Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tanda Hubungan Pernikahanmu Sedang di Fase Stagnan, Coba Solusi Ini!

3 min read
Tanda Hubungan Pernikahanmu Sedang di Fase Stagnan, Coba Solusi Ini!
Ilustrasi rumah tangga toxic (freepik.com/reportazh)
  • Hubungan dapat terasa stagnan ketika percakapan hanya membahas urusan rumah tangga dan tidak lagi menyentuh perasaan atau cerita sehari-hari.

  • Rutinitas yang berulang membuat pasangan kehilangan hal yang dinantikan, sedangkan pengalaman baru bersama dapat membantu membangun kembali kedekatan.

  • Rasa bosan berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah, tetapi ruang pribadi, pertemanan, dan komunikasi terbuka dapat menjadi bagian dari penyegaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua masalah dalam pernikahan datang dengan pertengkaran besar. Kadang, justru hal yang paling sunyi yang paling terasa: hari-hari yang berjalan sama, obrolan yang makin singkat, dan perasaan bahwa hubungan jalan di tempat. Tidak ada konflik yang berarti, tapi juga tidak ada lagi percikan yang dulu membuat kalian semangat satu sama lain.

Kondisi ini wajar dialami banyak pasangan, terutama setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama. Kabar baiknya, fase stagnan bukan akhir dari segalanya, asalkan kamu dan pasangan menyadarinya sejak awal dan mau berusaha memperbaikinya bersama. Yuk, kenali tanda-tandanya sekaligus solusi yang bisa dicoba!

  1. 1. Obrolan hanya seputar rumah saja

    Rumah tangga (pexels.com/ShotPot)
    ilustrasi rumah tangga (pexels.com/ShotPot)

    Salah satu tanda paling umum adalah percakapan yang hanya berisi logistik. Seperti, siapa yang menjemput anak, apa menu makan malam, atau tagihan bulan ini. Kalian tetap bicara setiap hari, tetapi jarang menyentuh perasaan, harapan, atau cerita kecil tentang hari masing-masing. Lama-lama, pasangan terasa seperti rekan kerja dalam urusan rumah tangga.

    Solusinya, mulailah memperhatikan 'ajakan' kecil dari pasangan dan meresponsnya dengan hangat. Menurut Zach Brittle, LMHC, Certified Gottman Therapist, dilansir The Gottman Institute, pasangan yang akhirnya bercerai, hanya merespons ajakan koneksi dari pasangannya sekitar 33 persen dari waktu. Sementara pasangan yang bertahan, jauh lebih sering menanggapinya. Jadi, saat pasangan menunjukkan sesuatu atau sekadar bercerita, coba berhenti sejenak, tatap, dan tanggapi. Hal sekecil itu yang membangun kembali koneksi.

  2. 2. Hari-hari terasa sama dan tidak ada yang dinantikan

    Ilustrasi rumah tangga yang gak sehat (pexels.com/RDNE Stock project)
    Ilustrasi rumah tangga yang gak sehat (pexels.com/RDNE Stock project)

    Berangkat kerja, pulang, makan, tidur, lalu mengulang lagi besok. Ketika setiap hari terasa seperti salinan hari sebelumnya, hubungan ikut kehilangan rasa baru. Kamu mungkin tidak lagi menantikan waktu berdua karena tidak ada yang berbeda dari biasanya.

    Solusinya, coba hal baru bersama, sesederhana apa pun. Psychology Today merangkum penelitian psikolog Arthur Aron. Isinya adalah:

    "Penelitian Arthur Aron meminta pasangan untuk menghabiskan waktu 90 menit seminggu untuk melakukan aktivitas yang tidak familier seperti panjat tebing atau mengambil kursus bahasa asing. Setelah 10 minggu menjalani kencan yang menarik tersebut, pasangan-pasangan itu merasa lebih dekat dibandingkan pasangan di kelompok lain yang tetap berpegang pada rutinitas tradisional berupa makan malam dan menonton film," tulis Jason Whiting Ph.D., professor di Brigham Young University dilansir Psychology Today.

    Intinya, bukan seberapa ekstrem aktivitasnya, melainkan seberapa baru dan menantang pengalamannya bagi kalian berdua. Atau, kamu juga bisa melakukan kegiatan lainnya. Misalnya, mencoba resep masakan yang belum pernah dibuat, ikut kelas singkat, atau menjelajahi tempat baru di akhir pekan.

  3. 3. Rasa bosan sudah jadi hal yang biasa

    ilustrasi rumah tangga diujung tanduk (pexels.com/Alex Green)
    ilustrasi rumah tangga diujung tanduk (pexels.com/Alex Green)

    Bosan dalam hubungan sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa panjang. Kamu mungkin mulai merasa pernikahan ini datar, tidak lagi excited bertemu pasangan, atau memilih sibuk dengan hal lain. Jika dibiarkan, perasaan ini perlahan mengikis kepuasan dalam hubungan.

    Gary W. Lewandowski Jr. Ph.D., Professor and former Chair Department of Psychology di Monmouth University, dari Psychology Today, mencatat bahwa penelitian jangka panjang menemukan pasangan yang melaporkan lebih banyak rasa bosan, juga melaporkan kepuasan hubungan yang lebih rendah sembilan tahun kemudian. Meski begitu, rasa bosan bisa dilihat sebagai kesempatan memperbaiki hubungan. Strategi yang biasa dipakai pasangan antara lain berbicara terbuka dengan pasangan, mencoba hal baru, bertemu teman, dan meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri. Jadi, menjaga ruang pribadi dan lingkaran pertemanan juga bagian dari menyegarkan pernikahan.

    Fase stagnan memang terasa tidak nyaman, tetapi ia bisa menjadi tanda bahwa hubunganmu sedang meminta perhatian lebih. Dengan kemauan untuk saling mendengarkan dan mencoba hal baru bersama, pernikahan yang terasa datar pun bisa kembali hangat dan bermakna.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More