Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Kenapa Suami Istri Sering Bertengkar dan Solusinya

5 Alasan Kenapa Suami Istri Sering Bertengkar dan Solusinya
ilustrasi kenapa suami istri sering bertengkar (pexels.com/SHVETS production)
  • Konflik pasangan kerap dipicu komunikasi emosional yang dangkal dan ekspektasi yang tidak dibicarakan, sehingga ganjalan menumpuk lalu meledak karena hal kecil.
  • Perbedaan cara menghadapi konflik perlu disepakati: pihak yang membutuhkan jeda sebaiknya menyampaikannya jelas dan menentukan waktu untuk melanjutkan pembicaraan.
  • Pembagian peran yang timpang serta kelelahan fisik dan burnout menurunkan kesabaran; inisiatif membantu dan keterbukaan soal kebutuhan istirahat dapat meredakan ketegangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ingin secepatnya pulang ke rumah setelah seharian lelah bekerja, es, tahu-tahu atmosfer rumah sudah dingin kayak kutub utara cuma gara-gara masalah sepele. Suasana rumah yang tadinya kamu bayangkan jadi tempat recharge energi, malah mendadak berubah jadi arena laga yang bikin kepala mau pecah. Fenomena kenapa suami istri sering bertengkar ini sebenarnya hal yang wajar banget terjadi dalam dinamika pernikahan, apalagi kalau kalian berdua sama-sama lagi capek. 

Namun kalau dibiarkan terus-terusan, masalah kecil yang kelihatannya sepele ini bisa pelan-pelan menumpuk jadi benteng emosi yang tinggi, lho. Kalau drama rumahtangga ini gak segera kamu benahi bareng pasangan, dampaknya bisa bikin hubungan kalian makin renggang dan dingin. Kamu bakal merasa gak dipahami, sementara pasanganmu mungkin merasa gak dihargai atau diabaikan keberadaannya. Padahal, membedah akar masalahnya dan cari jalan keluar bersama itu jauh lebih melegakan daripada saling diam atau meledak-ledak tiap hari. Yuk, cari penyebab kenapa suami istri sering bertengkar agar kalian bisa mencari solusi terbaik!


  1. 1. Komunikasi yang cuma di permukaan

    ilustrasi pasangan yang selalu melakukan komunikasi terbuka
    ilustrasi pasangan yang selalu melakukan komunikasi terbuka (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Banyak pasangan berpikir kalau mereka sudah sering mengobrol, artinya komunikasinya baik-baik saja. Padahal, membicarakan tagihan listrik atau mau makan apa nanti malam itu beda sama komunikasi emosional yang mendalam. Saat kamu atau pasangan lagi menyimpan ganjalan tapi cuma ngomong di permukaan, rasa jengkel terpendam bakal pelan-pelan menumpuk. Alhasil, bom waktu ini dapat meledak kapan saja cuma gara-gara hal kecil yang sebenarnya gak berhubungan.

    Contohnya, kamu mendadak emosi cuma karena pasangan lupa mematikan lampu kamar mandi. Padahal masalah aslinya adalah kamu merasa kurang diapresiasi atas kerja kerasmu seharian ini. Di sinilah pentingnya memahami emotional bids atau sinyal emosional dari pasangan yang kerap terabaikan di tengah kesibukan. Coba deh, luangkan waktu buat bicara dari hari ke hari tanpa gadget minimal 15 menit sebelum tidur. Tanyakan kabarnya secara emosional, bukan cuma sekadar menanyakan agenda harian, biar kalian tetap merasa terhubung secara batin, ya.


  2. 2. Ekspektasi yang gak pernah dibicarakan

    ilustrasi pasangan yang mengalami bentrokan ego
    ilustrasi pasangan yang mengalami bentrokan ego (pexels.com/AI25.Studio AI GENERATIVE)

    Sebelum menikah, kamu dan pasangan mempunyai gambaran ideal tentang bagaimana sosok suami atau istri yang sempurna. Masalahnya, gambaran itu cuma disimpan di dalam kepala sendiri tanpa pernah didiskusikan secara terbuka. Ketika realitanya gak sesuai sama bayangan, timbul rasa kecewa yang akhirnya memicu bentrokan ego. Alasan kenapa suami istri sering bertengkar kerap bersumber dari ekspektasi yang dianggap harusnya sudah dipahami tanpa perlu dibicarakan.

    Contoh sederhananya, kamu berharap istri paham kalau kamu butuh me time sejam setelah pulang kerja. Namun, karena gak pernah diomongin secara jelas, istri malah menganggap kamu cuek dan gak mau bantu menjaga anak. Begitu juga sebaliknya, tak jarang istri menganggap sudah paham kalau suami sudah memahaminya. Padahal, solusi masalah ini simpel, yaitu mengubah ekspektasi implisit itu jadi kesepakatan eksplisit lewat obrolan yang santai. Jangan menuntut pasanganmu buat jadi pembaca pikiran, karena sejatinya dia gak punya kemampuan cenayang, ya.


  3. 3. Gaya penyelesaian konflik yang berbeda

    ilustrasi menyelesaikan konflik dengan pasangan secara baik-baik
    ilustrasi menyelesaikan konflik dengan pasangan secara baik-baik (pexels.com/Keira Burton)

    Setiap orang tumbuh dengan cara merespons stres yang berbeda-beda, termasuk dalam hubungan pernikahan. Ada tipe yang ingin langsung diselesaikan detik itu juga sampai tuntas. Namun,  ada juga tipe yang kalau lagi konflik malah butuh waktu buat menyendiri dan merenung dulu sebelum berbicara. Perbedaan gaya penyelesaian masalah ini sering bikin frustrasi kalau kedua pihak gak saling memahami, lho.

    Gaya menyendiri ini dalam psikologi sering disebut sebagai stonewalling atau flooding saat emosi sudah terlalu penuh. Kalau kamu butuh jeda waktu untuk menenangkan diri, katakan dengan jelas ke pasangan, bukannya mendadak mengabaikannya begitu saja. Bikin kesepakatan sederhana, misal: "Aku butuh waktu 30 menit untuk diri sendiri dulu, habis itu kita obrolin lagi, ya." Dengan cara ini, pasanganmu gak bakal merasa diacuhkan, dan kamu juga punya ruang buat mengontrol emosi sebelum ngomong hal yang bikin menyesal.


  4. 4. Masalah pembagian peran dan beban mental

    ilustrasi mengalami beban mental
    ilustrasi mengalami beban mental (pexels.com/Alex Green)

    Dunia pernikahan modern menuntut fleksibilitas yang jauh lebih tinggi dalam urusan rumah tangga. Pertengkaran sering kali pecah ketika salah satu pihak merasa memikul beban yang gak seimbang, baik secara fisik maupun mental. Masalahnya bukan cuma soal siapa yang menyapu atau mencuci piring, tapi juga beban memikirkan dan merencanakan segala kebutuhan rumah. Ketika rasa lelah fisik dan mental ini menumpuk, toleransi terhadap stres bakal menurun drastis.

    Kamu mungkin merasa sudah membantu membersihkan rumah, tapi istri masih kelihatan cemberut dan serba salah. Bisa jadi, dia capek karena harus mengatur semua jadwal dan mengambil keputusan sendirian tanpa inisiatifmu. Coba ambil inisiatif dalam tugas-tugas rumah tangga tanpa harus menunggu diperintah atau diminta terlebih dahulu. Kamu bisa memulai proaktif dalam hal kecil, seperti menyiapkan sarapan atau membereskan mainan anak, bisa meringankan beban emosional pasanganmu secara signifikan, lho.


  5. 5. Kelelahan fisik dan burnout emosional

    ilustrasi mengalami emosional burnout
    ilustrasi mengalami emosional burnout (pexels.com/kaboompics.com)

    Pekerjaan yang menumpuk di kantor, kemacetan jalanan, hingga urusan finansial sering kali bikin energi kamu terkuras habis sebelum sampai di rumah. Saat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi burnout, kapasitas kamu buat bersikap sabar dan empati bakal merosot tajam. Pada kondisi rentan seperti ini, senggol sedikit saja bisa bikin emosi langsung meledak jadi pertengkaran hebat. 

    Guys, sering kali tanpa sadar, kamu menjadikan pasangan sebagai sasaran empuk meluapkan stres seharian. Kalau kamu merasa lagi burnout atau sangat lelah setelah seharian beraktivitas, jujurlah pada pasangan sejak awal memasuki rumah, ya.. Katakan dengan lembut kalau hari ini terasa sangat berat dan kamu butuh istirahat sejenak untuk mengembalikan energi. Pasangan yang memahami kondisimu pasti akan memberikan ruang, daripada kalian saling memaksakan interaksi yang akhirnya berujung emosi, kok.

    Memahami kenapa suami istri sering bertengkar jadi langkah awal yang sangat baik untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan hangat. Ingat, tujuan utama saat menghadapi konflik itu untuk menyelesaikan masalahnya bersama-sama, bukan memenangkan perdebatan atas pasanganmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles