Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Kayla, dari BINUS SCHOOL Simprug ke Panggung Ilmuwan Dunia
Kayla, siswi BINUS SCHOOL Simprug (Dok. BINUS SCHOOL Simprug)
  • Kayla, siswi BINUS SCHOOL Simprug, mempresentasikan riset perban berbahan SCOBY di konferensi internasional India dan menerbitkannya di jurnal ilmiah, sekaligus meraih Global Youth Action Fund Grant senilai USD2.500.
  • BINUS SCHOOL Simprug menerapkan kurikulum International Baccalaureate penuh dari Early Years hingga IBDP, mendorong siswa menulis riset independen dan mengeksplorasi potensi melalui program pembelajaran holistik.
  • Lulusan BINUS SCHOOL Simprug diterima di universitas ternama dunia seperti UCL, University of Melbourne, dan McGill University, bahkan memperoleh beasiswa atas prestasi akademis serta kontribusi sosial mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lima belas tahun lalu, seorang remaja putri menginjakkan kakinya di BINUS SCHOOL Simprug, remaja itu bernama Kayla. Saat itu ia belum tahu tentang olimpiade, apalagi jurnal ilmiah internasional. Namun, tahun lalu Kayla berdiri di depan para akademisi dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan The NorthCap University, India, mempresentasikan risetnya tentang perban berbahan dasar SCOBY, lapisan selulosa dari fermentasi kombucha, sebagai alternatif bahan pembalut luka yang berkelanjutan.

Riset itu bukan sekadar proyek sekolah. Makalahnya, “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”, dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Sciences. Proyek yang sama membawanya meraih Global Youth Action Fund Grant senilai USD2.500, sebuah hibah kompetitif yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak muda dengan gagasan yang benar-benar layak diwujudkan.

“Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini (BINUS SCHOOL Simprug) saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis, seperti Singing Club atau tarian tradisional. Selama 15 tahun dari TK, SD, SMP, hingga SMA, saya didorong untuk berkembang secara holistik,” ungkap Kayla dalam keterangan resminya.

1. Torehan prestasi Kayla

Kayla, siswi BINUS SCHOOL Simprug (Dok. BINUS SCHOOL Simprug)

Kayla bukan hanya seorang peneliti. Di koridor yang sama tempat ia tumbuh selama satu setengah dekade, ia juga pernah menjadi Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, dan Director di Summit of Talented Young Leaders. Di luar sekolah, namanya muncul di papan hasil berbagai kompetisi internasional: medali emas dan perak dari World Scholar’s Cup di tingkat global dan regional, medali dari World Mathematics Invitational, Singapore and Asian Schools Math Olympiad, American Math Olympiad, hingga penghargaan esai dari Oxbright di kategori Biologi. Ia juga tercatat sebagai Top Scorer Indonesia dalam ICAS English, dan meraih Distinction di ICAS Science, masuk dalam sembilan persen teratas peserta se-Indonesia.

Yang menarik dari perjalanan Kayla bukan semata daftarnya yang panjang, melainkan benang merahnya, ia konsisten mendalami apa yang ia minati, dan dari kedalaman itulah berbagai pencapaian tumbuh. Inilah yang coba difasilitasi BINUS SCHOOL Simprug lewat peran guru-gurunya yang secara aktif mendukung siswa-siswinya untuk tumbuh dan berkembang.

"Ekosistem yang dibangun menghasilkan pendekatan yang memberi ruang bagi setiap siswa untuk mengeksplorasi dan membangun identitas akademis maupun non akademik secara personal," Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, Isaac Koh.

2. Setiap anak memiliki potensi luar biasa

Kayla, siswi BINUS SCHOOL Simprug (Dok. BINUS SCHOOL Simprug)

Angkatan 2026 BINUS SCHOOL Simprug mencatat bahwa 90 persen lulusannya diterima di perguruan tinggi luar negeri, tersebar ke universitas-universitas di Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Belanda, Singapura, dan berbagai negara lainnya.

Angka itu tidak berdiri sendiri. BINUS SCHOOL Simprug menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh, dari Early Years hingga IB Diploma Programme (IBDP) di jenjang akhir. IBDP diakui oleh lebih dari 2.000 universitas di seluruh dunia, dan dikenal bukan hanya karena standar akademisnya, tetapi karena ia menuntut siswa menulis riset independen, berpikir lintas disiplin, dan memahami etika keilmuan. Bagi banyak universitas luar negeri, lulusan IBDP datang dengan modal yang berbeda.

“Di BINUS SCHOOL Simprug, kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu dipupuk dengan lingkungan belajar yang tepat. Dengan kurikulum IB yang kami jalankan secara konsisten dari Early Years hingga IBDP, ditambah Journeys Programme yang memungkinkan siswa mengeksplorasi passion mereka secara mendalam, kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana,” ungkap Isaac Koh.

3. Diapresiasi secara menyeluruh oleh institusi pendidikan internasional

Kayla, siswi BINUS SCHOOL Simprug (Dok. BINUS SCHOOL Simprug)

Beberapa universitas terbaik di luar negeri yang berhasil ditembus siswa BINUS SCHOOL Simprug di antaranya Adalah University of College London (UCL), The University of Hong Kong, University of Melbourne, UNSW Sydney, King's College London, University of Toronto, McGill University, University of Sydney, dan University of Warwick.

BINUS SCHOOL Simprug juga mencatat bahwa sejumlah lulusan berhasil memperoleh beasiswa dari universitas tujuan mereka, baik berbasis prestasi akademis, kepemimpinan, maupun kontribusi sosial.

"Hal ini membuktikan bahwa kualitas lulusan BINUS SCHOOL Simprug tidak hanya diakui secara akademis, tetapi diapresiasi secara menyeluruh oleh institusi pendidikan internasional," kata Isacc.

Editorial Team

Related Article