ilustrasi pick me (unsplash.com/Matheus Câmara da Silva)
Pick me lebih berkaitan dengan situasi ketika seseorang ingin mendapatkan pengakuan atau dipilih oleh laki-laki. Karena itu, perilakunya dapat muncul sangat kuat ketika ada orang yang sedang ingin didekati, tetapi belum tentu memengaruhi seluruh kehidupannya. Setelah urusan pendekatan selesai, perhatian bisa kembali beralih ke pekerjaan, pertemanan, hobi, keluarga, atau hal lain yang memang penting.
Kecenderungan male-centered terlihat lebih luas karena keberadaan laki-laki ikut menentukan bagaimana kehidupan dinilai secara keseluruhan. Misalnya, pekerjaan yang sebenarnya disukai mulai dianggap tidak menarik karena tidak memberi kesempatan bertemu pasangan, akhir pekan terasa sia-sia ketika tidak ada laki-laki untuk diajak bertemu, atau usia 28 tahun mulai dianggap sebagai tanda tertinggal hanya karena belum menikah. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan lagi tentang ingin mendapatkan satu laki-laki, tetapi tentang menjadikan hubungan dengan laki-laki sebagai salah satu ukuran utama keberhasilan hidup.
Perbedaan keduanya memang tidak selalu hitam putih karena seseorang bisa saja pernah bersikap pick me dalam situasi tertentu tanpa menjadikan laki-laki sebagai pusat kehidupannya. Begitu pula, seseorang yang senang berkencan, ingin punya pasangan, atau merasa senang ketika dipuji laki-laki tidak otomatis termasuk male centered woman. Kalau melihat cara membedakan male centered woman dan pick me tadi, menurutmu perilaku apa yang paling sering keliru dianggap sebagai pick me?
Referensi
"Between Feminism and Misogyny: The “Pick Me Girl” Discourse and Gender Policing Among Women on TikTok" Feminist Inquiry in Social Work. Diakses pada Agustus 2026
"Unpacking the “Pick Me Girl” and Why Giving Someone That Label is Complicated" Verywell Mind. Diakses pada Agustus 2026
"What is Male-Centered Women in the Workplace and How Does This Affect the Rights of All Women?" Stop Workplace Bullies. Diakses pada Agustus 2026