ilustrasi tidur yang cukup (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Dengkuran yang sangat keras tidak selalu sekadar suara tidur biasa. Jika dengkuran disertai jeda napas, suara tercekik atau megap-megap saat tidur, sering terbangun, serta rasa mengantuk berlebihan pada siang hari, kondisi tersebut dapat mengarah pada sleep apnea. Gangguan ini menyebabkan pernapasan berhenti dan dimulai kembali berulang kali selama tidur.
Jika gejala tersebut terjadi secara rutin, sebaiknya jangan hanya menganggapnya sebagai kebiasaan mendengkur. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah terdapat gangguan tidur yang perlu ditangani. Penanganan yang tepat penting karena gangguan pernapasan saat tidur dapat memengaruhi kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.
Pria bisa mendengkur lebih keras karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari struktur saluran pernapasan, posisi tidur, berat badan, hingga kebiasaan sebelum tidur. Dengkuran yang muncul sesekali biasanya berbeda dengan dengkuran keras yang terjadi hampir setiap malam dan disertai gangguan pernapasan. Karena itu, pola dan gejala yang menyertai dengkuran juga perlu diperhatikan.
Jika dengkuran mulai mengganggu pasangan tidur atau disertai gejala seperti napas terhenti dan kantuk berlebihan pada siang hari, jangan mengabaikannya. Memperbaiki posisi tidur, menjaga berat badan, mendapatkan tidur yang cukup, serta menghindari alkohol sebelum tidur dapat membantu pada sebagian orang. Namun, jika keluhan menetap atau mengarah pada sleep apnea, konsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat.