri khas sebenarnya adalah kurangnya batasan atau label yang jelas. Ada unsur persahabatan dan romantis, tetapi itu ada tanpa mendefinisikan hubungan tersebut,” kata psikolog Susan Albers, PsyD dikutip dari Cleveland Clinic.

Popularitas situationship tidak lepas dari perubahan budaya berkencan. Banyak orang ingin menikmati kedekatan emosional tanpa merasa terbebani komitmen jangka panjang. Fleksibilitas tersebut dianggap cocok dengan gaya hidup modern yang serba cepat, meski pada akhirnya tidak selalu memberikan kepastian emosional.

2. Pengaruh aplikasi kencan dan budaya digital

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

Kemudahan bertemu orang baru melalui aplikasi kencan membuat sebagian orang merasa tidak perlu buru-buru mendefinisikan hubungan. Selalu ada kemungkinan bertemu pasangan lain sehingga sebagian individu memilih mempertahankan hubungan tanpa label sambil melihat peluang yang tersedia.

Situationship bisa saja menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab dan ekspektasi yang melekat pada sebuah hubungan. Hubungan ini bisa membawa sisi positif karena memungkinkan kamu untuk merasakan koneksi yang akan kamu alami dalam hubungan standar dan kemandirian yang datang dengan status lajang. Tapi di sisi lain, jika kamu tidak jelas tentang sifat keterlibatanmu, hubungan tidak dapat berkembang.

"Otak kita sangat menyukai kejelasan. Otak cenderung ke hitam dan putih, jadi area abu-abu ini bisa sangat sulit diproses dan bahkan dapat menimbulkan kecemasan,” kata Susan Albers.

3. Mengapa banyak orang bertahan dalam situationship?

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Luis Zambrano)

Tidak sedikit orang bertahan dalam situationship karena berharap hubungan tersebut suatu saat berubah menjadi hubungan yang resmi. Ada pula yang merasa takut kehilangan sehingga memilih menerima ketidakjelasan daripada harus mengakhiri hubungan.

"Kuncinya adalah menjaga komunikasi tetap terbuka, meskipun hubungan tersebut bersifat kasual. Jika kamu merasa tidak bahagia jika semuanya tidak didefinisikan, jangan berasumsi pasangan kamu menyadari perasaanmu," laporan Healthline yang telah ditinjau oleh terapis Janet Brito, Ph.D., LCSW, CST-S.

Di sisi lain, sebagian orang memang merasa situationship sesuai dengan kebutuhan hidup mereka saat ini, misalnya karena belum siap berkomitmen atau masih fokus pada pendidikan dan karier. Masalah bisa muncul ketika kedua pihak memiliki tujuan yang berbeda sehingga ketidakjelasan berubah menjadi sumber stres.

4. Dampak psikologis dari hubungan yang tidak jelas

Ilustrasi pasangan merasa bosan (pexels.com/Photo by Ron Lach)

Hubungan tanpa kepastian dapat memicu kecemasan karena seseorang sulit mengetahui posisi dirinya di mata pasangan. Perasaan bingung mengenai masa depan hubungan sering kali membuat individu terus-menerus menebak maksud dan sikap lawan bicaranya.

Dalam ulasan Verywell Mind, psikolog klinis Dr. Sabrina Romanoff, PsyD menjelaskan bahwa situationship memang dapat memberikan kebebasan, tetapi juga berpotensi menciptakan rasa tidak aman dan keraguan terhadap diri sendiri ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi. Ketika salah satu pihak menginginkan komitmen sementara pihak lain tidak, konflik batin menjadi sulit dihindari.

"Kerugian utama dari hubungan tanpa status adalah setiap pasangan mungkin memiliki harapan yang berbeda untuk hubungan tersebut. Meskipun kedua pasangan mungkin setuju dengan dinamika ketika mereka memasuki hubungan tanpa status, satu orang mungkin menginginkan lebih dari yang bersedia diberikan oleh orang lain," jelasnya.

"Berada dalam hubungan tanpa stabilitas atau konsistensi juga bisa menimbulkan stres. Hal ini terutama berlaku jika kamu mulai mengembangkan harapan terhadap pasanganmu, tetapi dia belum berkomitmen untuk memenuhi harapan tersebut," tambah Romanoff.

5. Bagaimana menghadapi situationship dengan sehat?

Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)

Menghadapi situationship memerlukan kejujuran terhadap diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya diinginkan. Jika tujuan utamanya adalah hubungan serius, penting untuk mengomunikasikan harapan tersebut daripada terus bertahan dalam ketidakpastian.

Dalam pembahasannya, Healthline menekankan bahwa bersikap jujur mengenai perasaan sendiri penting demi kesehatan mental. Bahkan jika pembicaraan tersebut berisiko mengubah dinamika hubungan, kejelasan dapat membantu kedua pihak mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

"Kamu harus memprioritaskan hubungan dengan orang-orang yang membuat kamu merasa nyaman. Hubungan yang sehat tidak harus monogami atau bahkan berkomitmen dalam arti tradisional, tetapi harus dibangun di atas komunikasi terbuka, kepercayaan, rasa hormat, dan keintiman," demikian dikutip dari Healthline.

Selain itu, mungkin kamu perlu mengevaluasi apakah hubungan tersebut memberikan rasa aman, saling menghormati, dan dukungan emosional. Jika situationship justru terus memunculkan kebingungan dan kecemasan tanpa adanya kemajuan, mengakhiri hubungan bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding mempertahankan harapan yang tidak pasti.

Situationship menjadi salah satu gambaran perubahan cara orang menjalin relasi di era modern. Fleksibilitas dan minimnya komitmen memang menarik bagi sebagian orang, tetapi hubungan tanpa definisi juga dapat memunculkan kebingungan apabila ekspektasi kedua belah pihak tidak sejalan.

Editorial Team

Related Article