Comscore Tracker

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 Tahun

#AkuPerempuan Bukan cuma olahraga, tapi pembentukan karakter

Perhelatan Sea Games baru saja menjadi sorotan dunia. Bertandang ke Filipina, Indonesia berhasil menyabet posisi ke-4 dengan perolehan total medali 72 emas, 84 perak, dan 111 perunggu.

Cabang olahraga panahan berhasil menyumbang satu emas (team recurve putra) dan satu perunggu (team recurve putri). Sebuah kebanggaan bisa mengibarkan bendera merah putih di negeri orang. Namun, hal ini tidak bisa dirasakan atlet panahan putri asal Surabaya, Dellie Threesyadinda.

Sejak 2013, dia aktif di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) demi membawa nama harum Indonesia di cabang olahraga panahan untuk Sea Games.

"Istirahat untuk Pelatnas tahun ini, sekarang banyak urusan yang harus diselesaikan. Target ke depannya untuk PON 2020," tutur Dellie Threesyadinda kepada IDN Times ketika ditemui di Lapangan Atletik KONI Jawa Timur, Kamis, (2/12).

Di sela-sela mengajar muridnya, Dinda, sapaan akrabnya, berkisah tentang perjalanannya sebagai seorang atlet dan peran-peran lainnya. Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

1. Dinda aktif sebagai atlet panahan sejak usia tujuh tahun

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Dibesarkan di keluarga atlet membuat Dinda tertarik mengikuti jejak sang ibu, Lilies Handayani, seorang panahan legendaris Indonesia. "Aku waktu kecil sering diajak mama ke lapangan. Mama pun awal mula jadi atlet kayak aku, tapi aku memang pengin kayak dia," katanya.

Sejak usia lima tahun, Dinda sudah mengenal dunia panahan. Setelah melihat potensi yang dimilikinya, sang ibu pun mendukung sepenuhnya. "Aku dikasih busur kecil gitu, terus diajak latihan ke belakang rumah," ucap alumni Fakultas Hukum Universitas Narotama Surabaya itu. 

Setelah itu, Dinda kecil mengikuti pertandingan pertamanya di usia tujuh tahun. Tak tanggung-tanggung, dia pun langsung mendapatkan medali emas. Hal ini memicu dirinya untuk terus berlatih dan "haus" pertandingan panahan.

2. Fokus sebagai atlet panahan tidak melupakan kewajibannya dalam bersekolah

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Belajar, belajar, dan belajar! Biasanya para orangtua menekankan hal tersebut ketika kita masih kecil, ya gak? Hal ini tak berlaku untuk Dinda, karena prestasinya di bidang panahan. 

Dinda termasuk orang yang tidak mudah puas. Ia terus tertantang untuk mencoba berbagai pertandingan, sehingga membawanya berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Palembang untuk pertama kalinya. 

"Budaya kita masih pegang nilai belajar dulu. Cuma yang jadi nilai plus (ketika jadi atlet) dibanding teman-teman dulu, karena aku bisa memilih sekolah favorit di Surabaya," tutur wanita kelahiran 12 Mei 1990 tersebut.

Di samping itu, sekolah juga tempat untuk membangun relasi. "Sekolah itu lebih pada bangun link ya, karena ilmunya gak akan ingat lagi. Beberapa pelajaran juga gak akan aku pakai di masa depan, hehehe...," katanya. Namun, bukan berarti Dinda melupakan kewajibannya sebagai pelajar.

Dia sadar membagi waktu antara pendidikan dan prestasi cukup berisiko. Beberapa pelajaran sulit dia tangkap, tapi banyak guru yang membantunya supaya memahami materinya lebih mudah. 

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Awal tahun ini, Dinda akhirnya lulus sebagai sarjana hukum di Universitas Narotama Surabaya. Begitu banyak pengorbanan yang telah dia lalui sebelum bisa menamatkan studinya. 

Awalnya, Dinda merupakan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2008 di Universitas Airlangga di Surabaya. Sayangnya, saat itu pihak universitas belum bisa memberikan keringanan untuk para atlet, meski berprestasi. 

"Sejak 2013 sebenarnya pengin berhenti Pelatnas karena mau menyelesaikan kuliah. Ternyata aku masih pengin tanding," kata atlet asal Surabaya ini.

Dinda sadar betul mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Lulus sebagai sarjana masih menjadi keharusan untuk bisa mendapatkan jenjang karier yang lebih baik. Ibunya menjadi pemicu semangatnya dalam menimba ilmu di universitas. 

"Mama saja lulus, masak aku enggak. Kalau kuliahku gak selesai-selesai, ya aku mikir. Setelah tanding, tuh mau melakukan apa?," tuturnya.

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

"Padahal dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) sudah ada omongan buat atlet yang Pelatnas itu harusnya kampus memberikan SKS khusus. Dia bukan bolos atau malas, tapi berjuang mewakili Indonesia, lho. Mungkin memang sistem kita ini belum mendukung," ucapnya.

Akhirnya banyak atlet yang terpaksa drop out, padahal secara segi prestasi mereka sangat baik. "Jadi ya itu risiko dalam memilih," tuturnya.

Keseimbangan prestasi di bidang atlet dan akademis ibunya menjadi pecutan keras untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya dia memutuskan pindah ke Universitas Narotama.

Kata Dinda, "Untungnya aku pindah ke Narotama. Waktu itu rektornya dulunya juga atlet, jadi paham, terus aku boleh belajar via online, ujiannya baru datang."

3. Panahan berhasil membangun karakter Dinda menjadi lebih baik

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Sudah 23 tahun Dinda bergelut di dunia panahan. Namun, baru 10 tahun terakhir dia tersadar betapa besar cintanya terhadap dunia panahan. Hal ini disebabkan karena banyak manfaat yang sudah dirasakannya, termasuk dalam tahap pembentukan karakternya.

"Dulu yang dikejar kayak pengin menang aja, aku gak sadar secara menyeluruh. Setelah sudah dewasa, oh ternyata memang ini yang membentuk karakterku, tidak hanya olahraga tapi olahrasa," ucap pelatih Srikandi Archery School ini.

Kini dia merasa lebih bisa membawa diri dan menjaga emosi. Bisa lebih fokus menjadi kelebihan utama yang dirasakan berkat tempaan selama di atlet panahan.

4. Suka duka menjadi seorang atlet perempuan di Indonesia

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Kamu pasti masih ingat, kan bagaimana atlet perempuan begitu didiskriminasi? Bahkan seorang atlet Sea Games baru-baru harus dipulangkan, karena masalah keperawanan. "Bodohnya orang Indonesia itu, ya sukanya mencampur urusan personal, apa hubungannya sama prestasi?" kata Dinda geram. 

Meski sangat kesal dengan kejadian tersebut, Dinda sendiri mengatakan tak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif itu. Masalah yang kerap terjadi di lingkungannya lebih pada kedisiplinan atlet itu sendiri.

Dia juga tidak merasa adanya kesenjangan sosial di panahan. Menurutnya, panahan tidak seberat cabang olahraga lain. "Kalau kita sih saling ngerti, panahan tuh gak ada apa-apanya daripada olahraga berat lainnya," ucap Dinda.

Di kehidupan sosial pun demikian, anggapan orang tentang perempuan harus punya bentuk tubuh indah dan lembut, ditepisnya. Ia tak pernah mau menanggapi jika ada yang menuntutnya memiliki kriteria bentuk tubuh tertentu. Belajar mencintai diri sendiri merupakan kunci utama yang tertanam di dalam pikirannya.

"Katakan jadi perenang badannya kayak cowok, as long as berguna ya sudahlah cuek saja, mau dibilang seksi mau dibilang seram ya bodoh amat," tuturnya.

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Menjadi atlet berprestasi akhirnya membawa Dinda sukses sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Dia ditempatkan di daerah asalnya, Surabaya, di bawah naungan kementerian pemuda dan olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI).

"Mungkin karena lihat mama ya, mama PNS akhirnya aku ikut juga. Mungkin garisnya niru mama hehehe...," kata Dinda.

5. Dinda berhasil bangkit setelah mengalami kegagalannya

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Hidup bagaikan roda berputar, tak ada orang yang akan selalu di atas. Seperti yang disinggung di atas, Dinda merupakan sosok atlet yang membanggakan. Namun, tak jarang dia mengalami kegagalan.

Rasa kekecewaan terberatnya terjadi pada 2015. Kala itu, dia tidak berhasil membawa medali apa pun. "Kecewa banget, tapi ya sudah. Aku belajar lagi untuk bangkit, karena momen yang paling berkesan itu ketika jatuh, tapi kita coba bangkit lagi," tutur Dinda.

Beban mental sangat dia rasakan. "Kayak kamu pernah di angka 10, terus di level nol, itu psikis juga kena," tambahnya.

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Kegagalan tak lantas membuatnya terpuruk dan kecewa berlama-lama. Dinda langsung bangkit untuk introspeksi diri dan memperbaiki kesalahannya. "Aku gak pernah nyalahin orang lain. Setelah trial and error, ternyata waktu itu permasalahannya di peralatan yang gak sesuai dengan teknikku," ucapnya.

Beragam pencapaian yang belum tercapai juga menjadi penyemangat. "Aku tuh gak gampang nyerah. Aku kan masih punya banyak goals, sampai sekarang juga masih ada," tutur Dinda.

Terus berlatih akhirnya mengantarkannya membawa pulang medali perunggu dalam ajang Archery World Cup di Turki pada 2016. Sebuah hal yang membanggakan, sebab Indonesia terakhir bisa menang di sana pada tahun 2007 lalu.

Baca Juga: Perjalanan Mira Lesmana Menjadi Produser Ternama, Awalnya Diam-Diam!

6. Menang bersama ibunya menjadi momen terbaik selama di dunia panahan

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Banyak momen berkesan yang dia dapatkan selama menjadi atlet, terutama bisa mengibarkan bendera merah putih di luar negeri. Archery World Cup 2007 di Dover, United Kingdom, menjadi pertandingan paling memorable baginya.

Satu tim dengan ibunya, Dinda berhasil mendapatkan medali perak. "Mungkin itu akan susah ditiru yang lain, kebetulan waktu itu mama masih aktif," kata atlet panahan peringkat ke-117 di dunia ini. 

7. Dinda berusaha keluar dari zona nyaman sebagai atlet panahan

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Sukses sebagai atlet panahan tak serta merta membuat seorang Dinda terlena begitu saja. Ia tak ingin menggantungkan hidupnya hanya dari perannya sebagai atlet.

Ia pun menggali potensi dengan melakukan banyak hal. "Aku penasaran apakah seorang Dinda, nih cuma bisa manah saja? Kalau gak gitu, ya aku akan stuck di situ terus. Sekarang sih mulai babat alas, kita liat saja nanti mana yang berhasil," tutur putri sulung Lilies Handayani.

Dinda bersyukur prestasi yang selama ini dia bangun mengantarkannya bertemu banyak orang dari berbagai kalangan. Hal ini memudahkannya untuk membangun relasi yang baik.

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Masih ada sangkut pautnya dengan dunia panahan, perlahan Dinda belajar sebagai seorang pengusaha. Bersama ibunya, mereka mendirikan Archery Battle Legend yang berlokasi di Atlas Sports Centre Surabaya.

Dinda ingin mengenalkan dunia panahan dengan cara yang lebih menyenangkan. Di sini, kamu bisa sekadar senang-senang, layaknya main paintball. "Setelah kalian sudah suka dunia panahan dan mau ke dunia prestasi, nanti kami arahkan ke jalur yang lain," tutur Dinda.

8. Dinda merasa bangga terlahir sebagai perempuan

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Sebagai seorang perempuan dia berpikir untuk tidak takut menantang dirinya sendiri. Dia selalu berusaha kuat dan mandiri, sehingga bisa membiayai semua kebutuhannya sendiri. 

"Kita harus berani bermimpi dan mengejar cita-cita, jangan mengharapkan dari laki-laki saja," katanya.

Meski ke depannya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga, Dinda tak ingin hanya berdiam diri di rumah. Banyak hal yang bisa dilakukan supaya punya nilai lebih sebagai seorang perempuan dan istri.

"Jangan berpikir perempuan itu ada yang ngopeni (merawat). Perempuan harus bisa lebih dari itu. Harus punya sesuatu, entah jadi pengusaha atau apa pun," ucap Dinda.

Dellie Threesyadinda, Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 TahunPotret atlet panahan Dellie Threesyadinda saat ditemui di Lapangan KONI Jatim (2 Desember 2019). IDN Times/Reza Iqbal

Selain ibunya, sosok Susi Pudjiastuti menjadi tokoh yang menginspirasi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. "Beliau mengejar mimpi dan sukses. Ada lika-liku di keluarga, tetap saja ngerjain sesuatu dan berdiri sendiri untuk anak-anaknya," kata Dinda.

Baginya, perempuan hebat bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. "Multitasking, bisa jadi seorang ibu, pekerja, bisa memperjuangkan cita-citanya tanpa tergantung laki-laki," ucapnya. Terpenting, bagi perempuan di luar sana, Dinda berharap kalau para perempuan bisa membawa diri dengan baik di mana pun melangkah.

Nah, itulah kisah Dellie Threesyadinda, seorang atlet panahan Indonesia dengan segudang prestasi. Semoga bisa menginspirasimu dalam mengejar cita-cita dan bersikap ya, terutama bagi para perempuan yang sedang berjuang mengejar impian.

Baca Juga: Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...

Topic:

  • Reza Iqbal
  • Dewi Suci R.
  • Pinka Wima

Just For You