5 Kebiasaan Pria yang Bikin Pasangan Merasa Tidak Dihargai

- Bermain ponsel saat bersama dan memotong pembicaraan dapat membuat pasangan merasa diabaikan serta pendapatnya tidak dianggap penting.
- Kurangnya apresiasi atas waktu, perhatian, atau pemberian pasangan bisa membuat usaha yang dilakukan terasa tidak dihargai.
- Membandingkan pasangan dengan orang lain dan mengabaikan janji, termasuk pembatalan sepihak, dapat melukai perasaan serta membuat waktunya terasa tidak penting.
Menjalani hubungan dengan seseorang berarti belajar memahami kebiasaan dan cara berpikir yang mungkin berbeda. Hal yang terasa biasa bagi seorang pria belum tentu dianggap sama oleh pasangannya. Apalagi, setiap orang punya cara sendiri dalam menilai perhatian dan perlakuan dari orang yang disayanginya.
Perbedaan tersebut terkadang baru terasa setelah hubungan berjalan cukup lama. Ada sikap yang awalnya tidak dipermasalahkan, tetapi lama-kelamaan bisa mengganggu jika terus berulang. Lalu, kebiasaan apa saja yang bisa membuat pasangan merasa tidak dihargai? Berikut lima hal yang perlu diperhatikan.
Table of Content
1. Sibuk bermain ponsel saat sedang bersama

Ilustrasi pria bermain ponsel (pexels.com/kaboompics) Ketika sedang menghabiskan waktu bersama pasangan, perhatian bisa teralihkan karena notifikasi pesan, media sosial, atau permainan di ponsel. Sesekali memeriksa ponsel tentu bukan masalah. Namun, kalau terus dilakukan saat makan bersama atau ketika pasangan sedang mengajak bicara, dia bisa merasa diabaikan meskipun kalian sedang duduk bersebelahan.
Coba perhatikan kapan kamu biasanya membuka ponsel. Kalau pasangan sedang bercerita atau kalian sedang makan bersama, simpan ponsel sebentar dan dengarkan apa yang dia sampaikan. Kamu juga bisa memberi tahu jika memang ada pesan pekerjaan yang harus segera dibalas agar pasangan tidak mengira kamu sengaja mengabaikan percakapannya.
2. Memotong pembicaraan pasangan

Ilustrasi pasangan berbicara (pexels.com/RDNE Stock project) Saat pasangan sedang bercerita, terkadang ada keinginan untuk segera menanggapi atau memberikan solusi. Namun, kebiasaan memotong pembicaraan sebelum dia selesai bisa membuat pasangan merasa pendapatnya tidak dianggap penting. Apalagi kalau kamu langsung menyanggah ceritanya atau mengalihkan pembicaraan ke pengalamanmu sendiri.
Ketika pasangan sedang menyampaikan sesuatu, beri kesempatan sampai dia selesai berbicara. Kalau ada bagian yang kurang kamu pahami, tanyakan setelah dia menyelesaikan ceritanya. Kamu juga bisa menanggapi isi pembicaraan tanpa langsung menyalahkan atau membandingkannya dengan pengalaman orang lain.
3. Jarang mengapresiasi usaha pasangan

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Nicole Michalou) Ketika pasangan meluangkan waktu untuk bertemu, mengingat hal yang kamu sukai, atau memberikan sesuatu yang sudah lama kamu inginkan, ada usaha yang patut diapresiasi. Sayangnya, hal-hal seperti ini terkadang dianggap biasa, terutama ketika pasangan sudah sering melakukannya. Padahal, dia juga ingin tahu bahwa perhatian yang diberikan disambut dengan baik.
Kamu bisa menunjukkan apresiasi lewat ucapan terima kasih atau tanggapan yang tulus. Misalnya, ketika pasangan sudah mengatur waktu agar kalian bisa bertemu di tengah kesibukannya, sampaikan bahwa kamu menghargai usahanya. Kalau dia memberikan hadiah, kamu juga tidak harus membalas dengan sesuatu yang mahal untuk menunjukkan bahwa pemberiannya berarti.
4. Membandingkan pasangan dengan orang lain

Ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Alena Darmel) Membandingkan pasangan dengan orang lain, baik teman, mantan, maupun orang yang kamu temui di media sosial, bisa membuatnya merasa selalu kurang di matamu. Komentar seperti memuji penampilan perempuan lain sambil menyindir pasangan atau membandingkan cara dia menghadapi masalah dengan orang lain bisa terasa menyakitkan, terutama jika disampaikan berulang kali.
Kalau ada hal yang ingin kamu sampaikan kepada pasangan, bicarakan secara langsung tanpa membawa-bawa orang lain. Misalnya, jika kamu merasa ada masalah dalam komunikasi, jelaskan bagian yang mengganggumu dan ajak dia membicarakannya. Hindari menjadikan kebiasaan atau kemampuan orang lain sebagai ukuran yang harus dipenuhi pasangan.
5. Mengabaikan janji kepada pasangan

Ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Vera Arsic) Janji untuk menelepon, bertemu pada akhir pekan, atau menemani pasangan menghadiri acara tertentu mungkin terdengar sederhana. Namun, pasangan bisa saja sudah meluangkan waktu untuk rencana tersebut. Kalau kamu sering membatalkan janji secara sepihak atau baru memberi kabar ketika ditanya, dia bisa merasa waktunya tidak dianggap penting.
Kalau memang ada urusan mendadak, beri tahu pasangan dan jelaskan alasannya. Jangan menunggu sampai dia sudah bersiap untuk kegiatan yang akhirnya batal. Jika rencana bertemu harus diubah, ajak menentukan waktu pengganti. Hal yang sama berlaku untuk janji menelepon atau membicarakan sesuatu yang penting bagi pasangan.
Kadang, hal yang bikin pasangan kecewa justru kebiasaan yang terus berulang. Kalau ada sikap yang mulai sering dipermasalahkan, coba dengarkan alasan di balik keluhannya. Siapa tahu, selama ini kalian hanya punya cara pandang yang berbeda tentang hal yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik.





