Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos vs Fakta: Persiapan Finansial Ramadan Cuma Urusan Pria?

ilustrasi rencana finansial (pexels.com/kaboompics)
ilustrasi rencana finansial (pexels.com/kaboompics)
Intinya sih...
  • Mitos: nafkah berarti tanggung jawab pria
  • Fakta: manajemen keuangan butuh kolaborasi dua pihak
  • Mitos: perempuan hanya bagian belanja, bukan strategi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap memasuki Ramadan, kebutuhan rumah tangga otomatis meningkat. Pengeluaran untuk bahan makanan, zakat, sedekah, hingga persiapan Lebaran membuat arus kas jadi lebih dinamis dari biasanya. Di momen inilah perencanaan finansial benar-benar diuji.

Namun, masih ada anggapan bahwa urusan finansial Ramadan sepenuhnya tanggung jawab pria. Pola pikir ini sering diterima begitu saja tanpa dipertanyakan kembali. Padahal, dinamika rumah tangga modern sudah jauh berkembang dibanding masa lalu.

Table of Content

1. Mitos: nafkah berarti semua urusan uang hanya tanggung jawab pria

1. Mitos: nafkah berarti semua urusan uang hanya tanggung jawab pria

ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)
ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)

Banyak orang mengartikan nafkah sebagai kewajiban total dalam segala hal yang berkaitan dengan uang. Akibatnya, pria dianggap harus memikirkan pemasukan, pengeluaran, hingga strategi keuangan sendirian. Beban mental finansial pun menumpuk tanpa disadari.

Padahal, memberi nafkah tidak sama dengan mengelola semuanya tanpa dukungan. Manajemen keuangan adalah proses yang membutuhkan diskusi, evaluasi, dan perencanaan. Tanpa komunikasi dua arah, risiko salah keputusan justru semakin besar.

2. Fakta: manajemen keuangan butuh kolaborasi dua pihak

ilustrasi atur keuangan pribadi (pexels.com/pexels)
ilustrasi atur keuangan pribadi (pexels.com/pexels)

Mengatur keuangan Ramadan bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga soal mengalokasikannya secara bijak. Pengeluaran musiman sering kali muncul dari kebiasaan impulsif yang tidak direncanakan. Di sinilah pentingnya kerja sama dalam menentukan prioritas.

Ketika dua pihak berdiskusi tentang anggaran, keputusan menjadi lebih rasional. Target seperti zakat, sedekah, tabungan Lebaran, dan dana darurat bisa disusun dengan lebih realistis. Kolaborasi ini bukan melemahkan peran pria, justru memperkuat fondasi finansial keluarga.

3. Mitos: perempuan hanya bagian belanja, bukan strategi

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Ada stereotip bahwa perempuan hanya berperan sebagai pengelola pengeluaran harian. Anggapan ini sering meremehkan kemampuan analisis dan perencanaan yang sebenarnya dimiliki. Padahal, pihak yang paling dekat dengan pengeluaran rutin justru punya data paling detail.

Menganggap belanja hanya sebagai aktivitas konsumtif adalah kesalahan perspektif. Dari catatan belanja harian, pola pengeluaran bisa dianalisis dan dioptimalkan. Tanpa data ini, strategi keuangan sering kali hanya berdasarkan asumsi.

4. Fakta: transparansi finansial mencegah konflik

ilustrasi keluarga belanja
ilustrasi keluarga belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Banyak konflik rumah tangga bermula dari kurangnya keterbukaan soal uang. Ketika hanya satu pihak yang memahami kondisi finansial, ketidakseimbangan informasi mudah memicu kesalahpahaman. Situasi ini bisa semakin terasa saat kebutuhan Ramadan meningkat.

Dengan transparansi, kedua pihak memahami kondisi riil keuangan keluarga. Keputusan besar seperti belanja Lebaran atau pemberian THR bisa disepakati bersama. Hasilnya, tekanan finansial tidak dibebankan pada satu orang saja.

5. Mitos: jika sudah ada pencari nafkah, pasangan lain tidak perlu ikut pusing

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Anggapan ini terlihat sederhana dan praktis. Jika satu orang sudah menghasilkan uang, maka yang lain cukup fokus pada peran berbeda. Namun, pola pikir ini bisa berbahaya dalam jangka panjang.

Literasi finansial seharusnya dimiliki oleh semua anggota keluarga dewasa. Dalam kondisi darurat, setiap pihak perlu memahami arus kas dan kewajiban keuangan. Keterlibatan bersama menciptakan rasa aman dan saling percaya yang lebih kuat.

Persiapan finansial Ramadan bukan soal dominasi peran, tetapi soal kerja sama. Rumah tangga yang sehat dibangun dari komunikasi yang jujur dan sistem yang jelas. Beban yang dipikul bersama akan terasa jauh lebih ringan.

Ramadan adalah momen refleksi dan perbaikan, termasuk dalam mengelola uang. Daripada mempertahankan mitos lama, lebih bijak membangun pola pikir kolaboratif. Dengan begitu, Ramadan bisa dijalani dengan tenang tanpa tekanan finansial sepihak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More

Mitos vs Fakta: Persiapan Finansial Ramadan Cuma Urusan Pria?

19 Feb 2026, 05:04 WIBMen