Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Saat Imlek Tidak Boleh Keramas? Ini Alasannya!

ilustrasi keramas
ilustrasi keramas (pexels.com/Karolina Grabowska)
Intinya sih...
  • Larangan keramas berakar dari simbol keberuntungan- Air dianggap membawa dan menghilangkan keberuntungan- Keramas dipandang sebagai aktivitas membuang hoki baru
  • Kata “rambut” dan “makmur” dalam Mandarin memiliki bunyi sama- Rambut diasosiasikan dengan simbol rezeki- Kesamaan pelafalan kata rambut dan makmur dalam bahasa Mandarin
  • Keyakinan terkait penghormatan unsur air- Hari pertama tahun baru dipercaya momen penghormatan dewa air- Larangan keramas untuk menjaga energi kehidupan yang harus dijaga kestabilannya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perayaan Tahun Baru Imlek selalu dipenuhi simbol, aturan, serta kebiasaan turun-temurun yang masih dipatuhi hingga kini, termasuk larangan tertentu yang sering menimbulkan rasa penasaran bagi banyak orang. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul setiap menjelang pergantian tahun ialah kenapa Imlek tidak boleh keramas, terutama pada hari pertama perayaan.

Tradisi tersebut tidak muncul tanpa sebab, karena berkaitan erat dengan makna simbolik, kepercayaan budaya, serta cara masyarakat Tionghoa memandang awal tahun sebagai titik penentu keberuntungan. Penjelasan lengkapnya sangat menarik untuk dipahami, lho. Yuk, simak bersama penjelasannya!

Table of Content

1. Larangan keramas berakar dari simbol keberuntungan

1. Larangan keramas berakar dari simbol keberuntungan

ilustrasi simbol keberuntungan
ilustrasi simbol keberuntungan (pexels.com/RDNE Stock project)

Larangan keramas pada hari pertama Imlek berakar dari kepercayaan bahwa awal tahun merupakan waktu masuknya rezeki baru, sehingga segala tindakan yang dianggap “membersihkan” tidak dianjurkan. Air dalam konteks ini dimaknai sebagai unsur yang dapat membawa sekaligus menghilangkan keberuntungan, karena sifatnya yang mengalir dan meluruhkan. Keramas kemudian dipersepsikan sebagai aktivitas yang secara simbolis membasuh hoki yang baru datang.

Kepercayaan tersebut berkembang sejak masyarakat agraris Tionghoa memandang tahun baru sebagai titik awal siklus kesejahteraan. Segala hal yang datang pada hari pertama diyakini perlu dipertahankan agar tidak hilang, termasuk rezeki, kesehatan, serta peluang baik. Aktivitas keramas dianggap bertentangan dengan prinsip tersebut karena secara simbolis identik dengan membuang sesuatu dari tubuh. Pemahaman ini membuat masyarakat lebih memilih menahan diri dari kegiatan yang bersifat mengurangi atau menghilangkan..

2. Kata “rambut” dan “makmur” dalam Mandarin memiliki bunyi sama

ilustrasi merayakan Imlek
ilustrasi merayakan Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Larangan keramas saat Imlek berkaitan langsung dengan kesamaan bunyi kata dalam bahasa Mandarin. Kata rambut ditulis 发 (fa), sedangkan kata yang berarti menjadi kaya atau makmur juga menggunakan bunyi yang sama dalam frasa 发财 (facai). Kesamaan pelafalan ini membuat rambut dipandang sebagai simbol rezeki dalam kepercayaan Tionghoa. Keramas pada hari pertama Imlek kemudian dimaknai sebagai tindakan membasuh keberuntungan karena air diasosiasikan sebagai unsur pembuangan. Kepercayaan tersebut berkembang dari hubungan linguistik antara bunyi kata dan makna simbolik yang sangat kuat dalam budaya Tionghoa.

Fenomena ini disebut homofon, yaitu ketika dua kata memiliki pelafalan sama tetapi arti berbeda. Budaya Tionghoa memanfaatkan homofon untuk membentuk berbagai simbol keberuntungan maupun pantangan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lain terlihat pada angka delapan yang disebut 八 (ba) karena pelafalannya mirip kata 发 (fa) dalam konteks kemakmuran, sehingga dianggap membawa hoki. Sebaliknya angka empat ditulis 四 (si), bunyinya menyerupai kata 死 (si) yang berarti mati, sehingga sering dihindari dalam budaya Tionghoa. Larangan keramas mengikuti prinsip yang sama karena rambut dikaitkan secara langsung dengan makna kemakmuran.

3. Keyakinan terkait penghormatan unsur air

ilustrasi air
ilustrasi air (pexels.com/Augustinus Martinus Noppé)

Larangan keramas saat Imlek juga berkaitan dengan kepercayaan mengenai unsur air dalam kepercayaan Tionghoa. Hari pertama dan kedua tahun baru dipercaya bertepatan dengan momen penghormatan terhadap dewa yang berkaitan dengan air, sehingga penggunaan air secara berlebihan dianggap tidak tepat. Air dalam filosofi Tionghoa dipandang sebagai simbol aliran rezeki, keberuntungan, serta energi kehidupan yang harus dijaga kestabilannya. Aktivitas seperti keramas dinilai berpotensi “membuang” energi baik yang baru datang pada awal tahun. Keyakinan tersebut membuat banyak keluarga memilih menunda keramas agar keberuntungan tidak dianggap ikut hanyut.

Tradisi itu juga berkaitan dengan kebiasaan persiapan sebelum malam pergantian tahun baru Imlek. Banyak orang justru melakukan keramas, mandi besar, serta pembersihan rumah pada malam sebelum Imlek sebagai simbol membuang kesialan. Hal ini menunjukkan bahwa larangan keramas bukan untuk menolak kebersihan, melainkan mengatur waktu penggunaannya agar sesuai makna yang selama ini mereka yakini. Prinsip tersebut sejalan dengan konsep keseimbangan energi dalam ajaran Taoisme yang menekankan harmoni antara tindakan manusia dan siklus alam. Praktik menunda keramas akhirnya dipahami sebagai bentuk menjaga stabilitas simbol keberuntungan pada hari pertama tahun baru.

Pantangan tersebut berkaitan langsung dengan cara masyarakat Tionghoa memaknai awal tahun sebagai titik penentu keberuntungan. Sehingga, setiap tindakan pada hari pertama dipilih secara hati-hati agar tidak dianggap mengganggu kemakmuran. Pemahaman tersebut membuat banyak keluarga tetap memilih menunda keramas sebagai bentuk menghormati tradisi leluhur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More

Imlek Harus Pakai Baju Warna Apa? Ini Rekomendasi dan Maknanya!

14 Feb 2026, 09:13 WIBMen