Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Saat Panas Bumi Bertemu dengan Secangkir Kopi di Kamojang

Saat Panas Bumi Bertemu dengan Secangkir Kopi di Kamojang
ilustrasi kopi
Intinya Sih
  • Di Kamojang, Garut, panas bumi dimanfaatkan untuk mengeringkan biji kopi melalui Geothermal Coffee Process hasil kolaborasi petani lokal dan Pertamina Geothermal Energy (PGE).
  • Teknologi ini membantu petani menghadapi cuaca tak menentu dengan proses pengeringan yang lebih cepat, stabil, serta menjaga kualitas dan produktivitas biji kopi.
  • Inovasi tersebut diharapkan meningkatkan konsistensi kualitas kopi Kamojang sekaligus memperkuat peran energi terbarukan dalam industri kopi Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Secangkir kopi biasanya menyimpan cerita tentang tanah tempat ia tumbuh, tangan petani yang merawatnya, hingga proses panjang sebelum akhirnya diseduh. Di Kamojang, Garut, cerita itu kini bertambah dengan adanya panas bumi.

Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu ladang panas bumi terbesar di Indonesia, energi geotermal tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Panas alami dari dalam bumi juga mulai dimanfaatkan untuk membantu proses pengeringan biji kopi melalui Geothermal Coffee Process.

Table of Content

1. Hasil dari kolaborasi petani dan PGE

1. Hasil dari kolaborasi petani dan PGE

Seorang pria mengenakan seragam berwarna putih hijau menjelaskan tentang Geothermal Coffee Process di Kamojang sambil menunjuk poster informasi produk kopi.
Ilustrasi Geothermal Coffee Process di Kamojang. (Dok. Istimewa)

Store Manager Geofeine, Tri Sukarno Putra, mengatakan teknologi tersebut lahir dari kolaborasi antara petani kopi Kamojang dan Pertamina Geothermal Energy (PGE). Alih-alih sepenuhnya mengandalkan terik matahari, petani kini memiliki alternatif proses pengeringan yang lebih stabil.

“Selama ini pengeringan kopi sangat bergantung pada cuaca. Dengan pemanfaatan panas bumi, prosesnya bisa berlangsung lebih cepat dan lebih konsisten,” ujar Tri dalam keterangan resmi.

Bagi penikmat kopi, perubahan itu tidak hanya terasa pada proses produksi, tetapi juga pada karakter rasa di dalam cangkir. Kopi yang dikeringkan menggunakan panas bumi cenderung menghasilkan profil rasa yang lebih bersih (clean), dengan karakter buah (fruity) dan aroma bunga (floral) yang lebih menonjol.

2. Manfaat besar dirasakan para petani

Kopi tubruk.
ilustrasi kopi tubruk (magnific.com/jcomp)

Namun, manfaat terbesar justru dirasakan di hulu, yakni oleh para petani. Selama ini musim hujan menjadi tantangan tersendiri karena proses pengeringan dapat terhambat selama berhari-hari. Kondisi tersebut berisiko menurunkan kualitas biji kopi dan kerugian.

“Ketika cuaca tidak menentu, geothermal process membantu menjaga produktivitas. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada matahari untuk mengeringkan kopi,” kata Tri.

Dia menilai, pemanfaatan energi panas bumi membuka kemungkinan baru bagi industri kopi Indonesia, terutama di tengah perubahan iklim yang membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi.

Di sisi lain, muncul pula cerita baru yang menyertai secangkir kopi asal Kamojang. Bukan hanya soal asal-usul bijinya, tetapi juga bagaimana energi terbarukan ikut berperan dalam setiap prosesnya.

3. Demi peningkatan produktivitas kopi di Kamojang

ilustrasi kopi tubruk gula aren
ilustrasi kopi tubruk gula aren (pexels.com/NADER AYMAN)

Tri menegaskan, tujuan utama pengembangan Geothermal Coffee Process bukan semata menghadirkan sesuatu yang berbeda. Tujuannya adalah menciptakan proses produksi yang mampu membantu petani menghasilkan kopi dengan kualitas yang lebih konsisten.

“Harapannya produktivitas petani Kamojang terus meningkat dan kopi dari daerah ini bisa semakin dikenal karena kualitasnya,” ujarnya.

Ke depan, harapannya kolaborasi antara PGE dan petani kopi dapat terus berlanjut sehingga pemanfaatan panas bumi tidak berhenti sebagai sebuah inovasi, tetapi berkembang menjadi praktik yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah panas bumi.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan

Related Articles