Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Sisi Gelap Menjadi Perempuan yang Selalu Bisa Diandalkan

7 min read
4 Sisi Gelap Menjadi Perempuan yang Selalu Bisa Diandalkan
ilustrasi rebahan di sofa, stres, lelah, pusing (magnific.com/magnific)
  • Perempuan yang selalu diandalkan berisiko menerima tanggung jawab kerja dan keluarga berlebihan, sementara data Gallup menunjukkan burnout mereka lebih tinggi dibanding laki-laki.
  • Bantuan praktis tidak selalu mengurangi mental load: perencanaan dan pengawasan terus mengisi pikiran, membuat waktu istirahat sulit dinikmati serta memicu rasa bersalah.
  • Kebiasaan selalu membantu dapat menyulitkan perempuan berkata tidak dan menggantungkan nilai diri pada kebutuhan orang lain, sehingga batasan serta minat pribadi penting diperhatikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi perempuan yang selalu bisa diandalkan memang terlihat seperti sebuah kelebihan. Di lingkungan kerja, kamu dikenal sebagai sosok yang mampu menyelesaikan berbagai tugas, sedangkan di keluarga, kehadiranmu sering menjadi andalan untuk mengurus banyak keperluan. Awalnya, mungkin kamu merasa bangga karena orang-orang memercayai kemampuanmu dan menganggapmu sebagai pribadi yang tangguh.

Namun, semakin sering kamu membantu orang lain, semakin banyak pula tanggung jawab yang akhirnya dibebankan kepadamu. Tanpa disadari, kebiasaan selalu mengutamakan kebutuhan orang lain bisa membuatmu kehilangan waktu, energi, bahkan kesempatan untuk memperhatikan diri sendiri.

Fenomena ini juga berkaitan dengan beban pekerjaan dan tanggung jawab domestik yang sering dihadapi perempuan. Laporan Gallup pada 2026, misalnya, menunjukkan bahwa perempuan pekerja penuh waktu di Amerika Serikat memiliki tingkat employee engagement lebih tinggi daripada laki-laki, tapi juga melaporkan burnout lebih sering.

Artinya, terlihat produktif dan mampu diandalkan gak selalu berarti seseorang baik-baik saja secara mental maupun emosional. Ada beberapa sisi gelap menjadi perempuan yang selalu bisa diandalkan dan ini perlu dipahami. Tujuannya agar kebiasaan membantu orang lain gak bikin kebutuhan diri sendiri terus terabaikan.

  1. 1. Semakin bisa diandalkan, semakin banyak tanggung jawab yang diberikan

    ilustrasi overwhelmed
    ilustrasi overwhelmed (freepik.com/wayhomestudio)

    Pernahkah kamu merasa pekerjaan yang diberikan kepadamu semakin bertambah karena orang-orang tahu bahwa kamu bisa menyelesaikannya? Awalnya, mungkin kamu hanya diminta membantu satu atau dua pekerjaan tambahan. Namun, karena hasilnya selalu memuaskan, orang lain mulai terbiasa menyerahkan berbagai tanggung jawab kepadamu. Bahkan, ketika ada pekerjaan mendadak atau masalah yang perlu segera diselesaikan, namamu menjadi salah satu orang pertama yang mereka cari.

    Situasi serupa juga bisa terjadi dalam kehidupan keluarga. Kamu mungkin menjadi orang yang selalu mengingat jadwal pertemuan keluarga, mengurus kebutuhan orangtua, mengatur berbagai keperluan rumah, hingga memastikan semua anggota keluarga tetap terhubung. Lama-kelamaan, tanggung jawab tersebut terasa seperti kewajiban yang harus kamu jalankan. Padahal, gak semua urusan keluarga seharusnya menjadi tanggung jawabmu seorang diri.

    Hal yang membuat situasi ini semakin melelahkan adalah ketika orang lain menganggap kemampuanmu sebagai alasan untuk terus memberikan pekerjaan tambahan. Kamu mungkin sering mendengar kalimat seperti, "Kamu kan paling bisa mengurus hal seperti ini." Sekilas terdengar seperti pujian, tapi jika terus berulang, kalimat tersebut justru bisa menjadi beban. Kamu akhirnya kesulitan membedakan mana tanggung jawab yang memang harus dikerjakan dan mana yang sebenarnya bisa dibagi dengan orang lain.

    Laporan Gallup tersebut juga memperlihatkan bahwa tingkat burnout perempuan tetap lebih tinggi dibandingkan laki-laki, baik pada kelompok yang memiliki anak maupun yang tidak memiliki anak. Pada perempuan tanpa anak, angkanya mencapai 31 persen, sedangkan laki-laki tanpa anak sebesar 23 persen. Temuan ini memperlihatkan bahwa tekanan pekerjaan dan burnout tidak selalu berkaitan dengan tanggung jawab mengasuh anak.

  2. 2. Sulit menikmati waktu luang karena pikiran terus dipenuhi tanggung jawab

    ilustrasi me time
    ilustrasi me time (freepik.com/jcomp)

    Mungkin kamu pernah berharap bisa memiliki lebih banyak waktu luang setelah karier semakin berkembang dan penghasilan meningkat. Dengan kondisi keuangan yang lebih baik, kamu bisa menggunakan jasa asisten rumah tangga, layanan antar makanan, atau bantuan lainnya untuk mengurangi pekerjaan sehari-hari. Sayangnya, memiliki bantuan untuk mengerjakan sesuatu gak selalu membuat beban pikiran ikut berkurang. Sebab, kamu masih harus memikirkan apa saja yang perlu dikerjakan, kapan harus dilakukan, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

    Kondisi tersebut berkaitan dengan istilah mental load, yaitu beban pikiran untuk merencanakan, mengatur, mengingat, dan mengawasi berbagai tanggung jawab. Misalnya, meskipun orang lain sudah membantu membersihkan rumah, kamu tetap harus mengingatkan kapan persediaan kebutuhan rumah tangga perlu dibeli. Begitu pula ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, kamu mungkin masih menjadi orang yang memikirkan jadwal, membuat pengaturan, hingga memastikan semuanya berjalan lancar. Akibatnya, waktu istirahat yang seharusnya bisa dinikmati justru dipenuhi berbagai hal yang perlu kamu urus.

    Beban pekerjaan dan kondisi tubuh juga bisa memperburuk kelelahan yang kamu rasakan. Menurut laporan National Center for Health Statistics (NCHS) yang diterbitkan pada September 2026, sebanyak 71,5 persen orang dewasa di Amerika Serikat merasa sangat lelah atau kehabisan energi setidaknya pada beberapa hari selama tiga bulan terakhir. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, perempuan lebih banyak mengalami kelelahan yang sering, yaitu 20 persen dibandingkan laki-laki sebesar 13 persen. Data ini memang menggambarkan kondisi masyarakat Amerika Serikat, tapi bisa menjadi gambaran bahwa kelelahan merupakan persoalan yang perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang terus menghadapi berbagai tuntutan.

    Kondisi ini juga bisa membuatmu merasa bersalah ketika mencoba menikmati waktu sendiri. Saat sedang menonton film, membaca buku, atau sekadar beristirahat, pikiranmu mungkin tiba-tiba mengingat pekerjaan yang belum selesai. Kamu merasa seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih produktif daripada duduk santai. Jika terus dibiarkan, kamu bisa kehilangan kemampuan untuk menikmati waktu luang tanpa memikirkan tanggung jawab lainnya, lho.

  3. 3. Merasa bersalah ketika mulai berani mengatakan tidak

    ilustrasi menolak
    ilustrasi menolak (unsplash.com/Francisco De Legarreta C.)

    Bagi perempuan yang terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain, mengatakan tidak bisa menjadi hal yang sangat sulit. Kamu mungkin khawatir orang lain akan kecewa, marah, atau menganggapmu berubah menjadi pribadi yang egois. Perasaan tersebut bisa semakin kuat apabila selama ini kamu dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia membantu. Ketika tiba-tiba menolak permintaan, kamu merasa seolah-olah sedang mengecewakan orang yang selama ini mengandalkanmu.

    Situasi ini bisa terjadi karena sejak kecil sebagian perempuan terbiasa mendapatkan dorongan untuk bersikap baik, mengalah, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Dalam keluarga atau lingkungan yang mengaitkan kepedulian dengan tanggung jawab, menolak permintaan terkadang terasa seperti gak menyayangi orang tersebut. Padahal, membantu orang lain seharusnya gak sampai membuatmu mengabaikan kemampuan dan kebutuhan diri sendiri. Kamu tetap boleh memiliki batasan meskipun orang-orang di sekitarmu sudah terbiasa mendapatkan bantuan darimu.

    Padahal, perubahan kebiasaan memang bisa membuat sebagian orang merasa gak nyaman. Mereka sudah terbiasa mendapatkan bantuan darimu sehingga mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Namun, kekecewaan orang lain gak selalu berarti kamu melakukan kesalahan, lho. Kamu tetap bisa menyayangi keluarga, peduli terhadap teman, dan menjadi rekan kerja yang baik tanpa harus menyetujui semua permintaan mereka.

    Cobalah membedakan antara tanggung jawab yang memang penting dan kegiatan tambahan yang sebenarnya bisa ditolak. Misalnya, kamu tetap bisa membantu orangtua memenuhi kebutuhan penting, tapi gak harus selalu menjadi orang yang mengatur setiap acara keluarga. Kamu juga bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai tanggung jawab tanpa harus terus menerima tugas tambahan dari rekan kerja. Belajar mengatakan tidak bukan berarti kamu kehilangan kepedulian, melainkan mulai memahami bahwa waktu dan energimu juga memiliki batas.

  4. 4. Kehilangan identitas ketika tak lagi dibutuhkan orang lain

    ilustrasi duduk sendirian, menatap jendela, merenung
    ilustrasi duduk sendirian, menatap jendela, merenung (magnific.com/magnific)

    Ada satu sisi yang mungkin gak pernah kamu sadari ketika terlalu lama menjadi sosok yang bisa diandalkan, yaitu munculnya perasaan kehilangan ketika orang lain mulai bisa mengurus kebutuhannya sendiri. Selama bertahun-tahun, kamu mungkin mendapatkan kepuasan karena mampu membantu banyak orang. Kamu merasa memiliki peran penting dalam keluarga, lingkungan pertemanan, maupun pekerjaan. Tanpa disadari, perasaan berharga tersebut akhirnya sangat bergantung pada seberapa banyak orang yang membutuhkan bantuanmu.

    Ketika mulai mengurangi tanggung jawab, kamu mungkin justru merasakan kesedihan. Misalnya, saat anggota keluarga mulai mengatur urusannya sendiri, kamu merasa gak lagi memiliki peran sebesar sebelumnya. Begitu pula ketika pekerjaan yang biasanya kamu tangani mulai dibagikan kepada orang lain. Ada perasaan kehilangan karena selama ini kemampuan mengurus banyak hal sudah menjadi bagian dari identitasmu.

    Perasaan kehilangan tersebut juga berkaitan dengan kebanggaan yang selama ini kamu dapatkan dari peran sebagai orang yang selalu bisa diandalkan. Kamu sudah terbiasa mengantisipasi kebutuhan orang lain, mencari solusi ketika muncul masalah, dan memastikan berbagai urusan berjalan lancar. Karena itu, mengurangi tanggung jawab terkadang terasa seperti kehilangan bagian penting dari diri sendiri. Bahkan, kamu mungkin mulai menyadari betapa banyak waktu dan energi yang sudah dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

    Namun, penting untuk memahami bahwa nilai dirimu gak ditentukan oleh seberapa sering orang lain membutuhkan bantuanmu, ya. Kamu tetap menjadi pribadi yang berharga meskipun sedang tidak melakukan apa pun untuk orang lain. Mulailah mencari kegiatan, minat, dan tujuan pribadi yang bisa memberikan kepuasan tanpa harus selalu berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang lain.

    Penelitian dalam Journal of Occupational and Organizational Psychology yang diterbitkan pada 2025 juga menemukan hubungan antara peningkatan gejala menopause dan meningkatnya burnout. Penelitian yang melibatkan 679 perempuan di Inggris tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami gejala menopause semakin berat selama enam bulan cenderung mengalami peningkatan burnout. Temuan ini mengingatkan bahwa perubahan kondisi tubuh juga dapat menambah tantangan bagi perempuan yang tetap harus memenuhi berbagai tuntutan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

    Walau kemampuan ini merupakan hal positif, tetap ada sisi gelap menjadi perempuan yang selalu bisa diandalkan. Jangan sampai kemampuan tersebut membuatmu terus-menerus mengorbankan kebutuhan pribadi. Kamu berhak mendapatkan waktu istirahat, meminta bantuan, dan menolak tanggung jawab tambahan ketika memang gak sanggup melakukannya.

    Cobalah mulai dari langkah sederhana, seperti membiarkan orang lain mengatur kegiatan keluarga atau tidak langsung menyanggupi setiap permintaan. Ingat, kamu tetap berharga meskipun gak selalu menjadi orang yang menyelesaikan semua urusan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More