“Kamu seharusnya melihat mereka sebagai pribadi yang utuh, bukan versi yang disederhanakan atau sebuah fantasi,” ujar Moe Ari Brown.
Tanda Kamu Pacaran demi Validasi, Bukan Benar-benar Suka

Malam itu kamu baru saja pulang dari kencan pertama. Sepanjang perjalanan, kamu terus memikirkan satu hal, apakah dia menyukaimu? Begitu pesan “Aku senang ketemu kamu tadi” masuk ke ponsel, rasanya lega bukan main, bahkan sebelum kamu sempat bertanya pada diri sendiri apakah kamu juga menikmati kencan tersebut.
Mungkin kamu pernah berada di posisi yang sama. Kamu merasa senang ketika seseorang menghubungi, memberi pujian, atau mengajak bertemu lagi, tetapi perasaan itu perlahan menghilang setelah mereka menunjukkan ketertarikan yang jelas. Tanpa disadari, bisa jadi yang kamu kejar bukan koneksi dengan orang tersebut, melainkan validasi bahwa kamu cukup menarik untuk dipilih.
Menurut para terapis dan pakar hubungan, kebiasaan berkencan demi validasi bisa terlihat seperti perilaku dating pada umumnya. Namun, ada beberapa pola yang dapat menunjukkan bahwa kamu lebih sibuk mengejar perhatian daripada benar-benar mengenal orang yang sedang kamu kencani. Yuk, kenali tanda-tanda jika kamu pacaran hanya demi validasi!
1. Kamu lebih sibuk membayangkan punya pasangan daripada mengenal orangnya

ilustrasi pasangan (pexels.com/cottonbro) Saat berkencan, pernahkah kamu lebih sibuk membayangkan seperti apa hidupmu jika kalian menjadi pasangan daripada benar-benar mengenal orang di depanmu? Kamu mungkin sudah membayangkan pergi bersama, mengunggah foto berdua, atau merasa senang karena akhirnya punya pasangan, padahal belum mengenalnya lebih jauh.
Moe Ari Brown, LMFT, terapis sekaligus Love and Connection Expert internal Hinge, dikutip dari SELF, menjelaskan bahwa ketertarikan yang tulus seharusnya berpusat pada diri orang tersebut. Jika validasi menjadi tujuan utama, kamu bisa lebih terpikat pada perasaan dipilih dan status “punya pasangan” daripada koneksi yang sedang dibangun.
2. Chemistry terasa kuat saat bertemu, tetapi hilang setelahnya

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/cottonbro) Saat bertemu, obrolan kalian terasa nyambung. Ada tawa, tatapan, bahkan chemistry yang membuatmu merasa hubungan ini mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang serius. Namun, begitu kencan selesai, semuanya terasa biasa saja.
Dikutip dari SELF, Sabrina Romanoff, PsyD, psikolog klinis dan pakar hubungan di New York City, menyebut kondisi ini sebagai “performative chemistry”. Kondisi ini terjadi ketika koneksi terasa kuat saat sedang bersama tetapi tidak benar-benar didukung keterlibatan emosional.
Sensasi tersebut memang bisa terasa meyakinkan karena momen ketika bertemu begitu menyenangkan. Namun, jika kedekatan hanya terasa ketika kamu mendapatkan perhatian secara langsung, bisa jadi yang membuatmu bertahan bukan koneksinya, melainkan perasaan ketika sedang diperhatikan.
3. Kamu terlalu cepat terbuka untuk menciptakan rasa dekat

ilustrasi pasangan mendengarkan musik bersama (pexels.com/kateandreeshcheva) Baru beberapa kali bertemu, tetapi kalian sudah saling menceritakan pengalaman yang sangat pribadi. Rasanya seperti sudah mengenal satu sama lain dalam waktu lama, padahal hubungan tersebut sebenarnya masih berada di tahap awal.
Menurut Dr. Romanoff, terlalu cepat berbagi hal-hal emosional atau terburu-buru membangun keintiman emosional dan fisik dapat menciptakan ilusi koneksi. Intensitas yang muncul sejak awal memang terasa bermakna, tetapi belum tentu dibangun dari kepercayaan yang benar-benar berkembang secara alami.
Dalam beberapa situasi, keterbukaan yang terlalu cepat justru menjadi jalan pintas untuk mendapatkan rasa dekat dan validasi. Kamu merasa hubungan semakin spesial karena intensitasnya tinggi, bukan karena sudah cukup mengenal satu sama lain.
4. Kamu rajin chat, tetapi selalu menghindari rencana bertemu

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/samson-katt) Pesan terus berjalan setiap hari. Kamu saling menggoda, bertukar cerita, bahkan mungkin rutin mengucapkan selamat pagi dan selamat malam. Namun, ketika pembicaraan mulai mengarah pada rencana bertemu, jawabannya selalu samar seperti “nanti kita atur” atau “lihat saja kapan sempat”.
Dr. Romanoff mengatakan, orang yang lebih didorong oleh ego cenderung membuat orang lain tetap tertarik tanpa benar-benar memberikan kepastian. Kamu mungkin menikmati perasaan ketika tahu ada seseorang yang menunggu pesanmu. Namun, mempertahankan perhatian seseorang tidak selalu berarti kamu ingin membangun hubungan yang lebih dekat dengannya.
“Ketika seseorang didorong oleh egonya, mereka cenderung membuat orang lain tetap tertarik dengan cara seperti menggantungkan umpan di depan mereka,” ujar Dr. Romanoff.
5. Kamu muncul saat butuh perhatian, lalu menghilang lagi

ilustrasi pria dan wanita di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko) Coba perhatikan kapan kamu paling sering menghubungi seseorang. Apakah biasanya saat malam hari, sedang bosan, merasa kesepian, atau sedang ingin mendapatkan perhatian?
Dr. Romanoff menggambarkan pola ini sebagai kondisi yang bergerak di antara “highs and lows”, ketika keterlibatan dengan seseorang naik dan turun berdasarkan kebutuhan emosional diri sendiri. Saat membutuhkan perhatian, kamu bisa sangat antusias, tetapi ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi, ketertarikanmu ikut mereda.
6. Kamu memperlakukan beberapa orang dengan cara yang hampir sama

ilustrasi pria dan wanita membaca buku di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko) Kamu sedang dekat dengan beberapa orang sekaligus dan tanpa sadar menggunakan pola percakapan yang sama. Pertanyaan, gaya flirting, sampai tingkat perhatian yang diberikan pun terasa nyaris tidak berbeda.
Danielle Madonna, LCSW, psikoterapis di Long Island, dikutip dari SELF, mengatakan perilaku seperti ini dapat mencerminkan kebutuhan untuk mendapatkan validasi dari banyak orang, alih-alih membangun keterlibatan emosional yang terfokus, atau kebutuhan mendapatkan validasi dari banyak orang dibandingkan membangun keterlibatan emosional yang terfokus.
Bukannya berusaha mengenal satu orang secara lebih dalam, kamu justru sibuk menjaga beberapa sumber perhatian tetap terbuka. Rasanya menyenangkan mengetahui ada banyak orang yang tertarik, meskipun belum tentu ada satu pun yang benar-benar ingin kamu kenal lebih jauh.
7. Kamu lebih menikmati proses mengejar daripada ketika akhirnya mendapatkannya

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/samson-katt) Awalnya kamu begitu tertarik karena dia sulit didekati. Setiap pesan yang masuk terasa mendebarkan dan setiap tanda ketertarikan membuatmu semakin penasaran. Namun, begitu dia mulai menunjukkan perasaan yang jelas, antusiasmemu justru perlahan menghilang.
Menurut Madonna, perubahan ini bisa menandakan bahwa yang membuatmu tertarik sebenarnya adalah validasi, bukan keintiman. Jadi, mungkin bukan perasaanmu yang tiba-tiba hilang, melainkan sensasi mengejar dan mendapatkan perhatian yang sejak awal membuatmu tertarik.
Pada akhirnya, berkencan bukan hanya soal apakah seseorang memilihmu, tetapi juga tentang apakah kamu benar-benar nyaman dan tertarik mengenalnya. Jadi, sebelum mengejar perhatian dari orang lain, coba tanyakan lagi pada diri sendiri, “Aku suka dia atau aku hanya suka ketika dia menyukaiku?”





![[QUIZ] Kami Tahu Kamu Butuh Validasi atau Gak dari Pilihan Kartun Ini](https://image.idntimes.com/post/20231018/ilustrasi-menonton-kartun-pexels-100-files-568a1cfcce75a313b36120d19c420cb6-0da0d3c15493b802a95538c5d7833cb7.jpg)


















