Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tanda Hubungan Pernikahanmu Sedang di Fase Stagnan, Coba Solusi Ini!
Ilustrasi rumah tangga toxic (freepik.com/reportazh)
  • Hubungan dapat terasa stagnan ketika percakapan hanya membahas urusan rumah tangga dan tidak lagi menyentuh perasaan atau cerita sehari-hari.

  • Rutinitas yang berulang membuat pasangan kehilangan hal yang dinantikan, sedangkan pengalaman baru bersama dapat membantu membangun kembali kedekatan.

  • Rasa bosan berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah, tetapi ruang pribadi, pertemanan, dan komunikasi terbuka dapat menjadi bagian dari penyegaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernikahan bisa terasa membosankan saat pasangan hanya membicarakan rumah, pekerjaan, dan hal yang harus dilakukan. Mereka jadi jarang bercerita tentang perasaan. Supaya lebih dekat, pasangan bisa menjawab cerita satu sama lain dengan hangat, mencoba kegiatan baru, berbicara terbuka, bertemu teman, dan punya waktu untuk diri sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fase stagnan dalam pernikahan tidak selalu berarti hubungan telah berakhir. Kesadaran terhadap perubahan kecil, seperti obrolan yang makin singkat atau rutinitas yang terasa sama, memberi pasangan ruang untuk melihat kembali cara mereka terhubung. Upaya sederhana, pengalaman baru, komunikasi terbuka, dan waktu pribadi dapat menjadi bagian dari penyegaran hubungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua masalah dalam pernikahan datang dengan pertengkaran besar. Kadang, justru hal yang paling sunyi yang paling terasa: hari-hari yang berjalan sama, obrolan yang makin singkat, dan perasaan bahwa hubungan jalan di tempat. Tidak ada konflik yang berarti, tapi juga tidak ada lagi percikan yang dulu membuat kalian semangat satu sama lain.

Kondisi ini wajar dialami banyak pasangan, terutama setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama. Kabar baiknya, fase stagnan bukan akhir dari segalanya, asalkan kamu dan pasangan menyadarinya sejak awal dan mau berusaha memperbaikinya bersama. Yuk, kenali tanda-tandanya sekaligus solusi yang bisa dicoba!

1. Obrolan hanya seputar rumah saja

ilustrasi rumah tangga (pexels.com/ShotPot)

Salah satu tanda paling umum adalah percakapan yang hanya berisi logistik. Seperti, siapa yang menjemput anak, apa menu makan malam, atau tagihan bulan ini. Kalian tetap bicara setiap hari, tetapi jarang menyentuh perasaan, harapan, atau cerita kecil tentang hari masing-masing. Lama-lama, pasangan terasa seperti rekan kerja dalam urusan rumah tangga.

Solusinya, mulailah memperhatikan 'ajakan' kecil dari pasangan dan meresponsnya dengan hangat. Menurut Zach Brittle, LMHC, Certified Gottman Therapist, dilansir The Gottman Institute, pasangan yang akhirnya bercerai, hanya merespons ajakan koneksi dari pasangannya sekitar 33 persen dari waktu. Sementara pasangan yang bertahan, jauh lebih sering menanggapinya. Jadi, saat pasangan menunjukkan sesuatu atau sekadar bercerita, coba berhenti sejenak, tatap, dan tanggapi. Hal sekecil itu yang membangun kembali koneksi.

2. Hari-hari terasa sama dan tidak ada yang dinantikan

Ilustrasi rumah tangga yang gak sehat (pexels.com/RDNE Stock project)

Berangkat kerja, pulang, makan, tidur, lalu mengulang lagi besok. Ketika setiap hari terasa seperti salinan hari sebelumnya, hubungan ikut kehilangan rasa baru. Kamu mungkin tidak lagi menantikan waktu berdua karena tidak ada yang berbeda dari biasanya.

Solusinya, coba hal baru bersama, sesederhana apa pun. Psychology Today merangkum penelitian psikolog Arthur Aron. Isinya adalah:

"Penelitian Arthur Aron meminta pasangan untuk menghabiskan waktu 90 menit seminggu untuk melakukan aktivitas yang tidak familier seperti panjat tebing atau mengambil kursus bahasa asing. Setelah 10 minggu menjalani kencan yang menarik tersebut, pasangan-pasangan itu merasa lebih dekat dibandingkan pasangan di kelompok lain yang tetap berpegang pada rutinitas tradisional berupa makan malam dan menonton film," tulis Jason Whiting Ph.D., professor di Brigham Young University dilansir Psychology Today.

Intinya, bukan seberapa ekstrem aktivitasnya, melainkan seberapa baru dan menantang pengalamannya bagi kalian berdua. Atau, kamu juga bisa melakukan kegiatan lainnya. Misalnya, mencoba resep masakan yang belum pernah dibuat, ikut kelas singkat, atau menjelajahi tempat baru di akhir pekan.

3. Rasa bosan sudah jadi hal yang biasa

ilustrasi rumah tangga diujung tanduk (pexels.com/Alex Green)

Bosan dalam hubungan sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa panjang. Kamu mungkin mulai merasa pernikahan ini datar, tidak lagi excited bertemu pasangan, atau memilih sibuk dengan hal lain. Jika dibiarkan, perasaan ini perlahan mengikis kepuasan dalam hubungan.

Gary W. Lewandowski Jr. Ph.D., Professor and former Chair Department of Psychology di Monmouth University, dari Psychology Today, mencatat bahwa penelitian jangka panjang menemukan pasangan yang melaporkan lebih banyak rasa bosan, juga melaporkan kepuasan hubungan yang lebih rendah sembilan tahun kemudian. Meski begitu, rasa bosan bisa dilihat sebagai kesempatan memperbaiki hubungan. Strategi yang biasa dipakai pasangan antara lain berbicara terbuka dengan pasangan, mencoba hal baru, bertemu teman, dan meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri. Jadi, menjaga ruang pribadi dan lingkaran pertemanan juga bagian dari menyegarkan pernikahan.

Fase stagnan memang terasa tidak nyaman, tetapi ia bisa menjadi tanda bahwa hubunganmu sedang meminta perhatian lebih. Dengan kemauan untuk saling mendengarkan dan mencoba hal baru bersama, pernikahan yang terasa datar pun bisa kembali hangat dan bermakna.

Curated For You

Editorial Team

Related Article