Jakarta, IDN Times - Lima belas tahun lalu, seorang remaja putri menginjakkan kakinya di BINUS SCHOOL Simprug, remaja itu bernama Kayla. Saat itu ia belum tahu tentang olimpiade, apalagi jurnal ilmiah internasional. Namun, tahun lalu Kayla berdiri di depan para akademisi dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan The NorthCap University, India, mempresentasikan risetnya tentang perban berbahan dasar SCOBY, lapisan selulosa dari fermentasi kombucha, sebagai alternatif bahan pembalut luka yang berkelanjutan.
Riset itu bukan sekadar proyek sekolah. Makalahnya, “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”, dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Sciences. Proyek yang sama membawanya meraih Global Youth Action Fund Grant senilai USD2.500, sebuah hibah kompetitif yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak muda dengan gagasan yang benar-benar layak diwujudkan.
“Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini (BINUS SCHOOL Simprug) saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis, seperti Singing Club atau tarian tradisional. Selama 15 tahun dari TK, SD, SMP, hingga SMA, saya didorong untuk berkembang secara holistik,” ungkap Kayla dalam keterangan resminya.
