Bayangkan, di satu hari Rabu yang kelihatannya biasa saja, pukul enam pagi, seorang perempuan memastikan bekal anak sudah masuk tas sambil membalas pesan di grup kantor. Siang hari, di sela rapat, ia mengecek tagihan listrik dan mengingat stok kebutuhan rumah yang tinggal sedikit. Sore hari, saat laptop bahkan belum ditutup, kepalanya sudah penuh dengan 'masak apa malam ini?'. Gak ada satu pun dari itu yang tercatat sebagai pekerjaan, tapi pikirannya hampir tak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Gambaran ini mungkin terasa akrab dan ternyata memang ada angkanya. Studi Populix bertajuk Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi melakukan survei pada 1.000 pekerja urban secara daring pada Maret-April 2026, terdiri dari 548 perempuan dan 452 laki-laki. Beban pengasuhan diukur lewat Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender (GCBI) berskala 0 sampai 100, dan rata-rata rumah tangga urban mencatat skor 45,7, masuk kategori Menengah. Perempuan mencatat skor 47,7, sedangkan laki-laki 43,2.
Menariknya, beban terberat itu ternyata bukan soal lamanya bekerja. Dari tiga hal yang diukur, urusan waktu justru yang paling ringan (24,9). Beban yang lebih terasa adalah beban memikirkan dan memutuskan urusan rumah (54,6), serta minimnya bantuan pengasuhan (57,5). Di sinilah paradoksnya muncul, perempuan sudah ikut menopang ekonomi keluarga, tapi peran sebagai 'manajer rumah' nyaris gak ikut berpindah tangan. Yuk, simak temuan lengkapnya di bawah ini!
