Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma Biaya Kuliah, Ini 3 Hal yang Didapat Penerima Beasiswa SCG

Bukan Cuma Biaya Kuliah, Ini 3 Hal yang Didapat Penerima Beasiswa SCG
President Director SCG Pattaraphon Charttongkum bersama Kepala Pusat Prestasi Kemdikdasmen Dr. Maria Veronica Irene, Vice President Corporate Administration, dan Lulita Sauman, penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025 dalam media briefing di Jakarta (11/8/2026). (IDN Times/Maura Thirza)
  • Penerima Beasiswa SCG Sharing the Dream 2025, Lulita Sauman, mendapat dukungan pendidikan sekaligus perubahan pola pikir melalui mentoring tentang kepemimpinan yang melibatkan masyarakat sebagai mitra.
  • Program ini memperluas jejaring Lulita dengan sesama penerima dan mentor dari beragam latar, menjadi ruang bertukar pengalaman, ide, informasi, serta saling mendukung kontribusi sosial.
  • Melalui proyek pemberdayaan perempuan Wanoja di Ciwidey, Lulita mengubah kepedulian sosial menjadi aksi, dengan fokus pada kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan manfaat bagi generasi berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Saat mendengar kata beasiswa, hal yang mungkin terlintas adalah bantuan biaya pendidikan. Padahal, bagi pelajar, kesempatan mendapat beasiswa juga bisa menjadi awal pengalaman yang baru yang tidak selalu didapat di ruang kelas saja. Mulai dari bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, terlibat dalam kegiatan sosial, sampai belajar melihat persoalan di sekitar dari sudut pandang yang berbeda.

Hal-hal tersebut juga dirasakan oleh Lulita Sauman, salah satu penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025, yang berbagi pengalamannya dalam acara SCG Sharing the Dream 2026 di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, pada 11 Agustus 2026. Lulita mengaku mengalami perubahan cara pandang setelah menerima program beasiswa tersebut. Lantas, selain bantuan biaya pendidikan, apa saja yang berubah dan didapatkan oleh Lulita sebagai penerima beasiswa SCG Sharing the Dream?

  1. 1. Mengubah cara pandang soal leadership

    Lulita Sauman (Lulu) membagikan pengalaman sebagai penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025 dalam sebuah acara.
    Lulita Sauman (Lulu) ketika membagikan pengalamannya sebagai penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025 (IDN Times/Maura Thirza)

    Bagi Lulita, menjadi penerima beasiswa SCG Sharing the Dream gak hanya membuat Lulita mendapat dukungan untuk pendidikan, tetapi juga mengubah cara pandangnya tentang kepemimpinan. Lewat mentoring yang didapatkan sebagai penerima beasiswa, ia belajar bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar memberi instruksi, melainkan memahami kebutuhan masyarakat dan melibatkan mereka dalam prosesnya.

    "Ketika mendapatkan beasiswa ini, tentunya tidak hanya dengan pendidikan, tetapi juga ada shifting mindset terutama soal kepemimpinan. Aku ketika menjadi leader, I have to make this society as my partners. Jadi, impact yang nantinya dibawa dari proyek not only belongs to me, but also belongs to them," ujarnya, dalam Media Briefing SCG Sharing the Dream di Graha Utama, Gedung A Kemendikdasmen (Lantai 3) Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

    Menurutnya, cara pandang tersebut membuat dia sadar bahwa masyarakat bukan hanya penerima manfaat dari sebuah proyek. Mereka juga perlu dilibatkan agar dampak yang dihasilkan bisa dirasakan dan diteruskan bersama.

  2. 2. Memperluas networking

    Warga lokal berpartisipasi dalam proyek komunitas sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di lingkungan mereka.
    Salah satu community project yang menjalin relasi dengan warga lokal juga sebagai pemberdayaan. (IDN Times/Maura Thirza)

    Menjadi penerima beasiswa juga bisa menjadi kesempatan untuk memperluas relasi. Selama mengikuti program, penerima beasiswa gak hanya mendapatkan dukungan untuk pendidikan, tetapi juga berada dalam lingkungan yang mempertemukan mereka dengan orang-orang baru dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari sesama penerima beasiswa hingga mentor, lingkungan ini bisa menjadi ruang untuk bertukar cerita, pengalaman, dan juga perspektif.

    Bagi Lulita, keberadaan komunitas sesama penerima beasiswa membuatnya bisa bertemu dengan anak muda yang memiliki keresahan dan kepedulian terhadap isu sosial yang beragam. Interaksi ini bisa menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan ide dari berbagai sudut pandang.

    Relasi yang terbentuk pun gak harus berhenti selama program berlangsung. Koneksi dengan sesama penerima beasiswa bisa menjadi ruang untuk terus bertukar informasi, berbagi kesempatan, maupun saling mendukung ketika masing-masing mulai menjalankan kontribusinya di lingkungan mereka.

  3. 3. Terdorong menjadi "Green Active Generation"

    Lulita Sauman atau Lulu, Green Active Generation, menjalankan proyek Wanoja untuk pemberdayaan perempuan di Ciwidey.
    Lulita Sauman (Lulu) berkontribusi sebagai Green Active Generation dengan project Wanoja terkait pemberdayaan perempuan di wilayah Ciwidey. (IDN Times/Maura Thirza)

    Punya kepedulian terhadap isu di sekitar tentu menjadi langkah awal. Namun, lewat program beasiswa SCG Sharing the Dream, Lulita mendapat kesempatan untuk membawa kepedulian tersebut ke aksi nyata melalui proyek pemberdayaan perempuan yang bernama Wanoja di Ciwidey, Jawa Barat.

    Dari proyek tersebut, ia belajar bahwa memberikan dampak gak cukup hanya dengan membawa ide sendiri. Lulita perlu melihat langsung kebutuhan masyarakat dan memikirkan bagaimana manfaatnya bisa terus berjalan.

    "Gak cuma memberikan ide, tapi juga tahu masyarakat butuhnya ini dan yang berkelanjutan biar manfaatnya gak cuma berhenti di aku. Harapannya, apa yang dimulai lewat proyek tersebut bisa terus ditularkan oleh masyarakat yang terlibat dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya," pungkasnya.

    Pengalaman tersebut membuat Lulita memahami bahwa kontribusi bukan hanya tentang membuat suatu program, tetapi juga memastikan manfaatnya terus berlanjut. Dari sana, sebagai penerima beasiswa, Lulita membantu mengubah kepedulian terhadap masyarakat menjadi aksi yang lebih nyata.

    Pengalaman Lulita menunjukkan bahwa beasiswa dapat memberikan lebih dari sekadar dukungan pendidikan. Kesempatan untuk belajar, bertemu orang baru, dan terlibat langsung di masyarakat bisa menjadi bagian dari proses penerima beasiswa untuk berkembang sekaligus menemukan cara mereka untuk bisa berkontribusi dan berdampak bagi sekitar. Pelajaran yang didapat dari pendidikannya tidak hanya sekadar teori, namun juga dapat diimplementasikan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More