RUANG// Luncurkan Jurnal Seni Kontemporer Asia Tenggara

- RUANG// meluncurkan RUANG// Journal, publikasi baru yang menyoroti praktik seni kontemporer Asia Tenggara sebagai respons terhadap perubahan teknologi, ekologi, dan sistem pengetahuan di kawasan.
- Edisi perdana jurnal ini menghadirkan delapan penulis dari lima negara yang membahas karya 25 seniman, menggali hubungan antara ekspansi industri, urbanisasi cepat, dan dampak lingkungan regional.
- RUANG// Journal diterbitkan gratis tanpa iklan, menampilkan esai lintas disiplin yang menghubungkan seni dengan riset ilmiah serta memperkuat wacana kuratorial dan ekosistem intelektual seni di Asia Tenggara.
Di tengah upaya pemerintah, ilmuwan, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk memahami berbagai kekuatan lingkungan dan teknologi yang akan membentuk masa depan, para seniman di Asia Tenggara telah lebih dahulu merespons perubahan tersebut melalui praktik kreatif mereka. Sebuah publikasi baru dari platform kuratorial independen RUANG// diluncurkan Sabtu (28/3/2026), menyoroti bagaimana praktik seni kontemporer semakin berkembang sebagai bentuk penyelidikan kritis terhadap infrastruktur, ekologi, dan sistem pengetahuan yang membentuk di kawasan ini. Publikasi tersebut diberi nama RUANG// Journal.
"RUANG// Journal merupakan platform baru yang didedikasikan untuk penulisan kritis tentang seni kontemporer di Asia Tenggara. Diterbitkan secara daring dan cetak, edisi perdananya menghadirkan delapan penulis dari lima negara yang mengkaji bagaimana para seniman di kawasan ini merespons tekanan yang saling berkelindan antara ekspansi teknologi, perubahan lingkungan, dan pergeseran bentuk-bentuk pengetahuan," ujar Natasha Doroshenko Murray, Founder of RUANG// and Editor-in-Chief of RUANG// Journal dalam keterangan resminya.
Table of Content
1. Membahas karya dari 25 seniman kontemporer

Dalam edisi ini, para kontributor membahas karya dari 25 seniman kontemporer, termasuk Marwa Arsanios, Tuan Andrew Nguyen, Yuki Kihara, Lisa Reihana, Brett Graham, Mata Aho Collective, Michel Tuffery, Yee I-Lann, dan Robert Zhao Renhui. Praktik mereka beragam, mulai dari kerja lapangan terkait lingkungan, eksperimen media spekulatif, hingga eksplorasi mengenai infrastruktur industri, teknologi pengawasan, dan pengetahuan ekologis masyarakat adat.
Natasha menegaskan, peluncuran jurnal ini hadir di tengah meningkatnya perhatian global terhadap kompleksitas sistem teknologi dan ekologi. Pada Februari 2026, sebuah konsorsium riset internasional mengumumkan inisiatif ilmiah besar untuk memetakan human exposome yakni akumulasi paparan lingkungan yang memengaruhi kehidupan manusia. Di saat yang sama, berbagai inisiatif seperti program Futures Literacy dari UNESCO juga berupaya membantu masyarakat memahami dan menavigasi masa depan yang semakin tidak pasti.
"Di Asia Tenggara sendiri, dinamika global ini terasa sangat nyata. Kawasan ini menjadi pusat produksi berbagai infrastruktur elektronik dunia, sekaligus menghadapi dampak lingkungan dari perkembangan industri tersebut. Urbanisasi yang cepat dan berkembangnya teknologi smart city berjalan berdampingan dengan ekologi pesisir yang rentan, sementara jalur-jalur ekstraksi historis masih terus membentuk jaringan logistik masa kini," kata Natasha.
2. RUANG// Journal hadir sebagai bentuk pengetahuan yang penting

Bagi banyak seniman di kawasan ini, kondisi tersebut bukan sekadar isu global yang jauh, melainkan bagian dari pengalaman sehari-hari yang turut membentuk praktik kreatif mereka.
“Di Asia Tenggara, para seniman sering bekerja langsung di dalam lingkungan yang ingin mereka pahami, mulai dari infrastruktur industri dan jaringan digital hingga hutan, garis pantai, dan sistem perkotaan. Praktik mereka menunjukkan bagaimana kondisi teknologi dan ekologi benar-benar dialami di lapangan. RUANG// Journal hadir untuk mendukung penulisan yang melihat penyelidikan artistik ini sebagai bentuk pengetahuan yang penting,” ujar Natasha.
3. Menampilkan berbagai pendekatan artistik yang melintasi batas antara seni, penelitian, dan penyelidikan kritis

Esai-esai dalam edisi perdana ini menampilkan berbagai pendekatan artistik yang melintasi batas antara seni, penelitian, dan penyelidikan kritis. Beberapa seniman bekerja bersama ilmuwan atau melakukan riset lingkungan secara langsung, sementara yang lain mengeksplorasi isu seperti teknologi pengawasan, sistem tenaga kerja, dan infrastruktur tropis melalui media eksperimental, narasi spekulatif, serta praktik lintas disiplin.
Kontributor edisi pertama RUANG// Journal meliputi Yu Ke Dong, Annabelle Tan Kai Lin, Kenneth Wong See Huat, Elena Wise, Jaron Lua Jie Long, Wenceslaus Mendes, Chiara Serpani, serta Victoria Hertel dan Isa Pengskul.
Diterbitkan secara gratis dan tanpa iklan, edisi perdana ini mencerminkan komitmen RUANG// untuk memperluas akses terhadap penulisan kritis sekaligus mendorong perkembangan wacana kuratorial di Asia Tenggara. Dengan mempertemukan penulis yang sedang berkembang maupun yang telah mapan, jurnal ini diharapkan dapat berkontribusi pada tumbuhnya ekosistem intelektual yang lebih kuat bagi seni kontemporer di kawasan.