Digelar pada Kamis (24/9), Biru Baru menjalani persidangan di hadapan dua jaksa penuntut umum, Budi Dalton dan Pidi Baiq. Goldan dan Tata didampingi tim pembela yang diperkuat Rully Cikapundung dan Yoga PHB. Jalannya persidangan dipimpin Denny Chandra sebagai hakim ketua, sementara Eddi Brokoli bertugas sebagai panitera. Persidangan turut disaksikan langsung para Coklat Friends yang hadir di Yess Coffee & Eatery, Jl. Gatot Subroto No. 112, Bandung.
DCDC Pengadilan Musik Edisi 66: Saat Karya Biru Baru Dikulik Habis

- DCDC Pengadilan Musik edisi ke-66 menghadirkan duo Biru Baru sebagai terdakwa, membahas perjalanan kreatif Goldan Tambayong dan Tata sejak membangun proyek bersama pada 2018.
- Biru Baru lahir dari kebiasaan jamming dan membuat cover; namanya berawal dari New Blue, dengan makna bahwa kesedihan membantu manusia menghargai kebahagiaan serta menjadi lebih tangguh.
- Musik Biru Baru berkembang dari ethnic art pop menuju alternative rock, menghasilkan tiga album dan empat single; album BIRU BARU berisi 17 lagu serta masuk nominasi AMI Awards 2026.
DCDC Pengadilan Musik memasuki edisi ke-66 dengan menghadirkan Biru Baru, duo yang digawangi Goldan Tambayong dan Talitha Belinda Esmeralda alias Tata. FYI, DCDC Pengadilan Musik merupakan program yang mengemas apresiasi musik dalam suasana persidangan.
Nah, kali ini 'Biru baru yang hadir sebagai 'terdakwa' untuk dimintai pertanggungjawaban” atas perjalanan bermusik mereka, mulai dari awal terbentuk, pencarian warna musik, hingga karya-karya yang mereka hasilkan.
Table of Content
1. Memiliki proses kreatif yang cukup panjang dalam menemukan karakter musik

DCDC Pengadilan Musik Edisi Biru Baru (Dok. DCDC) Agus Danny Hartono, selaku perwakilan DCDC mengatakan, Biru Baru menarik untuk dihadirkan karena memiliki proses kreatif yang cukup panjang dalam menemukan karakter musiknya. Goldan dan Tata, menurutnya, tidak hanya mengembangkan warna musik yang khas, tetapi juga banyak memasukkan pengalaman personal ke dalam karya-karya mereka.
“Biru Baru termasuk salah satu musisi di tanah air yang menarik perhatian karena perjalanan mereka menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa tumbuh dari proses eksplorasi yang panjang. Goldan dan Tata tidak berhenti pada satu warna musik, tetapi terus mencari bentuk yang paling sesuai dengan cerita yang ingin mereka sampaikan. Dari proses tersebut kemudian lahir karya-karya yang semakin personal dan dekat dengan pendengarnya,” kata Danny.
Biru Baru mulai membangun proyek musik bersama pada 2018. Goldan dan Tata sebenarnya sudah saling mengenal sejak masa sekolah dan sama-sama memiliki ketertarikan pada musik. Keduanya kemudian sering menghabiskan waktu dengan jamming, termasuk mengaransemen ulang lagu musisi lain. Dari kebiasaan tersebut, chemistry sebagai duo perlahan terbentuk.
“Kami berteman dekat dan saya suka nyamper ke rumahnya Goldan. Rumahnya Goldan itu ada studio. Kami suka bikin cover berdua pakai gitar akustik. Terus dari situ chemistry kami semakin terbangun,” ujar Tata.
2. Arti nama Biru Baru

DCDC Pengadilan Musik Edisi Biru Baru (Dok. DCDC) Salah satu pembahasan yang menarik dalam persidangan adalah lahirnya nama Biru Baru. Tata bercerita saat pertama kali tampil di sekolah Goldan, saat itu keduanya belum memiliki nama untuk proyek musik mereka. Seusai penampilan, pertanyaan mengenai nama band justru membuat mereka mulai memikirkan identitas yang akan digunakan.
“Awal tampil di sekolah Goldan. Dia alumni dan diminta tampil. Selesai acara itu, host-nya bertanya nama band-nya apa, tapi kami belum ada nama. Di jalan pulang kami mikir dan tercetus New Blue, lalu kami pilih dalam bahasa Indonesia jadinya Biru Baru,” jelas Tata.
Pembahasan mengenai nama tersebut kemudian berlanjut ketika Budi Dalton mengulik lebih jauh alasan di balik pemilihan kata “Biru”. Sebagai jaksa penuntut, Budi mempertanyakan warna biru yang selama ini kerap dikaitkan dengan kesan sendu dan kesedihan.
“Kenapa memilih warna Biru? Warna Biru kan dekat dengan makna-makna yang sendu dan kesedihan,” ujar Budi.
Goldan pun menjelaskan bahwa Biru Baru tidak ingin mengartikan nama tersebut sebagai “kesedihan baru”. Bagi mereka, kesedihan justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman manusia dalam memahami kebahagiaan.
“Biru Baru bukan mau menggarisbawahi atau diartikan sebagai kesedihan baru. Justru, manusia belajar menghargai rasa senang dengan merasakan kesedihan. Bahkan di dalam lagu ‘Kita Bahagia’, juga ada unsur kesedihannya. Kami mau bilang bahwa rasa sedih atau sakit itu bisa membuat orang lebih peduli, sekaligus mengajari manusia lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan,” jelas Golda.
Tak berhenti pada nama, dalam persidangan yang penuh canda tawa itu, Jaksa Penuntut Umum juga membedah sejumlah karya Biru Baru, di antaranya “Kalah Lagi” dan “Senin di Stasiun”. Pembahasannya turut menyinggung cerita di balik lagu, lirik, hingga cara Goldan dan Tata menerjemahkan pengalaman mereka ke dalam musik.
3. Dari warna musik hingga album penuh

DCDC Pengadilan Musik Edisi Biru Baru (Dok. DCDC) Dari awal terbentuk hingga sekarang, warna musik Biru Baru pun mengalami perubahan. Pada awal kemunculannya, mereka dikenal dengan musik ethnic art pop yang banyak memasukkan unsur gamelan dan instrumen tradisional lainnya. Seiring waktu, eksplorasi musik mereka membawa Biru Baru ke jalur alternative rock. Perubahan tersebut ikut terekam dalam karya-karya yang telah mereka rilis. Hingga kini, Biru Baru telah memiliki tiga album studio dan empat single non-album.
Memasuki 2026, Biru Baru menghadirkan album penuh bertajuk BIRU BARU. Album ini menjadi salah satu pencapaian yang cukup personal bagi Goldan dan Tata karena sejak awal mereka memang memiliki keinginan untuk membuat album yang menggunakan nama sendiri.
Berisi 17 lagu yang terbagi dalam dua bagian, BIRU BARU banyak bercerita tentang hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Rasa gagal, kelelahan emosional, penyesalan, hingga usaha untuk kembali memahami diri menjadi bagian dari cerita yang mereka bawa melalui album tersebut. Album BIRU BARU juga masuk nominasi AMI Awards 2026 untuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik.
Eksplorasi musik Biru Baru juga terlihat dari sejumlah kolaborasi yang pernah mereka lakukan. Salah satunya melalui lagu “Semua Telah Terjadi” bersama Iga Massardi. Kolaborasi ini berangkat dari keinginan Goldan dan Tata untuk mencoba warna rock yang sebelumnya belum banyak mereka eksplorasi. Kehadiran Iga kemudian turut memperkuat karakter gitar dalam lagu tersebut.
Setelah melewati berbagai pertanyaan dan “tuntutan” dari Jaksa Penuntut Umum, Biru Baru akhirnya dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan. Dalam persidangan, karya-karya mereka dinilai memiliki karakter dan daya tarik tersendiri. Keberanian Biru Baru dalam mencoba berbagai warna musik juga menjadi salah satu hal yang turut dibahas sepanjang persidangan.
“Dengan demikian Pengadilan Musik yang memeriksa dan mengadili dengan nomor perkara 1.66/DCDC/2026 dengan terdakwa Biru Baru bebas dari dakwaan. Sidang saya nyatakan selesai dan ditutup,” ucap Denny Chandra.
4. Diitutup dengan penampilan live

DCDC Pengadilan Musik Edisi Biru Baru (Dok. DCDC) Persidangan kemudian ditutup dengan penampilan live Goldan dan Tata bersama para pemain musik yang mengiringi mereka. Di atas panggung, keduanya membawakan sejumlah lagu sekaligus memperlihatkan warna musik Biru Baru secara langsung kepada para penonton. Sebelum meninggalkan ruang sidang, Goldan dan Tata juga mengajak para penonton untuk menyaksikan showcase Biru Baru yang rencananya digelar di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta tahun ini.
DCDC Pengadilan Musik merupakan program yang mengkaji sekaligus mengapresiasi perjalanan dan karya para pelaku musik Indonesia. Dikemas dalam konsep persidangan, program ini mempertemukan musisi dengan jaksa, pembela, hakim, dan perangkat persidangan dalam sebuah format yang menggabungkan pembahasan musik dengan hiburan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



