Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pria Sering Makan Lebih Banyak saat Sedang Stres?
ilustrasi pria makan (pexels.com/Michael Burrows)
  • Stres dapat meningkatkan kortisol dan keinginan makan, terutama makanan tinggi kalori, gula, atau lemak, meski respons nafsu makan setiap orang berbeda.
  • Makanan favorit bisa memberi kenyamanan sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber tekanan dan berpotensi membentuk kebiasaan menjadikan makanan sebagai pelarian.
  • Kurang tidur serta rutinitas makan yang berantakan saat stres dapat meningkatkan lapar dan ngemil; olahraga, tidur cukup, hobi, atau konsultasi tenaga kesehatan dapat membantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Stres tidak selalu membuat seseorang kehilangan nafsu makan. Pada sebagian pria, tekanan dari pekerjaan, masalah pribadi, atau rutinitas yang padat justru bisa membuat keinginan untuk makan meningkat. Makanan kemudian menjadi salah satu cara yang terasa sederhana untuk mendapatkan rasa nyaman ketika pikiran sedang penuh.

Kebiasaan tersebut bukan sekadar soal kurangnya kontrol diri. Stres dapat memengaruhi hormon, pola tidur, emosi, dan cara seseorang merespons makanan. Jika terjadi berulang kali, kebiasaan makan saat stres juga bisa memengaruhi berat badan dan kesehatan secara keseluruhan.

1. Stres dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan

ilustrasi pria menghadapi tekanan hidup (pexels.com/Nathan Cowley)

Ketika mengalami stres, tubuh merespons dengan meningkatkan berbagai hormon, termasuk kortisol. Pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya keinginan untuk makan, terutama makanan yang tinggi kalori, gula, atau lemak.

Respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang justru kehilangan nafsu makan, sementara yang lain merasa lebih sering lapar atau terus ingin mengunyah sesuatu meski sebenarnya tidak terlalu membutuhkan makanan.

2. Makanan bisa memberikan rasa nyaman sementara

ilustrasi pria makan (pexels.com/Şemsi Belli)

Makanan tertentu dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan sehingga seseorang merasa lebih nyaman untuk sementara. Rasa manis, gurih, atau makanan favorit bisa menjadi distraksi ketika pikiran sedang menghadapi tekanan.

Masalahnya, rasa nyaman tersebut biasanya tidak menyelesaikan sumber stres. Jika makan terus dijadikan cara utama untuk menghadapi tekanan, seseorang dapat membentuk pola kebiasaan yang membuat makanan selalu menjadi pelarian ketika sedang mengalami masalah.

3. Kurang tidur bisa membuat rasa lapar meningkat

ilustrasi makan ketupat (pexels.com/ferlistockphoto)

Stres sering berjalan bersama pola tidur yang buruk. Ketika seseorang tidur terlalu sedikit atau kualitas tidurnya terganggu, sistem yang mengatur rasa lapar dan kenyang dapat ikut terpengaruh.

Akibatnya, seseorang bisa merasa lebih mudah lapar atau lebih sulit mengendalikan keinginan untuk makan. Kondisi tersebut juga dapat membuat pilihan makanan menjadi kurang sehat karena tubuh mencari sumber energi yang terasa cepat dan praktis.

4. Rutinitas makan bisa berubah ketika pikiran sedang penuh

ilustrasi pria makan malam (pexels.com/Sóc Năng Động)

Saat stres, jadwal harian seseorang dapat menjadi tidak teratur. Ada yang melewatkan waktu makan lalu makan dalam jumlah banyak, sementara yang lain lebih sering ngemil ketika bekerja atau memikirkan sesuatu.

Makan sambil bekerja atau menatap layar juga dapat membuat seseorang kurang memperhatikan jumlah makanan yang sudah dikonsumsi. Tanpa disadari, camilan kecil yang dimakan berkali-kali dapat menambah asupan harian secara signifikan.

5. Stres perlu dikelola tanpa selalu mengandalkan makanan

ilustrasi laki-laki terkena tekanan sosial (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Makan ketika stres sesekali bukan sesuatu yang perlu langsung dianggap sebagai masalah. Namun, jika nafsu makan terus meningkat, berat badan berubah drastis, atau kebiasaan makan mulai sulit dikendalikan, kondisi tersebut sebaiknya diperhatikan.

Mencari cara lain untuk mengelola stres dapat membantu, seperti berolahraga, berjalan santai, melakukan hobi, tidur cukup, atau berbicara dengan orang yang dipercaya. Jika perubahan pola makan terasa berat untuk dikendalikan atau disertai keluhan lain yang mengganggu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan yang tepat.

Makan lebih banyak saat stres bukan semata-mata karena seseorang tidak bisa mengendalikan diri. Perubahan hormon, kurang tidur, rutinitas yang berantakan, serta keinginan mendapatkan rasa nyaman dapat memengaruhi nafsu makan.

Pada akhirnya, memahami penyebabnya dapat membantu seseorang mencari cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan. Makanan tetap boleh dinikmati, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya cara untuk membuat diri merasa lebih baik ketika sedang menghadapi stres.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article