Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Pria Bisa Mendengkur Lebih Keras saat Tidur?

4 min read
Kenapa Pria Bisa Mendengkur Lebih Keras saat Tidur?
ilustrasi pria tidur (pexels.com/Andrii Lysenko)
  • Pria dapat mendengkur lebih keras karena anatomi saluran napas, termasuk bentuk rahang, lidah, hidung, dan jaringan tenggorokan yang menyempit saat otot rileks.
  • Posisi terlentang, kelebihan berat badan, alkohol sebelum tidur, serta kurang tidur dapat mempersempit jalur udara dan memperkuat dengkuran.
  • Dengkuran keras hampir setiap malam disertai jeda napas, tercekik, megap-megap, atau kantuk berlebihan dapat mengarah pada sleep apnea dan perlu diperiksa tenaga kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengkur merupakan suara yang muncul ketika aliran udara saat tidur melewati saluran pernapasan yang menyempit. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, tetapi pada pria, dengkuran sering kali terdengar lebih keras atau lebih sering terjadi. Hal tersebut dapat berkaitan dengan anatomi saluran pernapasan, pola tidur, berat badan, hingga kebiasaan sehari-hari.

Mendengkur sesekali biasanya bukan sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan. Namun, dengkuran yang sangat keras dan terjadi hampir setiap malam, terutama jika disertai napas terhenti atau terengah saat tidur, dapat menjadi tanda gangguan tidur tertentu. Lantas, apa yang membuat pria bisa mendengkur lebih keras ketika tidur?

  1. 1. Struktur saluran napas pria berpengaruh

    ilustrasi bangun tidur
    ilustrasi bangun tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Perbedaan anatomi saluran pernapasan antara pria dan wanita dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebiasaan mendengkur. Saat tidur, otot-otot di sekitar tenggorokan mengalami relaksasi sehingga ruang untuk aliran udara dapat menjadi lebih sempit. Udara yang melewati jaringan tersebut kemudian dapat menyebabkan getaran dan menghasilkan suara dengkuran.

    Karakteristik anatomi setiap orang tentu berbeda sehingga tidak semua pria akan mendengkur. Bentuk rahang, ukuran lidah, struktur hidung, dan jaringan di sekitar tenggorokan juga dapat memengaruhi seberapa mudah saluran napas menyempit. Karena itu, volume dengkuran seseorang tidak hanya ditentukan oleh jenis kelamin.

  2. 2. Posisi tidur bisa membuat dengkuran lebih keras

    ilustrasi bangun tidur
    ilustrasi bangun tidur (pexels.com/Sammie Sander)

    Posisi tidur terlentang dapat membuat lidah dan jaringan lunak di sekitar tenggorokan bergerak ke arah belakang. Kondisi tersebut dapat mempersempit jalur udara dan membuat getaran jaringan semakin mudah terjadi. Akibatnya, suara mendengkur bisa terdengar lebih keras dibandingkan ketika tidur dalam posisi tertentu lainnya.

    Beberapa orang mungkin mendapati dengkurannya berkurang ketika tidur menyamping. Perubahan posisi tersebut dapat membantu menjaga saluran pernapasan tetap lebih terbuka pada sebagian orang. Meski begitu, perubahan posisi tidur bukan solusi untuk semua penyebab mendengkur, terutama jika terdapat gangguan pernapasan saat tidur.

  3. 3. Berat badan juga dapat memengaruhi dengkuran

    ilustrasi pria tidur
    ilustrasi pria tidur (pexels.com/SHVETS production)

    Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko mendengkur karena adanya jaringan tambahan di sekitar leher yang dapat memengaruhi ruang saluran pernapasan. Ketika seseorang tidur dan otot-otot tubuh semakin rileks, jalur udara dapat menjadi lebih mudah menyempit. Kondisi tersebut dapat membuat getaran jaringan semakin kuat.

    Bukan berarti semua pria yang bertubuh besar pasti mendengkur. Orang dengan berat badan normal juga bisa mengalami dengkuran akibat faktor anatomi, hidung tersumbat, posisi tidur, atau penyebab lainnya. Namun, menjaga berat badan tetap sehat dapat menjadi salah satu bagian dari upaya mengurangi risiko gangguan pernapasan saat tidur.

  4. 4. Alkohol dan kurang tidur bisa memperburuk dengkuran

    ilustrasi pria di restoran
    ilustrasi pria di restoran (pexels.com/cottonbro studio)

    Konsumsi alkohol sebelum tidur dapat membuat otot di sekitar saluran pernapasan menjadi lebih rileks. Relaksasi tersebut dapat menyebabkan jalur udara semakin menyempit sehingga dengkuran menjadi lebih mudah muncul atau terdengar lebih keras. Efek serupa juga dapat terasa ketika seseorang tidur dalam kondisi sangat lelah.

    Kurang tidur dapat membuat seseorang mengalami perubahan pola dan kualitas tidur yang kemudian memengaruhi dengkuran. Karena itu, kebiasaan tidur yang cukup dan teratur dapat membantu menjaga kualitas tidur secara keseluruhan. Menghindari alkohol menjelang waktu tidur juga dapat menjadi langkah sederhana bagi orang yang sering mendengkur.

  5. 5. Dengkuran keras bisa menjadi tanda sleep apnea

    ilustrasi pria tidur
    ilustrasi tidur yang cukup (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Dengkuran yang sangat keras tidak selalu sekadar suara tidur biasa. Jika dengkuran disertai jeda napas, suara tercekik atau megap-megap saat tidur, sering terbangun, serta rasa mengantuk berlebihan pada siang hari, kondisi tersebut dapat mengarah pada sleep apnea. Gangguan ini menyebabkan pernapasan berhenti dan dimulai kembali berulang kali selama tidur.

    Jika gejala tersebut terjadi secara rutin, sebaiknya jangan hanya menganggapnya sebagai kebiasaan mendengkur. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah terdapat gangguan tidur yang perlu ditangani. Penanganan yang tepat penting karena gangguan pernapasan saat tidur dapat memengaruhi kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.

    Pria bisa mendengkur lebih keras karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari struktur saluran pernapasan, posisi tidur, berat badan, hingga kebiasaan sebelum tidur. Dengkuran yang muncul sesekali biasanya berbeda dengan dengkuran keras yang terjadi hampir setiap malam dan disertai gangguan pernapasan. Karena itu, pola dan gejala yang menyertai dengkuran juga perlu diperhatikan.

    Jika dengkuran mulai mengganggu pasangan tidur atau disertai gejala seperti napas terhenti dan kantuk berlebihan pada siang hari, jangan mengabaikannya. Memperbaiki posisi tidur, menjaga berat badan, mendapatkan tidur yang cukup, serta menghindari alkohol sebelum tidur dapat membantu pada sebagian orang. Namun, jika keluhan menetap atau mengarah pada sleep apnea, konsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel