Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Permainan Tradisional Jawa Barat yang Seru untuk Dicoba
Sekelompok siswa SD juga antusias mengikuti lomba gobak sodor yang jadi salah satu permainan tradisional yang ditampilkan dalam Festival Dolanan Bocah Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (Unnes). (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Tujuh permainan tradisional Jawa Barat seperti oray-orayan, cing ciripit, galah asin, hingga jajangkungan dimainkan secara interaktif, umumnya bersama teman dan dengan alat sederhana.
  • Setiap permainan melatih kemampuan berbeda, termasuk kekompakan, strategi, konsentrasi, reaksi cepat, ketepatan, kemampuan menebak, koordinasi tubuh, serta keseimbangan.
  • Di tengah dominasi gawai dan hiburan digital, mengenalkan permainan ini kepada anak dapat membantu menjaga budaya lokal sekaligus mendorong aktivitas fisik dan interaksi sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Permainan tradisional Jawa Barat merupakan bagian dari budaya yang sejak dulu dekat dengan kehidupan anak-anak di tanah Pasundan. Beragam permainan tersebut biasanya dilakukan secara berkelompok sehingga suasananya terasa ramai dan penuh interaksi. Tidak hanya menghibur, permainan tradisional juga dapat membantu anak belajar bekerja sama, berkonsentrasi, bergerak aktif, dan mengikuti aturan.

Namun, kehadiran gawai dan berbagai hiburan digital membuat permainan yang diwariskan secara turun-temurun ini semakin jarang dimainkan. Mengenalkan kembali permainan daerah kepada anak bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga keberadaan budaya lokal sekaligus mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih interaktif. Berikut tujuh permainan tradisional Jawa Barat yang bisa kamu kenalkan kepada anak dan dimainkan bersama teman-temannya.

1. Oray-orayan mengajarkan kekompakan lewat permainan berkelompok

Oray-orayan merupakan permainan khas Jawa Barat yang dimainkan oleh banyak orang secara berkelompok. Beberapa pemain berdiri berhadapan sambil mengangkat dan menyatukan kedua tangan sehingga membentuk sebuah gerbang. Sementara itu, pemain lainnya berbaris memanjang lalu melewati gerbang tersebut sambil menyanyikan lagu permainan.

Ketika lagu berakhir, gerbang akan diturunkan untuk menangkap salah satu pemain yang sedang melewatinya. Pemain yang tertangkap kemudian biasanya diminta memilih salah satu kelompok yang telah ditentukan oleh dua penjaga gerbang. Setelah semua pemain terbagi, kedua kelompok dapat saling beradu kekuatan dengan cara menarik anggota lawan hingga melewati batas yang disepakati.

2. Cing ciripit mengandalkan konsentrasi dan kecepatan reaksi

Cing ciripit termasuk permainan yang mudah dilakukan karena tidak membutuhkan alat khusus. Para pemain berkumpul membentuk lingkaran, kemudian salah satu orang membuka telapak tangannya sebagai tempat pemain lain meletakkan telunjuk. Setelah semua pemain siap, mereka menyanyikan lagu khas cing ciripit sambil mempertahankan posisi telunjuk masing-masing.

Menjelang lagu berakhir, setiap pemain harus segera mengangkat telunjuknya agar tidak tertangkap oleh telapak tangan yang terbuka. Pemain yang telunjuknya berhasil ditangkap dapat dianggap kalah atau mendapatkan giliran menjadi pemain tertentu sesuai aturan yang disepakati. Meski sederhana, permainan ini membuat anak belajar berkonsentrasi dan bereaksi cepat terhadap perubahan situasi.

3. Galah asin menguji strategi saat menerobos pertahanan lawan

Galah asin adalah permainan beregu yang membutuhkan tempat cukup luas untuk membuat garis-garis sebagai batas arena. Satu kelompok bertugas menjaga jalur permainan, sedangkan kelompok lainnya berusaha melewati area tersebut hingga mencapai garis akhir. Tim penjaga harus mencegah lawan melewati batas dengan menyentuh pemain yang sedang berusaha menerobos.

Agar dapat memenangkan permainan, anggota tim penyerang perlu menentukan strategi dan memperhatikan posisi para penjaga. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan karena celah untuk bergerak dapat tertutup sewaktu-waktu. Di sisi lain, kelompok penjaga juga harus berkoordinasi supaya setiap bagian arena tetap terpantau dan lawan tidak mudah lolos.

4. Sorodot gaplok membutuhkan ketepatan saat mengarahkan batu

Sorodot gaplok merupakan salah satu permainan tradisional Jawa Barat yang menggunakan batu sebagai media utama. Permainan ini dikenal sebagai aktivitas yang membutuhkan ketepatan karena pemain harus mengarahkan batu miliknya ke batu milik lawan. Setiap pemain perlu memperhitungkan posisi dan arah lemparan agar batu sasaran dapat bergerak sesuai tujuan permainan.

Cara bermainnya dilakukan dengan menempatkan batu pada bagian kaki, kemudian pemain mengarahkannya untuk mengenai batu lawan. Jika batu sasaran bergerak atau bergeser setelah terkena lemparan, pemain dapat memperoleh nilai atau dinyatakan unggul sesuai aturan yang digunakan. Kesederhanaan alat yang dipakai justru membuat sorodot gaplok menarik karena keseruannya sangat bergantung pada keterampilan dan ketepatan pemain.

5. Ucing sumput membuat aktivitas bersembunyi menjadi semakin seru

Dalam bahasa Sunda, ucing sumput merupakan sebutan untuk permainan petak umpet. Permainan ini melibatkan satu orang yang bertugas mencari, sementara pemain lainnya mencari tempat persembunyian sebelum pencarian dimulai. Penjaga kemudian harus menemukan pemain yang bersembunyi satu per satu dalam area yang telah disepakati.

Pemain yang tertangkap lebih dahulu biasanya akan mendapatkan giliran menjadi penjaga pada permainan berikutnya. Karena harus mencari tempat yang aman sekaligus menghindari penjaga, pemain perlu bergerak dengan cermat dan cepat. Aktivitas tersebut membuat ucing sumput tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong anak untuk aktif bergerak dan berinteraksi dengan teman.

6. Pacublak-cublak uang mengasah kemampuan menebak pemain lain

Pacublak-cublak uang dapat dimainkan bersama beberapa orang tanpa memerlukan perlengkapan yang rumit. Salah satu pemain berada dalam posisi membungkuk, sedangkan pemain lainnya meletakkan tangan di atas punggung pemain tersebut. Mereka kemudian menyanyikan lagu sambil mengoper sebuah benda kecil, seperti batu atau benda lain yang mudah disembunyikan di tangan.

Ketika lagu selesai, salah satu pemain akan menyimpan benda tersebut dan seluruh peserta kembali menempatkan tangan dalam posisi tertentu. Pemain yang membungkuk kemudian harus menebak siapa yang menyimpan benda tersebut. Permainan ini terasa menarik karena pemain perlu memperhatikan gerak teman-temannya sekaligus menggunakan kemampuan menebak untuk menemukan orang yang tepat.

7. Jajangkungan menantang keseimbangan dengan pijakan bambu

Jajangkungan merupakan permainan tradisional yang menggunakan bambu sebagai alat untuk membuat pemain berdiri lebih tinggi dari permukaan tanah. Kedua bambu tersebut digunakan sebagai pijakan sehingga pemain harus mengatur posisi tubuh agar tetap seimbang ketika berjalan. Karena membutuhkan keterampilan menjaga keseimbangan, permainan ini biasanya dilakukan di tempat yang aman dan sesuai dengan kemampuan pemain.

Nama jajangkungan berasal dari kata jangkung yang menggambarkan kondisi tubuh menjadi lebih tinggi ketika menggunakan alat tersebut. Pemain perlu belajar mengatur langkah secara perlahan sebelum mencoba bergerak lebih jauh menggunakan bambu. Selain menjadi hiburan, permainan ini dapat melatih koordinasi tubuh dan keseimbangan melalui aktivitas yang dilakukan secara langsung.

Ketujuh permainan tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional Jawa Barat memiliki bentuk dan cara bermain yang beragam. Ada permainan yang mengandalkan kekompakan kelompok, ketangkasan, konsentrasi, kreativitas, hingga keseimbangan tubuh. Mengenalkan permainan tersebut kepada anak dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga warisan budaya Jawa Barat tetap dikenal dan dimainkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article