Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Temanmu Balikan Sama Mantan? Ini Alasan Circle Kamu Bisa Ikut Capek

4 min read
Temanmu Balikan Sama Mantan? Ini Alasan Circle Kamu Bisa Ikut Capek
ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)
  • Mendengarkan curhat putus-nyambung berulang dapat menguras emosi teman, karena dukungan berubah menjadi beban untuk membantu pemulihan yang sama berkali-kali.
  • Nasihat yang terus diminta tetapi diabaikan bisa memicu rasa tidak dihargai dan lelah, terutama saat teman kembali mengeluhkan pola hubungan yang sama.
  • Melihat teman kembali ke hubungan yang pernah menyakitkan dapat menimbulkan khawatir dan frustrasi; teman berhak menetapkan batasan demi menjaga energi serta persahabatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang teman kembali mengirim pesan panjang di grup chat tentang masalahnya dengan sang mantan. Kamu mendengarkan keluh kesahnya, menenangkan saat dia menangis, bahkan ikut meyakinkannya bahwa dia pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik. Dia pun berjanji gak akan kembali lagi. Akan tetapi beberapa hari kemudian, kabar yang datang justru sebaliknya: mereka balikan.

Awalnya, kamu mungkin masih memaklumi karena melepaskan seseorang yang pernah disayang memang gak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ketika cerita yang sama terus berulang, kamu bisa ikut merasa lelah dan frustrasi. Bukan berarti gak peduli, tetapi terus-menerus menyaksikan teman kembali ke hubungan yang sama, juga bisa menguras emosi. Lantas, kenapa situasi ini bisa membuat circle kamu ikut capek? Yuk, simak penjelasannya!

 

  1. 1. Terus mendengarkan masalah yang sama bisa bikin lelah secara emosional

    ilustrasi bercengkrama dengan teman
    ilustrasi bercengkrama dengan teman (pexels.com/yaroslav-shuraev)

    Menjadi teman curhat memang bagian dari persahabatan. Ada kalanya kamu perlu menemani teman melewati masa sulit, mendengarkan keluh kesahnya, atau membantunya melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Namun, bagaimana jika masalah yang diceritakan terus berulang, sementara temanmu gak benar-benar ingin mengubah situasinya?

    Dikutip dari SELF, psikolog klinis Christie Ferrari, PhD, menjelaskan bahwa mendukung seseorang yang berulang kali mengalami putus cinta, membutuhkan banyak energi dan bisa menguras emosi. Menurutnya, peran seorang teman bahkan dapat bergeser dari sekadar berusaha memahami menjadi merasa bertanggung jawab untuk membantu temannya pulih berkali-kali.

    “Mendukung seseorang yang berulang kali mengalami putus cinta membutuhkan banyak energi dan bisa menguras emosi. Hal ini terjadi karena peranmu pada akhirnya berubah, dari seseorang yang berusaha memahami, menjadi seseorang yang merasa bertanggung jawab untuk membantu temanmu pulih berulang kali,” jelas Ferrari.

  2. 2. Nasihat yang terus diabaikan bisa membuat teman merasa gak dihargai

    ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl)
    ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

    Pernah gak kamu sampai membantu teman menyusun pesan untuk mengakhiri hubungan, tetapi beberapa waktu kemudian dia justru kembali kepada mantannya? Kamu mungkin sudah berusaha memilih kata-kata yang tepat, mengingatkan hal-hal buruk yang pernah terjadi, bahkan meyakinkannya bahwa dia berhak mendapatkan hubungan yang lebih sehat. Namun, semua nasihat itu seolah terlupakan begitu mereka kembali berbaikan.

    Menurut Ferrari, persahabatan membutuhkan rasa saling menghormati. Perasaan tersebut bisa terganggu ketika nasihat yang diminta seseorang terus-menerus diabaikan. Apalagi, jika temanmu kembali mengeluhkan persoalan yang sama, tetapi menolak mempertimbangkan solusi yang sebelumnya sudah dibicarakan.

    “Sering kali, apa yang digambarkan orang sebagai ‘kehilangan rasa hormat’ terhadap teman dalam situasi seperti ini, sebenarnya lebih berkaitan dengan kelelahan karena terus menyaksikan pola yang sama terulang, sementara kekhawatiran mereka tidak benar-benar didengar,” jelas Ferrari.

  3. 3. Melihat teman kembali ke hubungan yang menyakitkan bisa memicu frustrasi

    ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)
    ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

    Kadang, kamu bukan cuma bosan mendengar cerita yang sama, tetapi juga khawatir melihat teman kembali kepada seseorang yang pernah menyakitinya. Kamu masih ingat bagaimana dia menangis karena diselingkuhi atau merasa gak dihargai. Karena itu, ketika mereka kembali bersama, kamu mungkin sulit memahami keputusannya.

    Situasi ini bisa membuatmu ikut sedih, kesal, bahkan merasa gak berdaya karena gak bisa menentukan apa yang terbaik untuknya. Meski sudah berusaha mengingatkan, keputusan untuk bertahan atau mengakhiri hubungan tetap ada di tangan temanmu sendiri.

  4. 4. Teman juga punya batas kemampuan untuk terus mendengarkan

    ilustrasi kedua wanita bercengkrama (pexels.com/cliffbooth)
    ilustrasi kedua wanita bercengkrama (pexels.com/cliffbooth)

    Dalam persahabatan, mendukung satu sama lain memang penting. Namun, bukan berarti kamu harus selalu siap mendengarkan setiap cerita kapan pun teman membutuhkannya. Ada kalanya kamu sendiri sedang lelah, punya masalah pribadi, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat dari percakapan yang menguras energi.

    Ferrari menyebut kelelahan akibat terus memberikan empati dan dukungan kepada orang lain sebagai compassion fatigue. Dalam konteks persahabatan, kondisi ini bisa muncul ketika kamu berulang kali terlibat dalam masalah emosional teman sampai merasa kewalahan.

    Karena itu, kamu boleh menetapkan batasan tanpa harus memutus persahabatan. Misalnya, kamu bisa bertanya apakah temanmu benar-benar membutuhkan saran atau hanya ingin didengarkan. Kamu juga bisa mengatakan bahwa kamu peduli kepadanya, tetapi untuk sementara ingin membicarakan hal lain agar percakapan kalian gak terus berpusat pada masalah yang sama.

    Pada akhirnya, mendukung teman bukan berarti kamu harus selalu mengorbankan energi dan perasaan sendiri. Tetap peduli boleh, tetapi jangan lupa menjaga batasan agar persahabatan kalian tetap sehat tanpa harus ikut lelah menghadapi drama percintaannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More