Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Dampak Fisik dari Kebiasaan Binge Watching, Jangan Terlalu Sering!
ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/freepik)
  • Kebiasaan binge watching yang dilakukan terlalu lama dapat mengganggu pola tidur, menurunkan kualitas istirahat, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas serta diabetes.
  • Duduk berjam-jam saat menonton menyebabkan ketegangan otot, nyeri sendi, hingga gangguan postur tubuh akibat posisi yang tidak ergonomis dan minimnya aktivitas fisik.
  • Menatap layar tanpa jeda memicu ketegangan mata, sementara kurangnya gerak membuat kebugaran dan daya tahan tubuh menurun sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kebiasaan binge watching atau menonton serial dan film secara maraton dalam waktu lama menjadi salah satu fenomena populer di era digital. Kemudahan akses ke berbagai platform streaming membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, menikmati berbagai tayangan tanpa jeda. Aktivitas ini memang memberikan hiburan dan cara melepas penat yang instan, tetapi di sisi lain juga menyimpan risiko terhadap kesehatan fisik jika dilakukan terlalu sering.

Menonton secara berlebihan tidak hanya memengaruhi kesehatan mata atau postur tubuh, tetapi juga dapat berdampak pada sistem metabolisme dan pola tidur. Waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk tidur sering kali terpotong akibat keinginan untuk menonton satu episode lagi. Dampak tersebut bisa terasa ringan pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu, tubuh mulai memberikan tanda-tanda kelelahan dan gangguan fisik yang tidak bisa diabaikan.

Supaya kamu bisa mengendalikan kebiasaan ini, yuk simak kelima dampak fisik dari kebiasaan binge watching di bawah ini. Cek, yuk!

1. Gangguan pada pola tidur

ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/freepik)

Salah satu dampak paling umum dari kebiasaan binge watching adalah terganggunya pola tidur. Ketika seseorang menonton hingga larut malam, jam biologis tubuh akan mengalami ketidakseimbangan. Paparan cahaya biru dari layar televisi, laptop, atau gawai dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit untuk merasa mengantuk meskipun waktu sudah larut, dan kualitas tidur pun menurun drastis.

Dalam jangka panjang, gangguan pola tidur yang disebabkan oleh binge watching dapat menimbulkan efek kumulatif terhadap kesehatan tubuh. Ketika jam tidur terus berkurang, sistem kekebalan tubuh ikut melemah. Selain itu, tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Kurangnya istirahat juga dapat memengaruhi fungsi otak, terutama pada bagian yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan pengendalian emosi.

2. Ketegangan otot dan nyeri sendi

ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/freepik)

Menonton dalam posisi duduk yang sama selama berjam-jam dapat menimbulkan ketegangan pada otot dan nyeri pada sendi. Posisi duduk yang tidak ergonomis membuat otot punggung, leher, dan bahu bekerja secara berlebihan tanpa disadari. Dalam waktu lama, kebiasaan ini dapat menimbulkan gangguan seperti nyeri punggung bawah (low back pain), kaku pada bahu, dan bahkan kelainan pada tulang belakang jika dilakukan terus-menerus.

Efek dari kurangnya gerakan tidak hanya dirasakan pada otot, tetapi juga pada persendian yang berisiko mengalami peradangan ringan. Tubuh membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga kelenturan dan kekuatan jaringan otot serta sendi. Duduk terlalu lama membuat sendi menjadi kaku dan mudah terasa nyeri saat bergerak. Kondisi ini bisa semakin parah jika kebiasaan binge watching dilakukan sambil bersandar pada posisi yang tidak tepat atau di permukaan yang tidak menopang tubuh dengan baik.

3. Peningkatan risiko obesitas

ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/freepik)

Kebiasaan binge watching sering kali disertai dengan aktivitas makan berlebihan, terutama makanan ringan tinggi kalori seperti keripik, cokelat, dan minuman bersoda. Saat fokus menonton, tubuh kehilangan kesadaran terhadap rasa kenyang sehingga asupan kalori meningkat tanpa kontrol. Ditambah dengan minimnya aktivitas fisik, kalori yang masuk tidak digunakan secara optimal dan akhirnya disimpan sebagai lemak.

Selain itu, duduk terlalu lama juga menghambat proses metabolisme tubuh. Ketika otot jarang bergerak, kemampuan tubuh untuk memecah lemak menurun, sementara kadar gula dalam darah dapat meningkat. Hal ini berpotensi menimbulkan resistensi insulin yang menjadi pemicu awal penyakit diabetes tipe 2. Dalam beberapa kasus, orang yang terbiasa binge watching dalam waktu lama juga mengalami penurunan massa otot karena kurangnya aktivitas fisik.

4. Gangguan pada kesehatan mata

ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/DC Studio)

Menatap layar dalam waktu lama tanpa istirahat dapat menyebabkan ketegangan pada mata. Kondisi ini dikenal dengan istilah digital eye strain atau sindrom penglihatan komputer. Gejala yang umum muncul meliputi mata kering, penglihatan kabur, dan rasa nyeri di sekitar area mata. Saat menonton secara maraton, seseorang cenderung berkedip lebih jarang dibandingkan saat melakukan aktivitas lain, yang mengakibatkan permukaan mata menjadi kering.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan penglihatan dan menimbulkan gangguan seperti miopi atau rabun jauh. Meskipun efeknya mungkin terasa ringan pada awalnya, akumulasi paparan layar dapat mempercepat proses penurunan kualitas penglihatan. Selain itu, ketegangan mata juga sering kali diikuti dengan sakit kepala akibat kontraksi otot di sekitar pelipis.

5. Penurunan kebugaran fisik dan daya tahan tubuh

ilustrasi pria melakukan binge watching (freepik.com/freepik)

Tubuh manusia dirancang untuk bergerak, bukan duduk dalam waktu lama. Ketika kebiasaan binge watching dilakukan terlalu sering, tubuh kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik yang penting bagi kebugaran. Kurangnya gerak menyebabkan otot melemah, jantung menjadi kurang efisien memompa darah, dan kapasitas paru-paru menurun. Kondisi ini dapat mengakibatkan penurunan stamina, yang membuat tubuh lebih cepat lelah bahkan dalam aktivitas ringan.

Efek jangka panjang dari kurangnya aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada kebugaran, tetapi juga pada sistem kekebalan tubuh. Ketika tubuh jarang bergerak, sirkulasi darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh menjadi tidak maksimal. Hal ini membuat sistem imun bekerja kurang efisien dalam melawan infeksi. Orang yang sering melakukan binge watching dalam jangka panjang lebih berisiko mengalami penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga gangguan pernapasan.

Kebiasaan binge watching memang memberikan rasa puas dan hiburan instan, tetapi tubuh tetap memiliki batas dalam menerima tekanan fisik akibat kurangnya gerak dan istirahat. Kesadaran untuk membatasi waktu menonton menjadi langkah awal yang penting untuk menjaga keseimbangan antara hiburan dan kesehatan tubuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article