Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Skin Burnout, Ketika Terlalu Banyak Produk dan Bikin Kulit Bermasalah
ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/olly)
  • Skin burnout terjadi saat kulit kewalahan akibat eksfoliasi berlebihan, penumpukan bahan aktif, atau terlalu sering mencoba produk baru; stres, kurang tidur, dan paparan lingkungan juga dapat memengaruhi kondisi kulit.
  • Tandanya meliputi kulit kencang, perih, kemerahan, kusam, sensitif, mudah breakout, hingga mengelupas; kondisi ini dapat menandakan skin barrier terganggu dan kulit sulit mempertahankan kelembapan.
  • Pemulihan dilakukan dengan menyederhanakan rutinitas menjadi pembersih lembut, pelembap, dan sunscreen; hentikan sementara bahan aktif, masukkan kembali bertahap, serta konsultasi dokter bila iritasi menetap atau memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya banyak produk skincare memang bikin rutinitas perawatan kulit terasa lebih lengkap. Namun, terlalu sering mengeksfoliasi, menumpuk bahan aktif, atau mencoba produk baru justru bisa membuat kulit kewalahan.

Kalau kulit mulai terasa kencang, perih, kemerahan, atau malah semakin kusam, bisa jadi kamu sedang mengalami skin burnout. Lantas, apa saja tanda skin burnout dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak artikel berikut ini!

1. Apa itu skin burnout?

ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/ekaterinabolovtsova)

Skin burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika kulit menjadi kusam, sensitif, mudah bereaksi, atau tidak lagi merespons rutinitas skincare seperti biasanya. Menurut Dr. Simon Ourian, dokter kulit kosmetik sekaligus pendiri Simon Ourian MD, dikutip dari Beauty News Daily, kondisi ini sering terjadi akibat stimulasi berlebihan, eksfoliasi terlalu sering, atau penggunaan terlalu banyak bahan aktif tanpa memberikan waktu bagi kulit untuk pulih.

Bukan cuma skincare, kondisi kulit juga dapat dipengaruhi stres, kelelahan, kurang tidur, pola makan, kurang olahraga, hingga paparan sinar UV, angin, udara dingin, dan polusi. Jadi, ketika kulit tiba-tiba "rewel" penyebabnya belum tentu hanya produk yang sedang kamu gunakan.

2. Tanda-tanda skin burnout

ilustrasi menyentuh wajah (pexels.com/olly)

Gejala skin burnout meliputi kulit terasa kencang, sensitif, mudah breakout, serta tampak kusam atau tidak merata. Kondisi ini dapat menandakan skin barrier terganggu sehingga kulit lebih sulit mempertahankan kelembapan dan rentan mengalami iritasi serta dehidrasi.

Pada kondisi lebih parah, kulit bisa mengalami dehidrasi kronis yang ditandai dengan pengelupasan, kemerahan, atau rasa perih saat mencuci wajah dan memakai pelembap. Tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa kulit sedang membutuhkan waktu untuk pulih.

3. Cara mengatasi skin burnout

ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/polinatankilevitch)

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menyederhanakan rutinitas skincare. Kurangi sementara penggunaan bahan aktif yang berpotensi mengiritasi, terutama jika kamu terbiasa menggunakan beberapa jenis asam atau melakukan eksfoliasi terlalu sering.

Dr. Ourian menyarankan penggunaan bahan yang membantu menenangkan kulit, seperti niacinamide, bisabolol, aloe vera, panthenol, dan allantoin. Untuk menjaga hidrasi, kamu juga bisa mempertimbangkan bahan seperti gliserin dan hyaluronic acid.

Selama masa pemulihan, fokuslah pada produk dasar seperti pembersih yang lembut, pelembap, dan sunscreen. Setelah kondisi skin barrier membaik, bahan aktif yang lebih kuat dapat dimasukkan kembali secara bertahap, satu per satu, sambil memperhatikan reaksi kulit.

“Setelah skin barrier kembali pulih, biasanya setelah beberapa minggu, kamu dapat secara bertahap memasukkan kembali bahan aktif yang kuat, satu per satu. Saya selalu menyarankan untuk mendengarkan kondisi kulitmu. Jika kulit terlihat merah, terasa kencang, atau perih, itu merupakan tanda bahwa kulit membutuhkan istirahat, bukan lebih banyak produk,” ujar Simon Ourian.

4. Cara mencegah skin burnout

ilustrasi membersihkan wajah (pexels.com/miriamalonso)

Mencegah skin burnout bukan berarti harus berhenti menggunakan bahan aktif, tetapi menggunakannya secara lebih bijak. Hindari menumpuk terlalu banyak produk sekaligus, terlalu sering berganti skincare, atau melakukan eksfoliasi secara berlebihan.

Dr. Ourian juga mengingatkan bahwa penggunaan beberapa jenis asam secara berlapis dan pembersih yang terlalu keras dapat mengganggu skin barrier. Karena itu, pilih rutinitas yang sesuai dengan kebutuhan kulit dan berikan waktu agar kulit beradaptasi dengan setiap produk baru.

Selain perawatan dari luar, perhatikan juga gaya hidup. Dr. Hadley King, dokter kulit bersertifikasi, dikutip dari Beauty News Daily, menyarankan untuk mengelola stres, mendapatkan tidur yang cukup, menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melindungi kulit dari faktor lingkungan menggunakan sunscreen, pelembap, dan antioksidan.

“Tingkatkan faktor gaya hidup seperti pengelolaan stres, pola makan yang baik, olahraga secara rutin, dan tidur yang cukup. Lindungi kulit dari kerusakan akibat lingkungan dengan menggunakan pelindung matahari, pelembap, dan antioksidan,” jelas Hadley King.

5. Kapan harus ke dokter kulit?

ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/ronlach)

Kalau kulit hanya terasa sedikit kering atau sensitif setelah mencoba produk baru, kamu bisa terlebih dahulu menyederhanakan rutinitas dan memberikan waktu untuk pemulihan. Namun jika kemerahan, rasa perih, breakout, pengelupasan, atau iritasi terus berlangsung dan semakin parah, sebaiknya jangan terus bereksperimen dengan produk sendiri.

Konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu mencari tahu apakah masalah tersebut benar-benar berkaitan dengan skin burnout atau justru merupakan kondisi kulit lain yang membutuhkan penanganan khusus. Apalagi jika kamu memiliki kondisi seperti rosacea, eksim, atau masalah kulit lainnya, sebaiknya jangan sembarangan mengubah rutinitas perawatan.

Kulit gak selalu butuh lebih banyak produk untuk terlihat sehat. Terkadang, yang paling dibutuhkan justru rutinitas sederhana, waktu untuk beristirahat dan sedikit kesabaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article