Ilustrasi negara Belanda (pexels.com/Jan van der Wolf)
Pada abad ke-17, munculnya kelas menengah yang membawa perubahan besar dalam dunia busana. Ketika kelompok masyarakat ini mulai memiliki daya beli yang lebih kuat, pakaian tidak lagi menjadi simbol eksklusif kalangan bangsawan saja. Selera dan kebutuhan mereka ikut membentuk tren, sehingga model, warna, dan potongan pakaian menjadi lebih beragam. Pada masa ini, bahan-bahan mewah seperti sutra dan beludru semakin populer dan lebih mudah diakses oleh masyarakat di luar aristokrasi.
Pada abad ke-18, pengaruh mode Prancis mulai terasa ketika gaya berpakaian Eropa beralih dari bentuk yang kaku dan berat, menjadi siluet yang lebih ramping dan anggun. Pada periode ini, pusat tren fashion banyak dipengaruhi oleh perkembangan di Prancis, terutama dari kalangan istana dan bangsawan. Siluet pakaian jadi lebih ramping dan elegan, dengan potongan yang mempertegas bentuk tubuh tanpa terlihat berlebihan.
Lantas, di abad ke-19 ketika semangat kebangsaan mulai tumbuh di berbagai wilayah Eropa, banyak orang kembali menengok akar tradisi mereka. Pakaian tradisional yang sebelumnya mulai ditinggalkan, dianggap sebagai simbol jati diri dan kebanggaan nasional sehingga minat terhadap busana daerah pun bangkit kembali. Di berbagai negara, termasuk Belanda, pakaian adat seperti klederdracht kembali dikenakan dalam perayaan, upacara, dan momen penting lainnya. Busana tradisional tidak hanya dilihat sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai representasi nilai, sejarah, dan solidaritas suatu bangsa.