Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wajah di Balik Filter: Bagaimana Media Sosial Bentuk Standar Cantik?

3 min read
Wajah di Balik Filter: Bagaimana Media Sosial Bentuk Standar Cantik?
Ilustrasi bekerja (freepik.com/EyeEm)
  • Filter, pencahayaan, dan editing membuat wajah sempurna terasa normal, sehingga fitur alami seperti kulit bertekstur dapat dianggap sebagai kekurangan saat dijadikan tolok ukur.
  • Algoritma TikTok terus merekomendasikan konten kecantikan serupa berdasarkan interaksi, yang dapat memperkuat standar dominan sekaligus berpotensi membuka representasi kecantikan lebih beragam.
  • Paparan dan perbandingan terhadap penampilan ideal dapat menurunkan kepercayaan diri; dampaknya bergantung pada konten yang dikonsumsi dan pengalaman yang mendorong fokus pada fisik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa wajah sendiri terlihat berbeda saat bercermin setelah terbiasa melihat foto dengan filter di media sosial? Hidung yang tampak lebih mancung, kulit mulus tanpa pori-pori, hingga bentuk wajah yang terlihat lebih tirus perlahan bisa menjadi gambaran ideal tentang kecantikan. Padahal, wajah yang muncul di layar belum tentu sama dengan penampilan aslinya.

Media sosial memang memberi ruang untuk berekspresi, tetapi tren kecantikan yang terus berulang juga bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika wajah dengan fitur serupa terus mendapat pujian dan perhatian, standar cantik seolah semakin mengerucut pada satu gambaran tertentu. Lantas, bagaimana filter dan konten media sosial membentuk cara kita memaknai kecantikan?

  1. 1. Filter membuat wajah sempurna terlihat normal

    Makeup Try On
    Makeup Try On (maybelline.co.id)

    Filter kecantikan bisa menghaluskan kulit, mengubah bentuk hidung, hingga membuat wajah terlihat lebih simetris hanya dalam hitungan detik. Ditambah pencahayaan dan editing, hasil akhirnya sering tampak begitu natural hingga kita lupa bahwa penampilan tersebut belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Jika terus melihat wajah yang terlihat sempurna, kulit bertekstur dan fitur wajah alami bisa terasa seperti kekurangan.

    American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan foto orang lain yang telah diedit dapat memicu ketidakpuasan terhadap tubuh dan menurunkan kepercayaan diri. Artinya, masalahnya bukan semata-mata penggunaan filter, melainkan ketika hasil editan mulai dijadikan tolok ukur untuk menilai penampilan diri sendiri.

  2. 2. Algoritma TikTok ikut membentuk standar cantik

    Ilustrasi melihat hp
    Ilustrasi melihat hp (freepik.com/The Yuri Arcurs Collection)

    Pernah merasa beranda TikTok dipenuhi video dengan gaya makeup, bentuk wajah, atau warna kulit yang serupa setelah kamu sering menonton konten kecantikan? Sistem rekomendasi dapat membuat konten serupa kembali muncul berdasarkan interaksi pengguna. Akibatnya, ketika seseorang terus terpapar gambaran kecantikan yang seragam, standar tersebut bisa terasa seperti patokan umum yang harus diikuti.

    Penelitian Gesilia Wilmanda dan Nunik Hariyanti yang terbit dalam Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi pada 2025 membahas bagaimana TikTok dapat membentuk sekaligus mengubah standar kecantikan di Indonesia. Hal ini memperlihatkan bahwa media sosial bisa menjadi ruang untuk memperkenalkan representasi kecantikan yang lebih beragam dan menantang standar dominan.

  3. 3. Terus membandingkan diri bisa mengikis percaya diri

    Ilustrasi makeup
    Ilustrasi makeup (freepik.com/freepik)

    Ketika terus melihat orang lain dengan wajah yang tampak sempurna, sebagian remaja mulai mempertanyakan penampilannya sendiri. Kulit dianggap kurang cerah, bentuk wajah terasa kurang ideal, atau penampilan dinilai gak menarik dibandingkan orang yang sering muncul di beranda. Bahkan, ada yang merasa lebih nyaman mengunggah foto dengan filter daripada menunjukkan wajah aslinya.

    Jennifer Mills, Ph.D., profesor psikologi di York University, menjelaskan dalam diskusi bersama Children and Screens pada Januari 2026, "Dampak media sosial terhadap citra tubuh juga bergantung pada jenis konten yang dikonsumsi". Ia menekankan bahwa bukan semua aktivitas di media sosial yang berdampak buruk, melainkan pengalaman tertentu yang mendorong seseorang memikirkan dan membandingkan penampilan fisiknya.

    Karena itu, penting untuk menyadari bahwa foto dan video di media sosial hanya menampilkan sebagian sisi kehidupan seseorang. Mengikuti akun yang lebih beragam, membatasi konten yang memicu rasa minder, dan mengurangi ketergantungan pada filter bisa menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More