Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Rambut Cepat Bau Padahal Baru Keramas? Ini Faktornya

4 min read
Kenapa Rambut Cepat Bau Padahal Baru Keramas? Ini Faktornya
ilustrasi wanita sedang bercermin sambil memegang rambut (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Rambut cepat bau setelah keramas dapat dipicu minyak berlebih, sel kulit mati, keringat, dan mikroorganisme di kulit kepala; ini tidak selalu menandakan kebersihan yang buruk.
  • Kelembapan setelah berkeringat serta residu gel, spray, conditioner, atau dry shampoo dapat menumpuk, membuat kulit kepala lebih berminyak dan aroma kurang sedap lebih mudah muncul.
  • Ketombe atau dermatitis seboroik dapat terkait bau, gatal, kemerahan, dan sisik menetap; perawatan perlu disesuaikan, sementara keluhan berat atau berlanjut sebaiknya diperiksakan ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa rambut sudah dicuci, tetapi tidak lama kemudian mulai mengeluarkan bau yang kurang sedap? Kondisi ini bisa terasa membingungkan, terutama ketika seseorang merasa sudah menjaga kebersihan rambut dengan baik.

Bau pada rambut sebenarnya sering berkaitan dengan kondisi kulit kepala. Keringat, minyak alami, sel kulit mati, dan mikroorganisme yang terdapat di kulit dapat menumpuk atau berinteraksi sehingga menghasilkan aroma tertentu. Residu produk perawatan rambut juga bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Lantas, mengapa rambut bisa cepat bau meski baru saja keramas?

  1. 1. Kulit kepala cepat menghasilkan minyak

    S
    ilustrasi wanita memegang rambut (pexels.com/Ron Lach)

    Salah satu penyebab yang mungkin adalah produksi sebum atau minyak alami pada kulit kepala yang cukup tinggi. Sebum memang memiliki fungsi untuk membantu menjaga kulit dan rambut, tetapi penumpukan minyak bersama sel kulit mati dapat membuat kulit kepala terasa lebih berminyak dan berkontribusi terhadap munculnya bau.

    Kondisi ini membuat rambut di sekitar akar lebih mudah terasa lepek setelah beberapa waktu. Pada orang dengan kulit kepala yang lebih berminyak, frekuensi keramas yang dibutuhkan juga bisa berbeda dibandingkan orang dengan kulit kepala yang lebih kering. Karena kebutuhan setiap orang tidak sama, tidak ada satu jadwal keramas yang berlaku untuk semua orang. Kondisi kulit kepala dan jenis rambut perlu ikut dipertimbangkan.

  2. 2. Keringat dan mikroorganisme bisa memengaruhi bau

    S
    ilustrasi mengelap keringat (pexels.com/Andres Ayrton)

    Keringat sebenarnya tidak selalu memiliki bau yang kuat. Aroma muncul ketika keringat berinteraksi dengan mikroorganisme yang secara alami terdapat di kulit. Kondisi kulit kepala yang berkeringat juga dapat membuat lingkungan menjadi lebih lembap, sehingga bau lebih mudah muncul.

    Hal ini bisa lebih terasa setelah beraktivitas fisik, berada di tempat panas, atau ketika kulit kepala mudah berkeringat. Jika rambut kemudian tertutup dalam kondisi lembap, aroma yang kurang sedap juga bisa menjadi lebih mudah tercium. Karena itu, rambut yang cepat bau tidak selalu berarti seseorang tidak menjaga kebersihan. Produksi keringat dan kondisi lingkungan juga dapat berperan.

  3. 3. Ada residu produk yang menumpuk di kulit kepala

    S
    ilustrasi memakai hair spray (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Produk rambut seperti gel, spray, conditioner, atau dry shampoo dapat meninggalkan residu jika digunakan terus-menerus. Penumpukan tersebut dapat membuat kulit kepala lebih berminyak dan dalam kondisi tertentu berkontribusi terhadap masalah seperti ketombe. Dry shampoo juga bukan pengganti keramas menggunakan sampo dan air.

    American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa keramas dengan sampo dan air membantu membersihkan minyak, sel kulit mati, serta mikroorganisme yang menumpuk pada rambut dan kulit kepala. Jadi, jika rambut sering terasa kurang segar meskipun menggunakan produk penata rambut atau dry shampoo, perhatikan juga apakah ada penumpukan produk pada kulit kepala.

  4. 4. Ketombe atau dermatitis seboroik bisa menjadi faktor

    S
    ilustrasi ketombe (magnific.com)

    Rambut yang cepat bau terkadang juga berkaitan dengan kondisi kulit kepala tertentu. Salah satunya adalah dermatitis seboroik, yaitu kondisi yang dapat menyebabkan kulit kepala berminyak, bersisik, dan gatal. Mayo Clinic menjelaskan bahwa penyebab pasti dermatitis seboroik belum sepenuhnya diketahui.

    Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan minyak berlebih dan ragi Malassezia yang secara alami hidup pada kulit. Gejalanya antara lain kulit bersisik, area berminyak, serta rasa gatal. Jika bau pada kulit kepala muncul bersamaan dengan ketombe yang sulit dikendalikan, rasa gatal, kemerahan, atau kulit yang terasa sangat berminyak, masalahnya mungkin bukan sekadar soal frekuensi keramas.

  5. 5. Cara merawat kulit kepala perlu disesuaikan

    S
    ilustrasi memakai serum rambut (magnific.com)

    Tidak semua masalah rambut cepat bau harus diatasi dengan semakin sering keramas. Yang lebih penting adalah menyesuaikan perawatan dengan kondisi kulit kepala dan rambut. Membersihkan kulit kepala secara teratur dengan sampo dan air dapat membantu menghilangkan minyak, sel kulit mati, serta berbagai mikroorganisme yang menumpuk.

    Namun, frekuensi keramas tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. Jika terdapat ketombe atau dermatitis seboroik, dokter kulit dapat menyarankan sampo khusus atau perawatan tertentu. American Academy of Dermatology juga menjelaskan bahwa sampo antiketombe dapat digunakan untuk membantu mengendalikan dermatitis seboroik pada kulit kepala, dengan frekuensi yang disesuaikan berdasarkan kondisi rambut dan anjuran dokter.

    Apabila bau tidak kunjung hilang meskipun perawatan sudah dilakukan, atau disertai rasa gatal berat, iritasi, luka, sisik yang menetap, maupun tanda infeksi, sebaiknya periksakan kulit kepala kepada dokter.

    Pada akhirnya, rambut yang cepat bau setelah keramas tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kurang menjaga kebersihan. Kondisi kulit kepala, produksi minyak, keringat, residu produk, dan masalah kulit tertentu dapat ikut berperan. Dengan mengetahui penyebab yang mungkin, perawatan rambut bisa disesuaikan tanpa harus asal menambah frekuensi keramas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More