- Ciri-Ciri: Bersifat istanasentris (berpusat pada kehidupan istana/bangsawan), regiosentris (kaya akan unsur kedaerahan), banyak mengandung unsur mitos atau hal magis, serta belum menggunakan metode ilmiah yang ketat.
- Contoh: Kitab Negarakertagama, Babad Tanah Jawi, dan Hikayat Raja-Raja Pasai.
Mengenal 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah serta Contohnya

Historiografi mempelajari perkembangan penulisan sejarah; di Indonesia, bentuknya umumnya dibagi menjadi tradisional, kolonial, nasional, dan modern berdasarkan karakter zamannya.
Historiografi tradisional berpusat pada istana, unsur daerah, mitos, dan legitimasi raja; historiografi kolonial memakai perspektif Eropa serta cenderung mengabaikan sumber lokal.
Historiografi nasional menempatkan Indonesia sebagai subjek untuk menonjolkan perjuangan kebangsaan, sedangkan historiografi modern mengutamakan metode ilmiah, kritik sumber, dan pendekatan multidimensional.
Historiografi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan penulisan sejarah dari masa ke masa. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu historia yang berarti sejarah dan graphia yang berarti penulisan.
Berdasarkan pembagian penulisan sejarah di Indonesia umumnya dikategorikan ke dalam empat jenis utama berdasarkan ciri dan karakteristik zamannya. Berikut penjelasan lebih lanjut, simak sampai selesai!
Table of Content
1. Historiografi Tradisional

ilustrasi sejarah dunia (unsplash.com/AndrewNeel) Historiografi tradisional merupakan penulisan sejarah yang umumnya dilakukan oleh para sastrawan, pujangga keraton, atau bangsawan kerajaan. Karya pada masa ini tidak bertujuan mencari kebenaran historis melalui pembuktian fakta yang ketat, melainkan sebagai bentuk pengabdian dan legitimasi kekuasaan raja.
2. Historiografi Kolonial

ilustrasi sejarah (pexels.com/Mikhail Nilov) Jenis penulisan sejarah ini berkembang pada masa kolonial Belanda, mulai dari zaman VOC pada abad ke-17 hingga pemerintahan Hindia Belanda pada abad ke-20 M. Fokus utama dari penulisan ini adalah kehidupan warga Belanda dan bangsa Eropa di Nusantara.
- Ciri-Ciri: Menggunakan sudut pandang Neerdelandosentris atau Eropasentris, bersifat subjektif untuk memperkuat kedudukan kolonial, mengabaikan sumber lokal, serta cenderung diskriminatif terhadap rakyat pribumi.
- Contoh: History of Java karya Thomas Stamford Raffles dan Geschiedenis van den Indischen Archipel karya B.H.M. Vlekke.
3. Historiografi Nasional

ilustrasi candi borobudur di magelang (www.pexels.com/Mike van Schoonderwalt) Historiografi nasional adalah penulisan sejarah yang menempatkan bangsa Indonesia sebagai subjek utama. Model penulisan ini mulai berkembang pesat setelah Indonesia meraih kemerdekaannya pada Agustus 1945.
- Ciri-Ciri: Menggunakan sudut pandang Indonesiasentris (perspektif rakyat Indonesia), menonjolkan perjuangan pergerakan kebangsaan, dan bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme serta cinta tanah air.
- Contoh: 6000 Tahun Sang Merah Putih dan Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara karya Muhammad Yamin.
4. Historiografi Modern

Ilustrasi Kota Jakarta (https://unsplash.com/@javaistan) Historiografi modern merupakan penulisan sejarah yang disusun berdasarkan kaidah metode ilmiah serta analisis kritis terhadap berbagai sumber sejarah. Pendekatan ini lahir sebagai kritik terhadap penulisan sejarah tradisional maupun kolonial yang dinilai sarat kepentingan subjektif.
- Ciri-Ciri: Bersifat metodologis dengan menerapkan prinsip-prinsip penelitian sejarah secara ketat, menggunakan pendekatan multidimensional, serta melakukan kritik sumber secara eksternal maupun internal untuk memperoleh objektivitas.
- Contoh: Karya-karya sejarawan kritis seperti Pemberontakan Petani Banten 1888 karya Sartono Kartodirdjo.
Itulah jenis-jenis historiografi dalam sejarah beserta ciri dan contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat!



