Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ASI Seret Setelah Melahirkan? Ini 5 Cara Melancarkan

ASI Seret Setelah Melahirkan? Ini 5 Cara Melancarkan
ilustrasi trik ASI berlimpah untuk new mom (pexels.com/Jonathan Borba)
Intinya Sih
  • Pelekatan yang tepat membantu transfer ASI dan mencegah nyeri atau lecet; posisikan bayi agar lebih banyak areola bawah masuk ke mulutnya.
  • Produksi ASI mengikuti prinsip permintaan-penawaran: susui atau pompa secara rutin tiap 2–3 jam, sambil menjaga makanan bergizi dan hidrasi 2,5–3 liter per hari.
  • Stres dapat menghambat oksitosin dan pengeluaran ASI; pijat punggung, relaksasi, dukungan keluarga, serta konsultasi konselor laktasi diperlukan bila kendala mengganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lagi asyik-asyiknya menikmati peran baru sebagai orang tua, eh, tiba-tiba dibuat pusing sama urusan ASI yang belum keluar lancar. Situasi kayak gini sering bikin para new moms merasa stres, kewalahan, bahkan sampai meragukan kemampuan diri sendiri. Mengingat momen Hari ASI Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Agustus, masalah pelekatan hingga produksi ASI memang jadi makanan sehari-hari yang bikin drama pascapersalinan makin terasa berat.

Kalau masalah ini dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang tepat, kamu bisa rentan terkena risiko pembengkakan payudara hingga mastitis yang rasanya nyeri luar biasa, lho. Stres yang makin menumpuk juga secara gak langsung bakal bikin produksi hormon oksitosin makin merosot, sehingga ASI makin sulit keluar. Padahal, memenuhi hak nutrisi si kecil di awal kehidupannya adalah investasi jangka panjang yang gak bisa diulang kembali. Jadi, fokus dengan trik ASI berlimpah buat ibu baru berikut, ya!


1. Pelajari teknik pelekatan yang benar

ilustrasi ibu menyusui
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/Tamilles Esposito)

Pelekatan atau latch-on menjadi fondasi utama agar proses menyusui terasa nyaman dan bebas dari rasa sakit. Kamu perlu memastikan area areola bawah masuk lebih banyak ke mulut bayi, bukan hanya menempel pada bagian putingnya saja. Ketika posisi mulut si kecil sudah terbuka lebar seperti menguap, segera dekatkan kepala bayi ke payudara secara perlahan, ya. Langkah awal ini sangat krusial agar proses transfer ASI berjalan maksimal sejak hari pertama, lho.

Banyak ibu muda yang mengira rasa nyeri luar biasa saat menyusui adalah hal normal, padahal itu tanda pelekatan belum pas. Kalau puting terasa lecet sampai lebam, bisa jadi si kecil cuma "mengemput" di ujung puting dan bikin gesekan berlebih. Coba ganti posisi dengan menyanggah tubuh bayi pakai bantal menyusui supaya bahu dan leher kamu gak gampang pegal. Ingat, ya, menyusui itu proses belajar dua arah antara kamu dan si kecil, jadi wajar kalau butuh beberapa kali percobaan sampai ketemu ritme yang pas.


2. Terapkan prinsip permintaan dan penawaran

ilustrasi ibu menyusui
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/MART PRODUCTION)

Prinsip dasar produksi ASI di dalam tubuh itu bekerja sesuai sistem supply and demand yang sangat alami. Semakin sering payudara dikosongkan, baik lewat hisapan langsung si kecil maupun dipompa, maka otak akan menangkap sinyal untuk memproduksi lebih banyak ASI. Jadi jangan menunggu payudara terasa penuh baru kamu menyusui, karena hal itu justru bikin tubuh mengira kebutuhan ASI si kecil sedang berkurang. Nah, rutinitas menyusui setiap 2–3 jam sekali bakal membantu menjaga kestabilan produksi ASI harianmu, lho.

Kalimat "ASI aku dikit banget" sering kali muncul karena kamu terlalu fokus pada hasil perahan di botol yang kelihatan cuma beberapa tetes di hari-hari awal. Padahal, ukuran lambung bayi baru lahir itu cuma sebesar kelereng, jadi wajar kalau butuh cairan dalam jumlah sedikit tapi sering. Jangan keburu panik lalu langsung memberikan formula tanpa indikasi medis dari dokter anak, ya. 


3. Jaga asupan nutrisi dan hidrasi harian

ilustrasi ibu baru wajib memastikan asupan makanannya terpenuhi dan bernutrisi
ilustrasi ibu baru wajib memastikan asupan makanannya terpenuhi dan bernutrisi (pexels.com/Jonathan Borba)

Tubuh kamu butuh bahan bakar ekstra yang berkualitas untuk menghasilkan ASI yang kaya nutrisi setiap harinya. Pastikan menu makanan harianmu mengandung gizi seimbang seperti protein, lemak sehat, serta vitamin dari sayuran hijau dan buah-buahan. Jangan lupa untuk minum air putih setidaknya 2,5 sampai 3 liter sehari agar tubuh gak mengalami dehidrasi di tengah jadwal menyusui yang padat. Kamu juga bisa menambahkan makanan lokal penunjang produksi ASI seperti daun katuk, kelor, atau kurma ke dalam menu harian, ya.

Sering kali new moms lupa makan atau minum cuma karena terlalu sibuk mengurus bayi sampai akhirnya lemas sendiri. Akibatnya, badan jadi gampang capek, mood turun drastis, dan produksi ASI pun ikut terpengaruh secara signifikan. Oh iya, kamu juga perlu sediakan botol minum besar di dekat area menyusui supaya kamu bisa langsung minum setiap kali selesai mengasihi. Gak perlu diet ketat dulu demi mengembalikan bentuk badan ideal, fokus utama kamu saat ini adalah pemulihan fisik dan menjaga stamina agar tetap fit, ya.


4. Kelola stres dengan pijat oksitosin

ilustrasi ibu memerlukan pijatan untuk mengurangi kecemasan
ilustrasi ibu memerlukan pijatan untuk mengurangi kecemasan (pexels.com/Alexandru Cojanu)

Hormon oksitosin atau sering disebut sebagai hormon cinta memegang peranan sangat penting dalam proses pengeluaran ASI dari payudara (let-down reflex). Ketika kamu merasa cemas, gelisah, atau terlalu lelah, produksi hormon ini bakal terhambat oleh hormon stres cortisol. Pijat oksitosin di area punggung menjadi cara memancing hormon oksitosin yang paling efektif. Usapan lembut pada titik-titik saraf di sepanjang tulang belakang juga bisa memberikan efek relaksasi yang luar biasa instan, lho.

Minta bantuan pasangan untuk memijat area punggung secara perlahan sebelum atau saat kamu sedang siap-siap menyusui si kecil. Selain bikin rileks, momen ini juga bisa jadi sarana bonding yang manis antara kamu dan suami di tengah kelelahan mengurus bayi. Kamu juga bisa mendengarkan musik favorit, menyalakan aroma terapi, atau sekadar mandi air hangat untuk melepas penat sejenak, ya. 


5. Bangun support system yang positif

ilustrasi ibu baru mendapatkan support system dari pasangan
ilustrasi ibu baru mendapatkan support system dari pasangan (pexels.com/Photography Maghradze PH)

Menjalani peran sebagai ibu baru bukanlah perjalanan yang harus kamu tempuh sendirian tanpa bantuan orang lain. Memiliki support system yang solid, mulai dari suami, keluarga terdekat, hingga komunitas sesama ibu, sangat membantu menjaga kesehatan mentalmu, lho. Bicara blak-blakan dengan pasangan tentang pembagian tugas rumah tangga agar kamu punya waktu istirahat yang cukup di sela-sela jam menyusui. Lingkungan yang suportif bakal bikin kamu merasa dihargai dan gak berjalan sendirian di masa-masa krisis.

Gak usah ragu untuk menolak kunjungan tamu kalau kamu merasa masih butuh waktu untuk istirahat dan beradaptasi dengan si kecil. Kamu juga perlu menghindari komentar-komentar toxic atau parenting shamming yang cuma bikin kamu makin insecure dan ragu pada kemampuan diri sendiri. Kalau merasa kendala menyusui sudah sangat mengganggu, segera konsultasikan ke konselor laktasi di rumah sakit terdekat. Meminta bantuan itu bukan tanda bahwa kamu ibu yang lemah, tapi bukti bahwa kamu peduli pada kesehatanmu dan si kecil, kok.

Menyusui memang penuh tantangan, tapi ingatlah bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik untuk si kecil sejauh ini. Menyambut momen Hari ASI Sedunia pada 1 Agustus ini, mari lebih sayang pada diri sendiri dan jangan ragu mencari bantuan jika merasa kewalahan. Semoga trik ASI berlimpah buat ibu baru ini dapat membantumu. Tetap semangat, moms, kamu hebat dan gak sendirian dalam proses yang indah ini!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More