“Festival ini adalah perayaan hubungan manusia, alam, dan pengetahuan leluhur yang terus hidup di dalam rumah panjang kami,” ujar Moses Bungkong, Ketua Panitia Festival Tenun Iban Sadap, dikutip dari rilis yang diterima IDN Times.
Festival Tenun Iban Sadap: Menenun Sebagai Bentuk Peduli Lingkungan

- Tenun Iban Sadap merupakan warisan budaya Indonesia yang unik dan memiliki makna filosofis yang dalam.
- Praktik menenun bagi masyarakat Iban Sadap bukan hanya kegiatan produksi, tetapi juga wujud merawat dan melindungi bumi serta mewariskan nilai-nilai spiritual.
- Festival Tenun Iban Sadap 2025 menyajikan berbagai kegiatan menarik dan inspiratif, seperti seminar, workshop proses menenun, peragaan pakaian adat, pelajaran teknik pewarnaan alam, dan program susur sungai serta hutan.
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mendukung kepedulian lingkungan, salah satunya dengan menenun. Melalui Festival Tenun Iban Sadap yang diselenggarakan oleh masyarakat Rumah Panjang Sadap bersama sejumlah lembaga, seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Forest Watch Indonesia (FWI), WWF Indonesia, Yayasan Pelestari Budaya Dayak, Matata, Rekam Nusantara Foundation, dan Rangkong Indonesia pada Desember 2025 lalu, menjadi bukti bahwa melestarikan budaya merupakan bentuk upaya melindungi bumi.
Festival ini dibuka secara resmi pada Jumat (18/12/2025) oleh perwakilan Bupati Kapuas Hulu, Agustinus Sargito, S.Sos dan dihadiri oleh perwakilan Kementerian Budaya Republik Indonesia, Dr. Yulianus Limbeng, S.Sn, M.Si. Bertajuk Merawat Alam, Menenun Pengetahuan, Festival Tenun Iban Sadap 2025 bukan sekadar sebuah acara, melainkan gerakan budaya yang bertujuan untuk menciptakan hubungan erat antara manusia, pengetahuan leluhur, dan alam.
1. Mengenal keunikan Tenun Iban Sadap

Tenun Iban Sadap masuk dalam kategori warisan budaya Indonesia. Tenun ini berasal dari karya tangan Komunitas Dayak Iban Sadap Ketemenggungan Iban Batang Kanyau yang berlokasi di Desa Menua Sadap Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.
Di tanah yang subur, hutan yang asri, serta udara yang bersih itulah hidup masyarakat Dayak Iban yang selama turun-temurun menjaga kelestarian hutan dan ekologinya. Tenun Iban Sadap sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Tenun ini dibuat menggunakan pewarna alami yang bersumber dari daun, serbuk batang, kulit, dan akar tumbuhan.
Keunikan Tenun Iban Sadap bukan hanya terletak pada kualitas serat dan motif khas yang rumit, seperti motif tauk randau entimau, silup langit, karak jangkit, tersang pedara, dan lainnya, tetapi juga makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Setiap garis, warna, dan motif yang dirancang dengan penuh kesabaran serta ketelitian turut merekam jejak memori leluhur, hubungan spiritual dengan alam, dan struktur sosial yang melekat pada masyarakat adat.
2. Tenun sebagai penjaga hutan dan warisan leluhur

Bagi masyarakat Iban Sadap, praktik menenun bukan hanya kegiatan produksi, melainkan sebagai wujud merawat dan melindungi bumi. Manusia dan alam pada dasarnya dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak bisa hidup tanpa alam dan hutan adat menyediakan segala hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup.
Tenun menjadi medium penting dalam mewariskan nilai-nilai spiritual dan kearifan hubungan antara manusia dengan alam kepada generasi muda. Tenun menjadi bukti, bahwa menjaga kelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan nilai budaya dan kearifan lokal agar tidak masuk dalam ambang kepunahan.
3. Terdapat berbagai kegiatan menarik dan inspiratif

Festival Tenun Iban Sadap 2025 menyajikan berbagai kegiatan menarik dan inspiratif bagi pengunjung. Selain seminar seputar warisan budaya, terdapat pula kegiatan workshop proses menenun, peragaan pakaian iban sesuai adat, pelajaran mengenai teknik pewarnaan dari alam, pemutaran film, dan proses penanaman pohon tanaman pewarna alam.
Tak sampai di situ, pengunjung juga diperbolehkan melakukan perjalanan ke pondok hutan melalui susur sungai dan menyusuri hutan dengan berjalan kaki. Program ini, tentu saja dibuat agar pengunjung bisa mengetahui dan ikut merasakan langsung bagaimana kehidupan masyarakat adat dalam memelihara hutan mereka.
4. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peran aktif masyarakat dan pemerintah dalam menjaga hutan serta melindungi masyarakat adat

Dalam penutup rangkaian kegiatan festival, Mufti Fathul Barri, Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Komunitas Rumah Panjang Iban Sadap atas suksesnya penyelenggaraan Festival Tenun tahun ini. Dirinya juga berharap melalui kegiatan ini, baik pemerintah maupun masyarakat luas bisa lebih sadar dan peduli akan kelestarian hutan, warisan budaya, serta perlindungan terhadap masyarakat adat.
Kehidupan masyarakat adat menjadi bukti bagaimana manusia dan alam bisa berjalan beriringan. Mampu beradaptasi di tengah perubahan zaman, krisis iklim, dan modernisasi yang berlangsung sangat cepat.
“Karena ketika budaya lestari, alam terjaga, dan masyarakat berdaya, kita sedang menenun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan,” tandasnya.

















