“Banyak orang berusia 20-an datang dan mengatakan bahwa mereka mulai memperhatikan lingkaran hitam serta kulit cekung di bawah mata, juga lipatan di sekitar mulut,” ujar Jason Emer .
Mitos tentang Penuaan Kulit yang Sering Disalahpahami, Jangan Sampai Keliru!

Penuaan kulit adalah proses alami yang pasti dialami setiap orang. Namun, banyak informasi yang beredar tentang cara menjaga kulit tetap awet muda justru tidak sepenuhnya benar, mulai dari anggapan bahwa kerutan menjadi tanda pertama penuaan hingga keyakinan bahwa produk mahal selalu memberikan hasil terbaik.
Padahal, menurut para ahli, kondisi kulit dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti genetik, paparan sinar UV, gaya hidup, hingga kebiasaan merawat kulit sehari-hari. Agar tidak terjebak dalam informasi yang keliru, berikut beberapa mitos tentang penuaan kulit yang masih sering dipercaya banyak orang.
1. Kerutan bukan selalu jadi tanda pertama kulit mulai menua

Banyak orang baru sadar proses penuaan kulit ketika garis halus dan kerutan mulai muncul di wajah. Padahal, tanda penuaan bisa terlihat lebih awal lewat perubahan kulit yang kehilangan elastisitas, munculnya bintik hitam, perubahan tekstur, hingga wajah yang tampak lebih cekung. Karena muncul perlahan, perubahan ini sering gak disadari sejak awal.
Dikutip dari Real Simple, Jason Emer, MD, dokter kulit bersertifikat, mengatakan bahwa tanda awal penuaan yang sering disadari orang bukanlah kerutan, melainkan bintik hitam dan berkurangnya volume wajah. Karena itu, perawatan kulit sejak dini penting dilakukan sebagai pencegahan, seperti rutin memakai sunscreen, menjaga kelembapan, dan memilih kandungan skincare yang sesuai.
2. Penuaan kulit tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik

Banyak yang menganggap kondisi kulit saat menua sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik dari orang tua. Meski genetik berperan dalam proses penuaan kulit, faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari juga turut mempengaruhi munculnya tanda-tanda penuaan. Artinya, gaya hidup juga punya pengaruh besar terhadap kondisi kulit.
Dikutip dari Real Simple, Joshua Zeichner, MD, dokter kulit bersertifikat, menjelaskan bahwa penuaan kulit dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Genetik memang berperan, tetapi faktor lingkungan seperti paparan sinar UV, polusi, serta kebiasaan seperti jarang memakai sunscreen dan pola hidup kurang sehat juga dapat mempercepat kerusakan kulit. Artinya, memiliki genetik yang baik bukan berarti kulit sepenuhnya terbebas dari tanda-tanda penuaan.
“Penuaan intrinsik mengacu pada kecenderungan genetik kita, dan kita tahu bahwa beberapa orang memang secara genetik diberkahi untuk menjadi orang yang mengalami penuaan dengan sangat baik. Namun, kita tidak boleh melupakan penuaan ekstrinsik, yaitu percepatan proses penuaan alami akibat faktor lingkungan seperti sinar UV dan polusi,” ujar Joshua Zeichner.
3. Sunscreen tetap dibutuhkan meski cuaca mendung

Sebagian orang masih mengira sunscreen hanya dibutuhkan saat cuaca cerah atau beraktivitas di luar ruangan. Faktanya, sinar ultraviolet tetap dapat merusak kulit meski langit mendung atau sedang berada di dalam rumah. Sinar UVA bahkan mampu menembus awan dan kaca, sehingga tetap berisiko mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan.
Hadley King, MD, dokter kulit bersertifikat, dikutip dari Real Simple, menjelaskan bahwa kulit terus-menerus terpapar dua jenis sinar UV, yaitu UVA dan UVB. Keduanya punya dampak berbeda, tetapi sama-sama dapat berefek buruk bagi kulit. Karena itu, sunscreen penting jadi bagian dari rutinitas harian. Pilihlah sunscreen dengan perlindungan broad spectrum agar kulit terlindungi dari paparan UVA dan UVB.
“Sinar UVA umumnya berkaitan dengan penuaan sel kulit dan menjadi penyebab munculnya kerutan, bintik akibat paparan matahari, serta tanda kerusakan kulit lainnya. Sementara itu, sinar UVB merupakan penyebab utama kulit terbakar, dapat merusak DNA sel kulit secara langsung, dan berkaitan dengan sebagian besar kanker kulit,” ujar Hadley King.
4. Produk anti-aging mahal belum tentu memberikan hasil terbaik

Saat memilih skincare anti-aging, banyak orang menganggap produk dengan harga mahal pasti memberikan hasil yang lebih baik. Harga tidak selalu menentukan efektivitas sebuah produk karena skincare terjangkau juga bisa bekerja optimal jika memiliki kandungan aktif yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
“Harga dalam industri perawatan kulit terkadang lebih mencerminkan pemasaran dan branding dibandingkan kualitas produk itu sendiri,” ujar Konstantin Vasyukevich, MD, dokter bedah plastik bersertifikat di New York City, dikutip dari Real Simple.
Karena itu, jangan hanya memilih produk berdasarkan harga, tetapi perhatikan juga kandungan aktif di dalamnya. Bahan seperti retinol, vitamin C, niacinamide, peptida, dan sunscreen dapat membantu menjaga kesehatan kulit jika digunakan sesuai kebutuhan.
5. Retinol tidak harus dipakai setiap hari agar efektif

Retinol menjadi salah satu kandungan skincare populer karena dipercaya dapat membantu melawan tanda-tanda penuaan. Namun, anggapan bahwa retinol harus digunakan setiap hari agar efektif tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, penggunaan terlalu sering sejak awal justru bisa memicu iritasi seperti kemerahan, kulit kering, gatal, hingga mengelupas, terutama pada kulit yang belum terbiasa.
Joshua Zeichner, menjelaskan bahwa kulit butuh waktu untuk beradaptasi dengan retinol melalui proses yang disebut retinisasi. Karena itu, sebaiknya memakainya secara bertahap agar kulit tidak mengalami stres berlebihan. Mulailah pakai retinol secara perlahan, misalnya beberapa kali dalam seminggu, lalu tingkatkan frekuensinya sesuai kemampuan kulit.
“Dalam dua hingga empat minggu pertama, kulit mengalami proses yang disebut retinisasi, yaitu ketika sel kulit menyesuaikan diri dengan molekul retinal. Pada tahap ini, kulit menjadi lebih mudah mengalami iritasi,” ujar Zeichner.
6. Kulit berminyak tetap membutuhkan pelembap

Banyak pemilik kulit berminyak menghindari pelembap karena khawatir wajah semakin mengilap atau pori-pori tersumbat. Faktanya, kulit berminyak tetap membutuhkan hidrasi agar lapisan pelindung kulit tetap sehat. Jika kulit kehilangan kelembapan, produksi minyak justru bisa meningkat sebagai respons alami tubuh.
Kini, sudah banyak tersedia pelembap dengan formula ringan dan berlabel non-comedogenic yang aman digunakan untuk kulit berminyak. Menggunakan pelembap yang tepat justru dapat membantu menjaga keseimbangan kulit tanpa membuat wajah terasa berat.
7. Rasa perih saat memakai skincare bukan berarti produk sedang bekerja

Masih banyak yang menganggap rasa panas atau perih setelah memakai skincare sebagai tanda produk sedang bekerja. Padahal, sensasi tersebut bisa menjadi tanda kulit mengalami iritasi akibat kandungan yang terlalu keras. Jika skin barrier rusak, kulit akan menjadi lebih sensitif, mudah kemerahan, dan rentan mengalami berbagai masalah.
Skincare yang baik seharusnya membantu memperbaiki dan menjaga kondisi kulit, bukan membuatnya terasa tidak nyaman. Karena itu, penting untuk memilih produk sesuai kebutuhan kulit dan tidak mencampurkan terlalu banyak bahan aktif sekaligus.
8. Skincare tidak bisa sepenuhnya menggantikan botox dan filler

Banyak produk skincare kini mengklaim mampu memberikan efek seperti prosedur estetika, sehingga membuat sebagian orang menganggap serum atau krim wajah bisa menggantikan tindakan injeksi. Faktanya, keduanya bekerja dengan cara berbeda karena skincare hanya membantu memperbaiki kondisi permukaan kulit.
Sementara itu, prosedur seperti Botox dan filler bekerja dengan mekanisme yang berbeda dari skincare. Botox membantu mengurangi aktivitas otot penyebab kerutan, sedangkan filler berfungsi mengembalikan volume wajah yang berkurang. Meski efektif untuk kebutuhan tertentu, prosedur injeksi tetap tidak dapat menggantikan peran skincare dalam menjaga kelembapan, memperbaiki tekstur, dan melindungi kulit dari faktor lingkungan.
Pada akhirnya, skincare dan prosedur estetika memiliki peran masing-masing dalam merawat kulit. Kunci mendapatkan kulit sehat bukan sekadar mencari solusi instan, melainkan memahami kebutuhan kulit dan menjaga rutinitas perawatan secara konsisten.
![[QUIZ] Pilih Karakter Upin Ipin, Ini Alasan Kamu Sering Terlambat Mulai Sesuatu](https://image.idntimes.com/post/20260620/1000016023_8db55259-733b-4243-a7c3-9af1b59374ce.jpg)



![[QUIZ] Seberapa Banyak Sikap Optimis dalam Dirimu Ketika Menghadapi Masalah?](https://image.idntimes.com/post/20250903/pexels-fauxels-3184419_af1d88eb-218f-4e37-b458-7488d55d072b.jpg)
![[QUIZ] Ekspektasimu dalam Hubungan Mengungkap Apakah Kamu Masih Semangat Menemukan Cinta Sejati?](https://image.idntimes.com/post/20251016/pexels-mlkbnl-8632945_d13cd1fd-3c2e-4f67-966b-62f303213947.jpg)










![[QUIZ] Dari Kebiasaan di Pagi Hari, Kamu Tipe yang Suka Menunda Pekerjaan atau Disiplin?](https://image.idntimes.com/post/20260406/beautiful-asian-woman-lying-her-bedroom-bed-stretching-hands-looking-outside-waking-up-fro_23bf3fe9-87ee-4657-abf8-cd775bf87c2f.jpg)

