7 Negara yang Melarang Perayaan Valentine, Kenapa?

- Rusia melarang Valentine karena dianggap sebagai fenomena asing yang tidak sehat, dan merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai penggantinya.
- Iran secara resmi melarang Valentine karena dianggap mempromosikan budaya Barat yang melegalkan hubungan di luar nikah, dengan hukuman bagi toko yang melanggar aturan.
- Malaysia dan Indonesia juga melarang Valentine karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dengan fatwa dari Dewan Fatwa Malaysia dan MUI.
Bagi sebagian pasangan, Valentine jadi hari yang sangat spesial dan dinantikan. Biasanya identik dengan dekorasi berwarna merah, buket bunga mawar, hingga ungkapan cinta. Namun, momen romantis ini tidak berlaku di semua tempat.
Beberapa negara membatasi hingga melarang valentine karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai budaya, norma agama, hingga ideologi negara yang dianut. Pelarangan ini biasanya mencakup razia terhadap atribut Valentine hingga pelarangan acara-acara bertema romansa. Berikut tujuh negara yang melarang Valentine.
1. Rusia

Sejak tahun 2011, provinsi Belgorod, Rusia, melarang perayaan Valentine. Alasannya karena Valentine dianggap sebagai fenomena asing yang tidak sehat. Kebijakan ini dibuat sebagai bentuk pengamanan rohani.
Sebagai gantinya, masyarakat Rusia akan merayakan Hari Perempuan Internasional setiap tanggal 8 Maret. Ini adalah cara mereka untuk menghormati, mencintai, dan menjaga hak-hak para wanita. Perayaannya pun hampir mirip dengan Valentine, yakni saling memberikan hadiah atau membantu kegiatan rumah tangga.
2. Iran

Iran punya aturan ketat terkait segala hal yang berbau budaya Barat, termasuk Valentine. Pemerintah menganggap perayaan ini sebagai bentuk mempromosikan budaya Barat yang melegalkan hubungan di luar nikah. Oleh sebab itu, Iran secara resmi melarang Valentine pada 2010.
Sudah lebih dari dua dekade pemerintah melarang produksi barang-barang yang berkaitan dengan Valentine. Bahkan di Kota Qom, toko-toko yang berani melanggar aturan akan dihukum dengan menutup toko selama enam hingga satu tahun lamanya. Meski begitu masih ada beberapa toko yang kerap melanggar peraturan tersebut.
3. Malaysia

Mayoritas penduduk Malaysia adalah beragama Islam. Valentine dianggap sebagai budaya negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, orang-orang yang merayakan Valentine sering dikritik oleh otoritas agama.
Selain itu, Dewan Fatwa Malaysia telah mengeluarkan fatwa pada 2005 yang menyatakan bahwa Valentine dilarang karena memiliki unsur-unsur Kristen. Berbagai cara pemerintah dan organisasi keagamaan lakukan untuk selalu mengingatkan masyarakat agar tidak merayakan Valentine.
4. Indonesia

Indonesia menjadi negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia sekitar 237 hingga 245 juta jiwa. Pemerintah memang tidak mengeluarkan hukum resmi yang melarang perayaan Valentine. Namun, MUI mengeluarkan fatwa Nomor 3 Tahun 2017 yang melarang umat Muslim untuk terlibat dalam perayaan Valentine. Sebab, Valentine bukan termasuk dalam tradisi Islam.
Beberapa pemerintah daerah di Indonesia juga turut mengeluarkan larangan merayakan Valentine, diantaranya pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Kotamadya Banda Aceh, Kabupaten Bogor, dan beberapa lainnya. Meski begitu, Valentine kerap dirayakan di kota besar seperti DKI Jakarta.
5. Pakistan

Pakistan juga melarang perayaan Valentine sejak 2017 lalu. Bahkan sempat terjadi perselisihan pendapat di antara mahasiswa dari dua universitas di Pakistan pada 2014 lalu. Hingga pada 2018, Pengadilan Tinggi Islamabad resmi melarang Hari Valentine di Pakistan.
Alasannya karena Valentine dianggap sebagai budaya Barat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Media dilarang meliput atau mengiklankan apa pun yang berkaitan dengan Valentine. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap merayakannya secara pribadi.
6. Korea Utara

Korea Utara dikenal sebagai negara yang menolak keras masuknya budaya Barat ke negara mereka. Alasannya karena pemerintah ingin menjaga kemurnian ideologi dan kemandirian nasional. Begitu juga dengan Hari Valentine yang sangat dilarang di negara tersebut.
Alih-alih merayakan kasih sayang pada 14 Februari, warga Korea Utara lebih diarahkan untuk merayakan hari lahir pemimpin atau tokoh nasional setiap tanggal 16 Februari. Pemerintah memastikan seluruh warga menunjukkan loyalitas melalui pengawasan ketat.
7. Arab Saudi

Sebagai negara yang menggunakan hukum Islam, Arab Saudi sudah pasti melarang Valentine. Sebab, perayaan ini bukan bagian dari tradisi Islam. Semua toko di Arab Saudi dilarang menjual barang-barang yang berkaitan dengan Valentine, seperti bunga mawar merah, kartu ucapan, hingga hadiah bertema kasih sayang.
Pemerintah biasanya menugaskan polisi untuk berpatroli, memastikan semua orang menjalankan kebijakan tersebut. Sementara untuk toko yang kedapatan melanggar akan ditutup sementara atau diberi didenda.
Larangan yang diberlakukan sejumlah negara dilakukan sebagai upaya untuk menjaga nilai-nilai yang mereka yakini benar. Meskipun bagi sebagian orang Valentine hanyalah tentang kasih sayang, bagi negara-negara di atas dianggap bisa berdampak pada budaya asli dan nilai agama.


















