Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pentingnya Suami Istri Punya Aset Pribadi di Samping Aset Bersama

Pentingnya Suami Istri Punya Aset Pribadi di Samping Aset Bersama
ilustrasi pasangan (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Share Article

Membicarakan pengelolaan keuangan keluarga secara terbuka sangat penting. Hidup ini selalu membutuhkan uang. Masa depan juga tidak ada yang tahu. Tak perlu ada pandangan tabu buatmu mengajak pasangan mendiskusikannya.

Tak berhenti hanya tentang pengaturan keuangan guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, juga membangun aset. Sering kali di Indonesia pasangan suami istri otomatis mencampuradukkan aset mereka.

Segalanya disepakati menjadi milik bersama sekalipun nama yang dipakai cuma salah satu. Seperti aset tanah, rumah, hal-hal terkait usaha, dan sebagainya. Padahal, sebenarnya kalian tetap butuh punya aset sendiri-sendiri di samping aset bersama guna masa depan sekeluarga. Berikut alasannya dan jangan ragu membuat dokumen yang menerangkan mana aset pribadi suami atau istri dan aset bareng.

1. Kalian tetap punya hak atas pendapatan masing-masing

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Alena Darmel)

Rasa lelah dalam berumah tangga tidak melulu karena tugas domestik yang tak ada habisnya serta dibebankan pada satu orang saja. Juga belum tentu capek psikis karena ulah pasangan yang buruk. Masalah yang jarang disadari pasangan yang sudah menikah lama ialah mereka tak lagi punya kesempatan buat menikmati pendapatan sendiri.

Semua uang yang berhasil dikumpulkan sebulan langsung dijadikan uang bersama. Memang uang itu dipakai buat berbagai kebutuhan dan seluruh anggota keluarga merasakan manfaatnya. Akan tetapi, tak ada sepeser pun yang bisa digenggam oleh orang yang telah bekerja keras siang malam untuk membangun asetnya sendiri.

Ini bisa diibaratkan kalian dipaksa senantiasa makan dalam satu piring. Tidak ada piring lain yang memungkinkan kamu dan pasangan memilih serta menikmati menu kesukaan masing-masing. Kalian sudah sama-sama bekerja keras sekali. Sisihkan beberapa persen dari pendapatan kalian buat bekal membangun aset pribadi.

2. Kamu dan dia bisa punya pilihan berbeda dan saling melengkapi

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sepasang suami istri yang paling kompak sekalipun tidak bakal selalu sependapat tentang segala hal. Apalagi berkaitan dengan pemilihan aset guna mengamankan masa depan. Misal, kamu mau punya aset tanah sebanyak mungkin.

Alasanmu, harganya tidak pernah turun dan justru naik terus. Namun, pasanganmu lebih suka aset koleksi mobil. Mana yang lebih baik? Sekilas memang tanah lebih unggul dari segi pertumbuhan nilai.

Akan tetapi, aset tidak bergerak seperti properti butuh waktu lebih lama untuk penjualannya. Makin luas ukurannya makin sulit menemukan pembelinya. Sementara kendaraan meski nilainya turun gampang dicairkan.

Dalam situasi mendesak, aset pilihan pasangan bisa menyelamatkan. Sementara untuk kebutuhan-kebutuhan besar yang bisa diprediksi jauh-jauh waktu aset tanah pilihanmu dapat digunakan. Pilihan aset kalian berbeda, tapi sebetulnya tujuannya sama. Yaitu, mengamankan keluarga di berbagai keadaan.

3. Mencegah dominasi satu pihak yang bikin hubungan gak sehat

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Gustavo Fring)

Seperti disebutkan dalam poin sebelumnya, kamu dan pasangan bisa memiliki pendapat masing-masing terkait aset yang ingin dimiliki. Apabila gak ada ruang buat mengembangkan aset pribadi walaupun pelan-pelan, malah salah satu pihak bakal menyetir keputusan.

Contoh, suami yang penghasilannya lebih besar daripada istri merasa paling berhak menentukan jenis aset yang akan dibeli. Sekali dominasi dalam hubungan terjadi pasti imbasnya ke mana-mana. Terkait hal-hal lain pun ia ingin paling didengar serta dipatuhi.

Akibatnya jelas, kamu menjadi tidak bahagia. Ada perasaan dirimu tak berguna dan gak dianggap oleh pasangan. Awalnya cuma rasa kesal yang dipendam atau kamu ngomel. Lama-lama dirimu dapat memilih lepas tangan atas segala urusan. Pikirmu, pasangan yang dominan harus mempertanggungjawabkan segalanya.

4. Teladan agar anak membangun kemandirian finansial

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Hanya soal waktu untuk anak-anak kalian tumbuh dewasa lalu berumah tangga. Seperti kalian sekarang. Mereka perlu melihat sebanyak mungkin contoh yang baik. Tidak terkecuali dalam hal keuangan.

Kemandirian finansial adalah harga mati bagi orang dewasa. Baik masih lajang atau telah menikah, individu dewasa mesti menjaga betul kemampuannya berdiri di atas kaki sendiri. Memiliki aset pribadi di samping aset bersama pasangan menjadi kebutuhan.

Jangan sampai kelak anak terlalu merasa aman. Gak punya aset baik ketika masih single maupun setelah menikah. Dengan orangtua memisahkan aset bersama sebagai pasangan, aset ayah, dan aset ibu menandakan sangat penting buat memilikinya.

5. Agar masing-masing lebih aman ketika terjadi masalah dan perpisahan

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Ron Lach)

Tentu ini bukan cita-cita siapa pun. Semua pasangan ingin rumah tangganya langgeng. Namun, badai perkawinan kerap datang tak terduga. Ketika rumah tangga karam, harta bersama sering menjadi persoalan pelik.

Kamu dan pasangan tetap memilikinya. Akan tetapi, kalian juga punya aset pribadi yang dengan jelas tercatat apa milik siapa. Pun telah disepakati secara tertulis di antara kalian bahwa ketika perpisahan harus terjadi, aset masing-masing sama sekali gak perlu dibagi dengan pasangan.

Artinya, tidak ada perasaan rugi yang terlalu besar. Bila hanya ada aset bersama, pasti satu pihak yang merasa selama ini berkontribusi paling banyak tak terima. Malah terjadi perebutan gana-gini.

Begitu pula jika salah satu pihak melakukan perbuatan yang merugikan dengan konsekuensi penyitaan aset. Misalnya, korupsi. Jangan sampai kamu gak tahu apa-apa, tapi ada bagian kerja kerasmu yang ikut tersita.

Sebaiknya pembicaraan tentang pisah aset atau harta di samping aset bersama sebagai pasutri sudah dimulai sejak kalian berpacaran. Bila ini baru dikemukakan setelah menikah belum tentu pasangan setuju. Malah bisa menimbulkan pertengkaran. Seakan-akan kamu hendak mementingkan diri sendiri serta kurang memercayainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More