Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Untukmu yang Selalu Melupakan Hari Ulang Tahunku, Sepucuk Surat ini Kutulis Untukmu
lettertomyex.com

Bulan ini adalah bulan di mana aku lahir, ya Oktober. Aku selalu menantikan satu hal saat bulan Oktober datang, bukan sebuket bunga, bukan pula kado istimewa, hanya sebuah kalimat magis. Kalimat magis yang sejak dulu kutunggu terucap dari bibirmu, “Selamat ulang tahun”. Betapa sebuah kalimat mampu mengubah segalanya dalam hidupku, dan betapa sebuah kalimat mampu menorehkan seulas senyum di bibirku.

Embun pagi mulai berjatuhan dari pucuk daun, semburat mentari pagi pun mulai menyusup dibalik tirai kamarku, dan aku masih bersembunyi dibalik hangatnya selimut untuk menutupi mata pandaku karena kebiasaan burukku tidur tengah malam. Masih kuingat kejadian dua tahun yang lalu saat kita bersahabat dan kau berdalih tak mengetahui hari ulang tahunku karena saat itu kita baru saling mengenal.

Perlahan aku membuka selimutku dan duduk di pinggiran kasur yang empuk, menyadari satu hal saat mataku melirik ke arah jendela. Ya, mentari pagi yang tadi menyilaukanku kini berubah menjadi mendung pekat dan rintik hujan yang perlahan membasahi dedaunan. Aku berdiri dan berjalan mendekati jendela, kubuka tirai yang sedari tadi menghalangi pandanganku. Sesaat kemudian kusandarkan punggungku di jendela yang tak sengaja terbuka karena angin yang mulai bertiup, dan pikiranku kembali melayang jauh saat satu tahun yang lalu.

Masih kuingat saat kita adalah sahabat yang saling jatuh cinta, setiap pagi kau selalu menyapaku dengan “sayang”, berniat membangunkanku tapi aku selalu terbangun bahkan sebelum notifikasi pesan darimu berbunyi. Lagi-lagi kau melupakan hari ulang tahunku dan berdalih kau kira hari ulang tahunku adalah besok. Beberapa menit kemudian aku sadar dari lamunanku, aku mengambil sebuah pena dan sepucuk kertas. Berniat menuliskan puisi karya Kahlil Gibran yang berjudul “Cinta yang Agung”, tapi lagi-lagi setelah aku menorehkan tinta aku kembali menyimpannya tak pernah berniat mengirimkannya padamu.

Bukan karena aku hidup di jaman purba, hanya saja aku takut saat aku bisa melihat pesanku hanya kau baca dan kau tak berniat membalasnya. Pagi hari ini adalah hari ulang tahunku, dan aku masih saja menunggu kalimat magis itu terucap dari bibirmu, meski saat ini ada wanita cantik yang bersanding denganmu.

Untukmu yang selalu melupakan hari ulang tahunku, sepucuk surat ini datang bersama dengan sebait puisi yang kubuat untukmu.

Akulah sang embun di pagi hari. 

Datang meski tak direstui. Akulah sang lilin rapuh

Hanya cahaya kecil yang tak mampu menerangi jalanmu

Sedangkan dirimu Adalah sang bintang yang selalu memegahkan malam Adalah sang malaikat
dengan sayap sempurna memikat

 

Untuk dirimu yang selalu melupakan hari ulang tahunku.

Dari wanita yang mencintaimu dalam diam.

Editorial Team

EditorLanie